Batu Api Jatinangor: Buku, Film, dan Musik

Batu Api atau yang juga dikenal Batoe Api merupakan sebuah perpustakaan kolektif di kawasan pendidikan Jatinangor. Berdiri di antara banyaknya institusi pendidikan, Batu Api tampil dengan konsep perpustakaan yang berbeda dari biasanya.

Koleksi perpustakaan ini tak terbatas pada kumpulan buku semata, melainkan ada juga kumpulan film dan musik. Konsep tersebut berasal dari keyakinan pendirinya bahwa proporsi antara ilmu pengetahuan dan hiburan harus seimbang.

Panggil saja nama pendirinya, Bang Anton. Pria lulusan Universitas Padjadjaran tahun 1987 ini ternyata telah mendirikan Batu Api sejak tahun 1999. Semua berawal dari hobinya mengoleksi buku-buku loakan sejak masa kuliah dulu.

Koleksinya  yang menumpuk kemudian menggerakkan hati Bang Anton untuk membuka ruang literasi di rumahnya. Bang Anton kemudian mengkurasi koleksi bukunya serta menambahkan kumpulan film dan musik sebagai koleksi perpustakaan.

Batu Api: Tempat Kecil dengan Literasi Kelas Dunia

Batu Api terletak persis di tengah jantung perekonomian Jatinangor, yaitu di Jl. Raya Jatinangor No. 142A. Uniknya, nama jalan pada plang perpustakaan diganti menjadi Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142A. 

Penamaan tersebut berasal dari kebiasaan anak-anak Batu Api mengganti nama jalan di Jatinangor dengan nama tokoh revolusioner. Tujuannya tak lain adalah untuk memancing polemik.

Secara fisik, Batu Api hanyalah sebuah ruangan berukuran 6×7 m dari rumah sederhana dengan pohon rindang di depannya. Namun, siapa sangka, ruangan kecil ini menyimpan pemikiran dari para tokoh dunia lewat buku, film, dan musik koleksinya. 

Batu Api seakan telah menjadi spektrum lain dari hidupnya suasana pendidikan di Jatinangor. Tentunya selain karena ada kampus-kampus ternama seperti Unpad, ITB, IPDN, dan IKOPIN.

Mahasiswa Unpad, khususnya mahasiswa rumpun ilmu humaniora pasti tidak akan asing dengan perpustakaan ini. Batu Api seringkali jadi pelarian para mahasiswa tatkala koleksi perpustakaan kampus biasanya terbatas pada buku populer, modern dan non-kontroversial saja.

Baca Juga: Ke Frankfurt via Perpustakaan Batu Api

Menikmati Boekoe, Gambar Idoep, dan Moezik di Batoe Api

“Menikmati Boekoe, Gambar Idoep, dan Moezik di Batoe Api” adalah slogan yang akan pengunjung lihat di pintu masuk perpustakaan. Slogan ini semacam rangkuman dari apa yang akan orang temukan jika coba-coba masuk ke dalamnya.

Konsep perpustakaan ini adalah sebuah upaya menghapuskan sekat-sekat antara ilmu pengetahuan dan hiburan. Dalam kaitannya dengan buku, Batoe Api sejatinya adalah tempat yang pas untuk menyelami luasnya ilmu pengetahuan. 

Koleksi bukunya sangat beragam, mulai dari buku politik, buku filsafat, novel, cerpen, sastra, hingga majalah lawas yang jumlahnya mencapai ribuan. Tak jarang buku-buku lawas yang sudah langka di pasaran pun akan mudah dijumpai jika berkunjung ke sini.

Dari semua koleksi buku seabrek-abrek itu, tentu tak sedikit orang yang merasa terbantu. Selain untuk iseng baca buku, biasanya mahasiswa hingga masyarakat umum datang ke Batu Api dengan tujuan mencari ide baru atau konsultasi pada Bang Anton perihal referensi tugas akademik.

Lelah dengan buku? tak perlu khawatir, anda tinggal beralih pada koleksi film dan musik. Film dan musik koleksi Bang Anton adalah karya-karya lawas yang sudah jarang beredar di pasaran. Mulai dari film dokumenter, sejarah, film komedi jadul seperti “Ecce Homo Homolka” tahun 1969 ataupun musik-musik karya Bob Dylan, ada semua di sini.

Baca Juga: Jejak Rekaman di Abbey Road Studios

Batu Api juga sering mengadakan diskusi tentang buku dan nobar film. Tak tanggung, penulis nasional sekaliber Seno Gumira Ajidarma dan Ayu Utami, hingga sejarawan di balik kisah Tan Malaka, Harry Poeze pun pernah ke sini untuk diskusi buku.

Sayangnya, sejak pandemi Covid-19, kegiatan nobar film dan diskusi buku harus berhenti untuk sementara waktu. Perpustakaan Batu Api hanya membuka layanan baca-pinjam buku dan diskusi kecil-kecilan dengan Bang Anton.

Artikel Lainnya