Bangunan Candi Hindu-Buddha di Indonesia: Pemaknaan

Teman cerita, Apakah kalian sudah pernah berkunjung ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur? Pasti pernah, dong. Kedua candi itu merupakan objek wisata di Indonesia yang paling banyak dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Namun, sebelum menjadi objek wisata seperti sekarang, kira-kira apa fungsi bangunan candi di masa lalu, ya?

Terkait bangunan candi, ada beberapa pendapat keliru yang beredar di masyarakat. Ada yang menganggap bahwa masyarakat membangun candi dalam rangka pemujaan berhala dan sebaiknya dihancurkan saja. Pendapat lainnya, candi didirikan oleh orang kaya dan kegunaanya hanya untuk kalangan mereka saja. Kemudian yang paling kontroversial adalah adanya pendapat bahwa Raja Sulaiman-lah yang membangun Candi Borobudur. 

Dari ketiga pendapat tersebut, kita tahu bahwa ada kekeliruan informasi yang beredar di masyarakat. Kali ini skalacerita akan menceritakan sedikit mengenai makna bangunan candi untuk teman cerita.

Pemaknaan Secara Umum Bangunan Candi

Teman cerita, banyak orang yang menganggap candi adalah sebuah bangunan dari kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Tentu itu tidak salah. Namun, candi-candi yang sekarang kita lihat memerlukan proses yang panjang sampai menjadi bangunan utuh kembali. Proses tersebut berupa penelitian, penggalian arkeologis, rekonstruksi, dan pemugaran. 

Beberapa bangunan candi memiliki catatan pembangunan dan fungsinya yang tertuang dalam sebuah prasasti. Bahkan, ada prasasti yang menyebutkan tujuan dan waktu pendirian candi.

bangunan-cand-prasasti-kelurak

Sebut saja prasasti Kelurak (704 Śaka) yang isinya memperingati pendirian bangunan suci dan arca Manjusri, serta menyerukan penghormatan kepada Triratna oleh pendeta Kumaraghosa dari Gaudidwīpa.

Ada juga Prasasti Mañjusrigrha (714 Śaka) yang menyebutkan adanya penyempurnaan prasada bernama wajrāsana Mañjusrigrha yang berarti rumah bagi Mañjusri sebagai salah satu Bodhisattva dalam ajaran Buddha Mahayana. Keberadaannya terkait dengan percandian Sewu dan Lumbung di Jawa Tengah. Namun, istilah candi sebenarnya memiliki makna mendalam dengan fungsi utama yang khas dalam proses pembangunan dan kegunaannya

Bangunan Candi sebagai Makam

Setelah banyaknya laporan mengenai tinggalan berupa bangunan terbuat dari batu yang hancur berserakan di tanah, usaha penelitian dan penggalian di situs Hindu Buddha banyak dilakukan. Serangkaian penyelidikan di beberapa situs Hindu-Buddha menemukan adanya tinggalan abu bekas sisa pembakaran.

Penyelidikan oleh Groneman di percandian Ijo dan Yjerman pada peripih gugusan candi Prambanan memberikan keterangan adanya tinggalan abu sisa pembakaran dan abu di dalam peripih yang terletak di dalam ruang candi. Berdasarkan penyelidikan, adanya abu di dalam bangunan memberikan dugaan bahwa itu adalah abu jenazah.

Para sarjana Belanda juga tetap mencari bukti-bukti lain dengan menilik dari beberapa istilah yang terdapat di dalam naskah seperti Pararaton dan Nagarakrtagama. Dalam kedua naskah tersebut menyebutkan istilah ‘dharma’, ‘sudharmma’, dan ‘dhinarmanya’ yang berkaitan dengan raja dan pendharmaan bagi raja.

Kern dan Groeneveld kemudian mengaitkan istilah tersebut dengan adanya sumber arca yang ditemukan di sekitar candi-candi Jawa Timur serta tradisi mendirikan arca untuk mengabadikan seorang raja sesuai dengan dewa yang dipuja dengan raut dan rupa sang raja.

Dengan adanya arca yang membawa identitas kedewaaan, N.J. Krom berpendapat bahwa ada dua fungsi dalam pembangunan candi. Pertama sebagai kuil pemujaan dan bangunan pemakaman bagi tokoh raja yang kemudian didharmakan dalam bentuk arca perwujudan sesuai dewa pujaannya.

Candi sebagai Bangunan Suci

Prof. R. Soekmono dalam disertasinya tahun 1974 yang berjudul, “Candi: Fungsi dan Pengertiannya” merupakan arkeolog Indonesia pertama yang mengemukakan candi sebagai bangunan suci. Beliau memiliki banyak kesangsian mengenai bukti-bukti candi sebagai makam dan berpendapat bahwa candi merupakan bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Temuan-temuan di sekitar bangunan candi tidak dapat membuktikan candi sebagai makam. Sementara itu, candi sebagai bangunan suci didukung oleh adanya beberapa prasasti yang menyebutkan pembangunan kuil-kuil pemujaan bagi dewa-dewi tertentu.

prasasti-kalasan
D. 141 Prasasti Kalasan (sumber: Museum Nasional)

Prasasti Kalasan yang berangka tahun 700 Śaka menyebutkan Tarabhavanam sebagai kuil pemujaan bagi Dewi Tara beserta arca untuk ditahtakan dalam kuil tersebut. Prasasti ini juga menyebutkan adanya pembangunan tempat tinggal bagi para Sangha berupa desa Kalasa dari raja.

bangunan-candi-sewu
Candi Sewu sebagai rumah bagi Bodhisattva Mañjusri (dokumentasi pribadi)

Dua Prasasti lainnya yakni Prasasti Mañjusrigrha yang merujuk pada Candi Sewu ditujukan bagi Bodhisattva Mañjusri dan Prasasti Śivagrha yang merujuk gugusan candi Prambanan sebagai rumah bagi Dewa Śiva. Selain itu, keberadaan arca pada relung-relung candi yang memancarkan sifat keagamaan Hindu maupun Buddha juga memberikan informasi bahwa keberadaan candi sebagai bangunan suci yang berfungsi untuk kuil pemujaan.

Baca juga: Sejarah Candi Prambanan yang Pernah Diruntuhkan Waktu

Para Pembangun Candi

Pendirian bangunan pastinya memiliki aturannya sendiri. Begitu pula dengan pembangunan candi. Pembangunannya mengikuti kaidah dan aturan pembangunan kuil India yang bersumber dari teks Vasusastra, salah satunya kitab Manasara-Silpasastra. Menilik candi sebagai bangunan suci, maka tempat berdirinya candi haruslah sebagai tempat yang suci dan juga pada lahan di sekitarnya.

Dalam berbagai kitab Vasusastra, tanah yang cocok sebagai tempat berdirinya suatu kuil adalah tanah yang terisi dengan air selama satu malam masih menyisakan setengah airnya di keesokan hari. Hal ini merupakan suatu pertanda bahwa tanah tersebut tidak terlalu gembur namun tidak juga terlalu keras. Selain itu, lahan harus dekat dengan sumber air sebagai media pembasuhan dan pembersihan diri ketika akan melangsungkan upacara peribadatan.

Dalam pembangunan candi terdapat beberapa ahli yang bertugas menentukan tempat dan letak candi, membuat perencanaan, hingga mendirikan candi. Ahli pembangunan candi tersebut, yaitu:

  1. Sthapaka sebagai arsitek pendeta yang harus berasal dari golongan kaum Brahmanan. Mereka bertugas menentukan letak candi pada suatu halaman/lahan yang telah dianggap suci.
  2. Sthapati sebagai arsitek perencana yang bertugas merancang bentuk dan bangunan serta memegang peranan utama dalam pembangunan.
  3. Stutragrahin adalah pelaksana teknis dalam pengerjaan pendirian bangunan,
  4. TakŚaka sebagai ahli dalam urusan pahat.
  5. Vardhakin adalah ahli urusan seni

TakŚaka nantinya akan bekerja sama dengan Vardhakin dalam bagian seni untuk bangunan candi.

Baca juga: Beginilah Candi Dibangun dan Batu Candi Saling Direkatkan!

Pemaknaan Bangunan Candi pada Masa Kini

Candi pada masa kini memang tidak lagi memiliki fungsi yang sama seperti di masa lalu.  Meskipun masih ada candi yang berfungsi sebagai tempat menjalankan ritual keagamaan pada hari-hari besar keagamaan. Akan tetapi, pemaknaan candi sebagai bangunan istimewa karya leluhur dari masa lalu sudah seharusnya memberikan kesadaran akan nilai sejarah dan nilai religius yang masih melekat pada bangunan candi.

Jika teman cerita sedang berkunjung ke candi, selain asyik mengambil gambar jangan lupa juga untuk menikmati karya leluhur yang tiada duanya itu, ya. Ada banyak yang bisa kita pelajari seperti nilai etika, moral, dan aspek religius ajaran Hindu dan Buddha yang terbalut dalam kemegahan dan keindahan bangunan candinya.

Baca juga: Lima Rekomendasi Situs Arkeologi di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Versi Skala Cerita!

Referensi

  1. Acharya, Prasanna Kumar. 1993. Indian Architecture: according to Mānasāra-Silpaśāstra. Volume I, IV. Oxford University Press
  2. Boechari. 1974. Candi dan Lingkungannya. Jakarta: Dimuat dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 1977 di Cibulan.
  3. __________. 2012. Melacak Sejarah Kuna Indonesia Lewat Data Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  4. Santiko, Hariani. 1995. Seni Bangunan Sakral Masa Hindu-Buddha di Indonesia (Abad VIII-XV Masehi): Analisis Arsitektur dan Makna Simbolik. Pidato pada upacara pengukuhan Guru Besar Madya Tetap pada FSUI. Depok, 9 Desember 1995.
  5. Soekmono, R. 1974. Candi: Fungsi dan Pengertiannya. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia-Disertasi.
Yohan Marshel

Yohan Marshel

Seorang lulusan arkeologi yang hidup untuk belajar mencintai masa lalu

Artikel Lainnya