Batik Banyumas: Ekspresi Wastra Masyarakat Banyumas

Teman cerita, apakah ada yang orang Banyumas? Nah, kalau di antara kamu ada yang orang Banyumas, pasti tahu dong dengan Kebudayaan Banyumasan. Salah satu jenis Kebudayaan Banyumasan adalah Batik Banyumas. Kira-kira bedanya apa ya Batik Banyumas dengan batik dari daerah lainnya. Penasaran? Simak ceritanya, ya!

Asal Mula Banyumas

Teman cerita, Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Brebes, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan Cilacap.
Kabupaten yang terkenal dengan bahasa ngapaknya ini memiliki dua versi terkait asal usulnya. Versi pertama menyebutkan bahwa Banyumas sudah ada sejak abad ke-16 Masehi, dan versi kedua menyebutkan bahwa Banyumas baru muncul pada abad ke-19 Masehi.

Asal mula Banyumas menurut versi pertama berkaitan erat dengan Kesultanan Pajang masa Sultan Hadiwijaya. Purwanto dalam jurnalnya yang berjudul Ekspresi Egaliter, Motif Batik Banyumas, menyebutkan bahwa terjadi konflik antara Sultan Hadiwijaya dengan Adipati Wirasaba ke VI di Lowana. Konflik ini menimbulkan peristiwa pembunuhan di Desa bener, Kecamatan Lowana (Purwareja). Karena Sultan Hadiwijaya merasa menyesal, beliau pun mengangkat menantu Adipati Wirasaba VII yaitu R. Djoko Kahiman sebagai bupati Banyumas.

rumah residen banyumas
Rumah Residen Banyumas (sumber: tropenmuseum.nl)

Versi kedua menyebutkan bahwa Banyumas baru ada ketika dibentuknya Karesidenan Banyumas pada masa Kolonial Belanda. Karesidenan ini mencakup wilayah Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara. Residen pertamanya adalah De Sturler yang diangkat pada 1 November 1830.

Menurutmu mana yang lebih banyak diterima masyarakat terkait kelahiran Banyumas?

Ternyata versi pertama lah yang banyak dipercaya. Hal ini diketahui dari keluarnya Peraturan Daerah No. 2 Tahun 1990 yang berisi penetapan Kabupaten Banyumas yang berdiri pada tahun 1582. Tepatnya pada hari Jumat Kliwon tanggal 6 April 1582. Bupati Pertamanya adalah R. Djoko Kahiman dengan sebutan Adipati Marapat yang menjabat pada 1582-1583.

Kebudayaan Banyumasan

Teman cerita, apakah kamu tahu apa yang disebut dengan Kebudayaan Banyumasan?

Kebudayaan Banyumasan merupakan penyebutan untuk kebudayaan yang berasal dari Banyumas. Kebudayaan ini sangat berbeda dengan kebudayaan dari wilayah di Jawa Tengah lainnya. Mereka bahkan memiliki bahasa sendiri yang disebut bahasa Banyumasan. Dialeknya sangat berbeda dengan standar bahasa Jawa yang disebut dialek Mataraman. Biasanya orang-orang mengenalnya dengan bahasa ngapak.

Jenis kesenian Banyumas juga sangat banyak. Dari segi pertunjukan, terdapat Wayang Kulit Gagrag Banyumas, dan Begalan. Kesenian musiknya ada Calung, Kenthongan, Salawatan Jawa, dan Bongkel. Seni tarinya kita mengenal tari lengger, sintren, aksimuda, dan lain-lain. Dari seni kerajinannya ada Batik Banyumas.

Nah, terkait asal usul batik Banyumas harus kita tarik ke abad 17. Nian S. Djoemena dalam bukunya Batik and its Kind menyebutkan bahwa kebudayaan membatik di Banyumas dibawa oleh para pengungsi dari Solo ketika Kerajaan Mataram terjadi perang saudara. Pada 1680, Pangeran Puger atau yang kita kenal sebagai Paku Buwana I lari ke arah barat di sekitar Banyumas karena terdesak oleh Amangkurat II dan VOC Belanda.

Ada juga yang menyebutkan bahwa batik mulai berkembang ketika Pangeran Diponegoro sedang melakukan pelarian di daerah Banyumas ketika perang. Salah satu pengikutnya yang Bernama Narendra kemudian mengajarkan cara membatik kepada masyarakat sekitar. Sejak saat itulah kebudayaan Batik di Banyumas berkembang.

Baca juga: Tahukah kalian kalau kain jarik adalah sebutan untuk semua kain panjang yang bermotif batik?

Selain asal mula wilayah Banyumas, asal mula dari Batik Banyumas pun memiliki banyak versi, ya.

Siapa Pembuat Batik Banyumas?

Jika teman cerita sudah pernah membaca artikel skalacerita tentang batik, pasti sudah tahu kalau batik terbagi menjadi dua yaitu batik pedalaman dan batik pesisiran. Nah, Batik Banyumas ini masuk ke dalam kategori batik pedalaman. Batiknya memiliki corak Solo-Yogyakarta.

Baca juga: Dimana saja daerah penghasil batik di Indonesia?

Jika bertanya mengenai siapa yang membuat batik, maka pembuatnya terbagi menjadi dua golongan. Batik tulis biasanya dibuat oleh kaum bangsawan untuk kepentingan sendiri. Salah satu keluarga bangsawan yang membuat batik adalah keluarga Pangeran Aria Gandasubrata, Bupati Banyumas pada tahun 1913-1933. Beliau telah menciptakan beberapa motif batik, salah satunya adalah parang ganda suli seling madu bronto. Motif ini beliau ciptakan khusus untuk keturunannya.

batik banyumas
Batik motif Parang Gandasuli Seling Madu Bronto.(sumber: Djoemena, N. S: 1990)

Batik tulis untuk bangsawan, kalau untuk masyarakat umum?

Selain batik tulis, kita juga mengenal batik cap. Batik jenis ini lah yang diperuntukkan untuk masyarakat umum. Produksinya dilakukan secara besar-besaran karena untuk dijual bebas. Batik jenis ini dibuat oleh juragan-juragan keturunan Arab seperti H. Rasidi dan juragan Tionghoa seperti Kho Sian Kie.

batik cap banyumas
Batik Cap Banyumas (Sumber: Djoemena, N. S: 1990)

Ciri Khas Batik Banyumas

Tadi sudah tahu kan kalau Batik Banyumas termasuk batik pedalaman dan dipengaruhi oleh Solo-Yogyakarta yang terkenal dengan warna sogannya. Warna sogan pada Batik Banyumas biasanya berupa coklat agak kuning kemerahan dengan warna latar bernuansa lebih muda.

Masyarakat Banyumas juga mengenal istilah batik Jonasan. Batik ini merupakan adaptasi dari pembatik asing bernama Jonas yang dulu pernah tinggal di Solo pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Ciri khasnya adalah warna sogan yang agak merah kekuningan, mirip dengan sogan karya Go Tik Swan pencipta Batik Indonesia saat ini.

Motif batik Jonasan lebih banyak berupa non-geometris, seperti pohon, bunga, kupu-kupu, dan sebagainya. Bentuk motifnya berpinggir merah dan berpinggir hitam yang dikenal dengan bun merah dan bun hitam. Warna dasarnya keputih-putihan atau putih kecoklatan sedangkan warna motifnya adalah coklat dan hitam.

Tiga Motif Batik Banyumas

Batik Banyumas yang terkenal dengan lugasnya ini memiliki banyak variasi motif, seperti sida mukti, sida luhur, babon angrem, gemek setekem, rujak sente, serayuan, merakan, godhong kosong, dan lain-lain. Nama motif batik yang digunakan biasanya memiliki keterkaitan dengan benda yang dimaksud seperti jahe serimpang dengan jahe, motif serayuan dengan sungai Serayu, dan ayam puger  dengan ayam serta pangeran Puger.

  1. Jahe serimpang
    Motif ini terinsipirasi dari tanaman jahe yang dibelah menjadi dua. Jika kamu perhatikan, motif ini juga mirip telapak tangan manusia. Makna motif ini adalah kita sebagai makhluk sosial harus selalu tolong menolong dan bergotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, masyarakat Banyumas juga selalu mengamalkan rukun islam dan pancasila.  Jadi, hubungan yang dijaga tidak hanya sesama manusia tapi juga dengan Tuhan.
    batik banyumas
    Batik motif Jahe Serimpang (sumber: Djoemena, N. S. (1990). Batik and its Kind)
  2. Serayuan
    Motif ini diadaptasi dari Sungai Serayu yaitu sungai terpanjang yang mengaliri Kabupaten Banyumas. Pada motif ini, motifnya berbentuk zig zag seperti pola lerang klasik layaknya Sungai Serayu yang berkelok. Dalam motif ini, terdapat isen-isen seperti ikan, udang atau flora yang hidup di dalam atau di sekitar sungai. Motif ini mengungkapkan kekayaan alam yang terdapat di sekitar aliran Sungai Serayu yang memberikan kehidupan bagi masyarakat Banyumas.
  3. Ayam puger
    Motif utamanya adalah ayam jantan dan bentuk rumah. Kata puger berasal dari bahasa Banyumas yang berarti panutan bagi orang lain. Kemungkinan besar, kata puger merujuk pada Pangeran Puger atau Paku Buwana I yang pernah tinggal di Banyumas.
    batik banyumas ayam puger
    Batik Ayam Puger (sumber: Djoemena, N. S. (1990). Batik and its Kind)
    Motif ini memiliki makna bahwa masyarakat Banyumas terutama seorang laki-laki harus mampu menjadi panutan bagi keluarganya. Selain itu, sejauh apapun mereka merantau, mereka akan tetap ingat tempat asalnya, yaitu Banyumas.

Teman cerita, itulah sedikit cerita tentang Batik Banyumas. Kira-kira teman cerita yang orang Banyumas mengenal motif batik yang tadi disebutkan atau tidak? Kalau belum tahu, yuk mulai cari tahu. Siapa tahu kamu akan menjadi perajin batik Banyumas selanjutnya. Sampai jumpa di cerita batik berikutnya!

Baca juga: Ini dia beberapa museum batik yang wajib kalian datangi!

Daftar Referensi

  1. Djoemena, N. S. (1990). Batik and its Kind. Djambatan.
  2. Purwanto, P. (2015). EKSPRESI EGALITER, MOTIF BATIK BANYUMAS. Imajinasi: Jurnal Seni, 9(1), 13-24
  3.  Saraswati, H., Iriyanto, E., & Putri, H. Y. (2019). Semiotika Batik Banyumasan sebagai bentuk identitas budaya lokal masyarakat Banyumas. Piwulang: Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa, 7(1), 16-22.
  4. Sholikhah, I. M., Purwaningsih, D. R., & Wardani, E. (2017). MAKNA SIMBOLIS MOTIF BATIK BANYUMAS SEBAGAI REALISASI NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT. Prosiding, 7(1).
Asri Hayati Nufus

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Artikel Lainnya