You are currently viewing Teknologi Bangunan Tradisional Tahan Gempa di Indonesia

Teknologi Bangunan Tradisional Tahan Gempa di Indonesia

Secara geografis, deretan pegunungan cincin api dan empat lempeng tektonik yang menghimpit Indonesia menjadikannya sebagai zona rawan gempa. Kondisi alam seperti ini menuntut manusia di Indonesia untuk beradaptasi demi bertahan hidup.

Hebatnya, nenek moyang kita di masa lalu telah menunjukkan upaya adaptasi yang luar biasa. Upaya adaptasi ini salah satunya dapat terlihat dari teknologi bangunan tradisional warisan turun temurun yang ternyata telah memenuhi kriteria bangunan tahan gempa.

Baca Juga: Rel Gerigi: Cara Belanda Akali Topografi Alam Indonesia

Lalu, bagaimana penerapan teknologi itu sebenarnya? Simak artikel ini selengkapnya.

Apa itu Bangunan Tahan Gempa?

Bangunan tahan gempa adalah konstruksi bangunan yang mampu meredam dan menyalurkan getaran gempa untuk bertahan dari keruntuhan. Sistem konstruksi semacam ini adalah bagian dari upaya manusia untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda akibat guncangan gempa.

Secara teknis, ada 3 poin penting yang menjadi perhatian utama dari sebuah bangunan yang gempa. Pertama, denah bangunan harus berbentuk simetris dan sederhana. Denah simetris memiliki kekuatan bangunan yang merata, denah dengan model ini terbukti lebih efektif untuk bertahan dari guncangan gempa.

Kedua, material konstruksi bangunan dari pondasi hingga atap harus proporsional. Struktur pondasi sebagai penopang tersusun atas material yang kuat dan mampu menahan beban, sementara struktur badan hingga atap menggunakan material yang fleksibel dan ringan agar tidak membebani pondasi secara berlebihan.

Terakhir, sistem sambungan antar struktur (pondasi, susunan rangka, dan kuda-kuda atap) harus memiliki respon yang baik terhadap getaran. Respon yang baik terlihat dari fleksibilitas konstruksi untuk meredam getaran dan membagi beban getaran ke seluruh bagian konstruksi bangunan.

Bangunan Tradisional Tahan Gempa di Indonesia

Sederet bangunan tradisional Indonesia yang secara ilmiah terbukti responsif terhadap gempa umumnya terletak di zona rawan gempa. Beberapa di antaranya adalah Rumoh Aceh, Rumah gadang, Rumah Joglo, Rumah Woloan, Rumah Suku Basemah, dll.

Pada konstruksi bangunan, pondasi bangunan-bangunan tradisional yang memenuhi spesifikasi tahan gempa didominasi oleh pondasi umpak. Umpak-umpak ini menopang tiang-tiang kayu beserta badan dan atap bangunan sehingga membentuk konstruksi rumah panggung.

Model pondasi melayang dari struktur rumah panggung ini terbukti responsif terhadap getaran gempa. Gaya guncang gempa tidak langsung berpengaruh terhadap badan bangunan, melainkan merambat di bawah kolong bangunan. Alhasil, bangunan hanya akan bergoyang mengikuti guncangan gempa.

Sementara dari segi bahan, mayoritas struktur bangunan menggunakan kayu, terutama bagian badan hingga kuda-kuda atap. Selain ringan, kayu juga memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup baik ketimbang bahan lain. Fleksibilitas bahan ini berpengaruh sebagai peredam guncangan gempa.

Kendati demikian, pemilihan jenis kayu menjadi catatan penting dalam hal tersebut. Kayu-kayu berat  menjadi penyusun struktur bagian bawah untuk menopang beban bangunan. Sementara pada struktur badan dan atap menggunakan jenis kayu yang ringan agar mengurangi beban bangunan.

Selain itu, fleksibilitas bangunan juga tampak pada sambungan antar elemen. Biasanya, sambungan ini menggunakan simpul tali atau pasak pengunci. Hebatnya, teknologi bangunan-bangunan tradisional cukup jeli untuk hal ini sehingga dapat meminimalisir dampak guncangan.

Sebagai contoh, Rumah Gadang Sumatera Barat menggunakan sistem pasak pada sambungan strukturnya. Pasak tersebut dimasukkan ke dalam lubang untuk mengunci setiap sambungan. Sistem ini memiliki fleksibilitas yang baik untuk membagi gelombang getaran ke seluruh bangunan.

Meskipun sederhana, namun teknologi turun temurun ini terbukti efektif meminimalisir dampak gempa. Jauh sebelum teknologi modern berkembang, masyarakat tradisional indonesia telah melalui fase percobaan (trial and error) untuk hidup berdampingan dengan alam.

Tinggalkan Balasan