Cara Kerja Arkeolog: Ekspektasi vs Realita Dalam Film Gerbang Neraka

Imaji mengenai seorang “arkeolog” sangat bisa dipengaruhi dari apa yang sudah pernah kita terima lewat panca indra kita. Salah satunya, dari apa yang pernah kita lihat di film. Tanpa sadar, film yang kita tonton akan membentuk ekspektasi kita mengenai sesuatu. Dalam kasus ini, film dapat memberikan ekspektasi pada sosok arkeolog dan cara kerja arkeolog yang “ideal”. Tapi, itu kan hanya ekspektasi… kalau realitanya, bagaimana?

Sebelum terlalu jauh, yuk kita kenali dulu: apa itu arkeolog dan bedanya dengan arkeologi.

Arkeolog dan Arkeologi

Dimulai dari: apa itu arkeologi? Arkeologi atau ilmu purbakala adalah ilmu yang mempelajari tentang tinggalan budaya manusia pada masa lampau. Peninggalan tersebut dapat berupa bangunan, arca, tulang, atau prasasti. Prasasti adalah salah sumber sejarah dari masa lalu yang ditulis di atas media yang keras, misal batu atau logam. Ada arkeologi, ada pula arkeolog. Berbeda dengan arkeologi, arkeolog merupakan sebutan untuk orang-orang yang ahli dalam bidang ilmu ini. Dengan kata lain, arkeolog merupakan sebutan profesi bagi para ahli arkeologi.

Bicara tentang “arkeolog”, apa sih yang muncul pertama kali di benak kalian saat mendengar kata “arkeolog”? Apakah sosok pria gagah bertopi rimba dengan baju coklat dan celana cargo-nya yang khas? Hmm… itu mah ciri-ciri anak pramuka kali, ah! Hahaha… tapi serius deh, kalau ada yang mikir kayak gini… bisa jadi kalian terlalu serius nonton Indiana Jones, tuh!

Penggambaran tokoh arkeolog dalam film memang tidak selamanya buruk. Justru dari film, masyarakat jadi bisa lebih mengetahui adanya profesi arkeolog yang mungkin tidak banyak diketahui sebelumnya. Tapi, penggambaran tersebut tetap ada efek sampingnya juga, ya, yang bisa jadi malah memberi pemahaman yang salah dan bertentangan dengan realita.

Tokoh Arkeolog dalam Film Gerbang Neraka

Skala Cerita kali ini akan membahas tentang penggambaran tokoh arkeolog dalam film Gerbang Neraka. Film Gerbang Neraka sendiri merupakan film bergenre horor yang dirilis pada tahun 2017. Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor ternama Indonesia, di antaranya Julie Estelle, Reza Rahadian, Ray Sahetapy dan Dwi Sasono.

Poster Film Gerbang Neraka
Sumber: IMDb 

Tunggu, tunggu… kok kita jadi bahas film horor?

Eits! tenang dulu. Meskipun film ini bergenre horor, namun latar cerita pada film yang ditulis oleh Robbert Ronny dan disutradarai oleh Rizal Mantovani itu memiliki kaitan dengan arkeologi. Bukan berarti arkeologi itu identik dengan hal-hal mistis ya, tapi film ini mengambil latar cerita tentang penelitian arkeologi di Situs Arkeologi Gunung Padang, dan digadang-gadangkan sebagai film yang diangkat dari kisah nyata.

Pada film, dikisahkan bahwa ada sekelompok tim arkeolog yang sedang melakukan penelitian arkeologi di Situs Arkeologi Gunung Padang. Penelitian berlangsung dengan sangat eksklusif. Tidak boleh sembarang orang masuk dalam wilayah kerja penelitian. Walaupun beberapa pihak telah berusaha memberi peringatan adanya “ancaman mistis”, namun penelitian tetap dilanjutkan hingga kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan.

Tokoh arkeolog dalam film tersebut di antaranya ada Arni Kumalasari (diperankan oleh Julie Estelle) dan Theo Wirawan (diperankan oleh Ray Sahetapy), dimana Arkeolog Theo merupakan arkeolog yang lebih senior dibandingkan Arkeolog Arni. Dalam film, baik Theo maupun Arni digambarkan sebagai sosok arkeolog yang tegas dan idealis. Sekarang, yuk kita bedah cara kerja para arkeolog tersebut! Apakah cara kerjanya sesuai dengan realita?

Atribut dan Pakaian

Dalam film, para arkeolog digambarkan dengan pakaian yang rapi, baik saat melakukan kegiatan penelitian maupun saat memberikan kuliah. Meskipun penelitian dilakukan di lapangan, namun pakaian yang digunakan tetap rapi dan sopan: memakai kemeja, celana panjang, sepatu lapangan, serta tak jarang pula para arkeolog tersebut mengenakan rompi.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Sebagaimana “karyawan kantoran”, arkeolog harus memperlakukan tempat kerjanya (situs arkeologi) sebagai kantornya, sehingga para arkeolog harus tetap menyesuaikan penampilannya. Selain pakaian, penting juga bagi arkeolog untuk menggunakan penutup kepala. Maklum, cuaca saat penelitian bisa jadi sangat terik bagi kepala.

Dalam film, para arkeolog menggunakan sarung tangan selama melakukan kegiatan pengupasan tanah. Namun, penggunaan sarung tangan dalam penelitian arkeologi, khususnya saat ekskavasi (pengupasan tanah untuk mengumpulkan data tinggalan budaya) tidak dianjurkan, ya! Hal ini karena sarung tangan dapat menghalangi arkeolog untuk dapat merasakan tekstur tanah serta mengenali gejala yang muncul saat pengupasan tanah dilakukan.

Selain sarung tangan, yang luput dalam film yaitu field note. Biasanya field note ini berupa buku catatan berukuran kecil yang selalu ada bersama arkeolog. Adanya field note digunakan arkeolog untuk mencatat seluruh gejala yang ditemukan saat kegiatan penelitian berlangsung. Data pada field note inilah yang selanjutnya akan memudahkan arkeolog dalam menuliskan laporan penelitian.

Cara Kerja Arkeolog

Dalam penelitian arkeologi, kita mengenal istilah ekskavasi. Sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, ekskavasi merupakan kegiatan mengupas lapisan tanah pada suatu situs arkeologi. Dalam hal ini, kegiatan ekskavasi merupakan salah satu cara arkeolog mengumpulkan data tinggalan budaya yang terkandung di bawah tanah maupun air. Seluruh data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis agar dapat menjelaskan fenomena atau agenda budaya yang pernah di masa lampau.

Perlu wawasan yang luas bagi arkeolog untuk dapat menginterpretasikan suatu tinggalan budaya. Tentunya, hal ini tidak boleh dilakukan sembarangan, karena harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penalaran yang ilmiah ini ada metodenya, dan memerlukan berbagai pertimbangan.

Kembali ke film Gerbang Neraka, banyak sekali hal yang luput dalam proses penalaran para arkeolognya. Misalnya, ada salah satu scene dimana Arkeolog Arni menyebutkan bahwa kata “sun” dalam “sunda” berkaitan dengan penyembahan dewa matahari oleh masyarakat Sunda. Padahal, “sun” yang berarti “matahari” itu kan adanya di bahasa Inggris, bukan bahasa Sunda. Jadi, bisa dibilang, penalarannya kurang sesuai konteks, nih.

Ada lagi penalaran soal letak gunung-gunung yang membentuk pentagram. Yang ini 100% ngaco, ya! Faktanya, posisi gunung-gunung di sekitar Situs Gunung Padang sama sekali tidak membentuk pentagram. Apalagi berkaitan dengan iblis atau makhluk gaib lainnya. Penalaran seperti ini juga tidak boleh asal. Arkeolog harus benar-benar memahami karakter situs yang sedang ditelitinya. Intinya, konteks itu sangat diperlukan dalam proses penalaran seorang arkeolog. Jadi, tidak boleh asal cocokologi ya, teman cerita!

Selain penalaran yang tidak boleh asal, praktik kerja arkeolog di lapangan juga tidak boleh asal. Pada film Gerbang Neraka, penelitian arkeologi dilaksanakan dengan sangat ekskulif. Tidak boleh sembarang orang masuk dalam wilayah penelitian. Hal ini tentu dapat membantu arkeolog bekerja dengan lebih teliti. Namun, terlalu eksklusif juga tidak baik, ya. Apalagi sampai saling bermusuhan.

Sejatinya, situs arkeologi itu milik masyarakat. Jadi, siapapun berhak datang ke situs arkeologi. Saat penelitian di situs arkeologi sedang berlangsung, arkeolog tidak hanya berkewajiban untuk melakukan penelitian, namun juga berinteraksi dan mengedukasi masyarakat di sekitar. Hal ini penting dilakukan untuk memelihara komunikasi arkeolog dan masyarakat. Komunikasi yang baik inilah yang akan memunculkan simbiosis mutualisme bagi arkeolog dan masyarakat. Jadi, say good bye aja deh buat arkeolog yang digambarkan acuh sekali dengan masyarakat.

Sebetulnya, masih banyak hal yang bisa dikupas dari film Gerbang Neraka. Apalagi, film tersebut juga berlatar Situs Arkeologi Gunung Padang yang memang nyata adanya. Teman cerita penasaran sama bagian apa lagi, nih? Sharing yuk, di kolom komentar!

Baca juga: Berkenalan dengan Ali Akbar, Arkeolog Indonesia yang Meneliti Situs Gunung Padang

Ide Nada

Ide Nada

Ide Nada adalah seorang lulusan arkeologi yang memiliki ketertarikan dengan langit dan kebudayaan

Artikel Lainnya