Purbakala

Mengapa Manusia Purba Itu Banyak yang Tinggal di Tepi Sungai?

Mengapa manusia purba itu banyak yang tinggal di tepi sungai merupakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan banyak orang. Hal ini disebabkan banyakmya pemukiman kuno yang berada di tepian sungai. Sekalipun ada pemukiman yang ditemukan di pedalaman, pasti pemukiman tersebut tetap gak jauh dari aliran sungai. Kenapa begitu, ya?

Pasti teman cerita udah gak asing juga dengan lirik lagu: “nenek moyangku seorang pelaut~”. Nah, lirik ini ada sedikit hubungannya nih dengan kebiasaan manusia purba yang memilih tinggal di tepi sungai. Kira-kira, apa ya hubungannya?

Baca juga: Sejarah manusia prasejarah di Nusantara.

Beberapa Alasan Mengapa Manusia Purba itu Banyak yang Tinggal di Tepi Sungai

Ilustrasi Sungai sebagai Jalan Raya Sumber: solopos.com

Pada zaman dahulu, wilayah perairan seperti sungai, danau, laut merupakan prasarana yang paling efektif untuk mobilitas manusia. Berbeda dengan berjalan di daratan, perjalanan melalui perairan akan lebih memangkas waktu dan tenaga. Manusia bisa berpindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya melalui perahu atau rakit yang mereka buat.

Ibaratnya gini deh, teman cerita lagi nyari rumah nih, pasti teman cerita akan memilih hunian di tempat yang strategis dan memiliki akses yang dekat dengan jalan raya, tol, bandara, ataupun pelabuhan. Nah perumpamaannya kurang lebih sama dengan keputusan manusia purba untuk tinggal di tepian sungai. Tepian sungai merupakan wilayah yang strategis dan dekat dengan akses “jalan raya” di masa lampau.

Sungai sebagai Penunjang Kehidupan

Ilustrasi Sungai Penunjang Kehidupan
Sumber: gagasanRiau.com

Selain berfungsi sebagai “jalan raya”, sungai juga dapat membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satunya kebutuhan pangan. Sungai merupakan habitat bagi hewan-hewan seperti ikan, kerang dan kepiting yang dapat diolah untuk dimakan. Hal ini membuat manusia yang tinggal di tepian sungai hampir pasti akan selalu dapat memenuhi kebutuhan pangannya. Sungai juga menyediakan air bersih yang dapat diminum, atau digunakan untuk membersihkan sesuatu.

Baca juga: Ketahui Makanan Kesukaan Manusia Purba lewat Karies pada Gigi Manusia Purba

Mengapa Manusia Purba Itu Banyak yang Tinggal di Tepi Sungai Dikaitkan dengan Bangsa Pelaut

Ilustrasi Nenek Moyang Bangsa Pelaut Sumber: kompasiana.com

Hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli genetika pada tahun 2019 menyebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki leluhur yang mayoritas berasal dari Afrika. Lebih lanjut, dijabarkan bahwa nenek moyang Indonesia pada masa lalu datang melalui empat gelombang migrasi.

Gelombang pertama datang dari Afrika sekitar 50.000 tahun yang lalu. Gelombang kedua datang dari asia daratan sekitar 4.300-4.100 tahun yang lalu. Gelombang ketiga datang sekitar 4.000 tahun yang lalu. Gelombang keempat adalah perpindahan manusia modern pada masa sejarah.

Baca juga: Gelombang Migrasi Kuno dan Terdapatnya DNA Neandertal Pada Manusia Indonesia Modern

Kelompok-kelompok migrasi tersebut tidak muncul begitu saja di daratan Indonesia, namun bermigrasi melalui wilayah perairan. Maka dari itu, muncullah istilah “nenek moyangku seorang pelaut”. Karena nenek moyang bangsa kita dahulu datang dari pulau yang jauh disana, menyusuri lautan, hingga akhirnya beranak-pinak menjadi bangsa Indonesia.

Mereka datang menggunakan kapal. Pada zaman dahulu, kapal merupakan alat transportasi tercanggih yang dapat dibuat oleh manusia. Kemampuan membuat kapal dan berlayar menggunakannya, membuat manusia handal dalam menaklukan wilayah perairan. Maka dari itu, banyak manusia purba yang akhirnya memilih untuk tinggal di dekat wilayah perairan termasuk tepian sungai.

Hasrat untuk Mengeksplor

Ilustrasi Eksplorasi Sungai Sumber: ublik.id

Salah satu penelitian arkeologi yang dilakukan di daerah aliran sungai Batanghari mengungkapkan bahwa temuan arkeologi yang berada di daerah hilir lebih tua dibandingkan wilayah hulu. Hal ini menandakan bahwa proses migrasi yang terjadi di Indonesia diawali dengan kedatangan bangsa-bangsa luar melalui laut, lalu masuk ke pedalaman melalui hilir-hilir sungai hingga ke hulu.

Tentunya proses perjalanan dari laut ke hulu tidak berlangsung dalam sekejap mata. Kapal-kapal yang datang dari wilayah laut, pasti membutuhkan waktu untuk beristirahat dulu di pesisir dan menyusun persiapan untuk perjalanan selanjutnya ke pedalaman. Dengan demikian, mereka berdiam dulu selama rentang waktu tertentu, bermukim, dan membuat perahu yang lebih kecil jika diperlukan.

Begitupun saat menyusuri bagian hilir hingga ke hulu. Pasti akan ada kelompok-kelompok yang memilih untuk tinggal sejenak di tepian sebelum kembali melanjutkan perjalanan, atau ada juga yang memutuskan untuk bermukim dan melangsungkan kehidupan di tempatnya singgah.

Mereka yang memilih untuk pergi sampai ke hulu berkemungkinan memiliki hasrat untuk mengeskplor sungai lebih jauh, sedangkan mereka yang tinggal di tepian-tepian sebelum mencapai ke hulu, berkemungkinan memiliki hasrat untuk mengeskplor daratan yang kini mereka pijaki.

Begitulah alasan mengapa manusia purba itu banyak yang tinggal di tepi sungai. Selain sebagai lokasi yang strategis untuk mobilisasi, sungai juga dapat menjadi lokasi dimana manusia bersosial, menglangsungkan kegiatan ekonomi, hingga berpolitik.

Baca juga: Berkenalan dengan Ali Akbar Arkeolog Indonesia yang menggali Situs Gunung Padang, Jawa Barat!

Ide Nada

Ide Nada adalah seorang lulusan arkeologi yang memiliki ketertarikan dengan langit dan kebudayaan

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

3 hari Lalu