Perjalanan Vespa di Indonesia

“Tak habis dimakan waktu”, begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk menggambarkan cerita dari perjalanan vespa di Indonesia. Skuter pabrikan Piaggio Italia ini punya jejak sejarah dan cerita hidup yang melekat pada masyarakat Indonesia.

Awal Mula Vespa di Indonesia

Awalnya, Piaggio adalah sebuah perusahaan yang memproduksi pesawat tempur pada perang dunia I dan II. Sayangnya, perusahaan tersebut bangkrut menjelang akhir Perang Dunia II karena pabriknya dibom oleh sekutu.

Usai perang dunia II berakhir, Piaggio berusaha bangkit dari keterpurukan dengan cara beralih menjadi produsen motor. Piaggio pertama kali merilis motor berjenis skuter dengan nama vespa di Roma, Italia pada tahun 1946.

Sejak pertama kali rilis, skuter ini langsung mencuri perhatian dunia sebagai model transportasi baru yang inovatif dan elegan. Sementara di Indonesia, nama vespa baru menggaung di tahun 1963, 17 tahun setelah rilis pertamanya.

Kemunculan vespa di Tanah Air bermula dari keikutsertaan Indonesia dalam misi perdamaian PBB di Kongo. Pasukan TNI yang bertugas, Kontingen Garuda II (1960) dan Kontingen Garuda III (1962) mendapatkan hadiah berupa vespa sebagai penghargaan dari Pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya.

Cerita Vespa Kongo di Indonesia
Vespa Kontigen Garuda (sumber: vespatua.com)

Kehadiran vespa Kontingen Garuda menjadi tonggak awal kepopuleran vespa di Indonesia. Masyarakat menyebutnya vespa Kongo, atau ada juga yang menyebutnya vespa Ndog (telur) karena bentuk bodi belakangnya yang mirip telur.

Vespa Kongo ini termasuk ke dalam seri VGLA dan VGLB. Berbeda dengan vespa pada umumnya, perakitan vespa seri VGLA dan VGLB dilakukan oleh vespa GmBH Augsburg, perusahaan kongsi antara Piaggio dan Martial Fane yang berdiri di Jerman sejak tahun 1958.

Secara fisik, ada beberapa ciri yang membedakan vespa Kongo dengan vespa lainnya. Terdapat ciri khusus berupa lambang Garuda pada bodi sebelah kiri sebagai penanda hadiah bagi prajurit TNI. Bodi vespa buatan Jerman ini juga memiliki ketahanan yang lebih kuat daripada vespa seri lainnya.

Kepopuleran vespa Kongo menjadi awal pintu masuk penjualan vespa di Indonesia. Nama vespa yang mulai dikenal masyarakat mendorong hasrat Piaggio untuk menjual produknya secara resmi di Indonesia.

Baca Juga: Sering Dengar Nama Vespa Kongo? Inilah Sejarahnya dan Bedanya dengan Vespa Seri Lain

Cerita Vespa Jadi Raja Skuter di Indonesia

Pada tahun 1965, Piaggio mulai menjual vespa secara resmi di Indonesia melalui dealer PT. Dan Motor Indonesia. Produknya hadir dalam berbagai model dengan pakem bentuk dasarnya yang unik, “Sembra Una Vespa” (tampak seperti tawon).

Keunikan bentuk vespa menjadi daya tarik tersendiri ketika melintas di jalanan. Belum lagi, Piaggio menarik minat pasar dengan mermproduksi secara terbatas beberapa seri vespa khusus untuk sebuah event atau peringatan tertentu, menegaskan kesan spesial pada skuter buatannya. 

Beberapa vespa dengan seri spesial seperti SS90 dan primavera 125cc bahkan sempat punya cerita menjadi kendaraan dinas para pejabat Indonesia di tahun 70an. Vespa SS90 menjadi kendaraan dinas kantor Gubernur Sulawesi Selatan, sedangkan vespa primavera 125cc menjadi hadiah dari PBB untuk penyuluh program Keluarga Berencana di Indonesia.

Betapapun demikian, kehadiran vespa di kalangan prajurit dan pejabat tidak serta-merta menjadikan vespa identik dengan kalangan elit tertentu. Keunikan skuter ini juga berhasil mencuri perhatian lapisan masyarakat Indonesia lainnya.

Hal tersebut salah satunya tampak dari kemunculan komunitas-komunitas vespa di Tanah Air. Vespa racing, vespa klasik, vespa ekstrim, hingga vespa gembel adalah berbagai jenis komunitas Vespa yang mewarnai kehadiran vespa di hati masyarakat Indonesia.

Komunitas yang beragam itu tumbuh bersama dengan solidaritas yang tinggi tanpa mengenal kasta. Seringkali kita melihat adegan manis antar pengguna vespa di jalanan, mulai dari bertegur sapa, hingga tolong-menolong ketika mogok. Sebuah solidaritas yang muncul berkat kecintaan pada vespa.

Eksistensi vespa sejatinya memang bukan sekedar seonggok mesin dan roda belaka. Vespa menjelma jadi simbol yang hadir dalam berbagai cerita hidup dari pecintanya. Sebut saja Komunitas vespa gembel, wujud kecintaannya pada vespa terbilang agak berbeda dari yang lain. 

Tampilan motor-motor komunitas vespa gembel terkesan kumuh dan kurang nyaman dipandang. Namun, siapa sangka, di balik tampilan motornya yang seperti itu, justru terdapat cerita yang menginspirasi.

Cerita Vespa Gembel di Indonesia
Vespa Ekstrim (sumber: ngopbareng.id)

Sampah yang melekat pada vespa-vespa gembel merupakan sampah yang terkumpul selama perjalanan atau ketika sedang menghadiri acara komunitas. Vespa gembel adalah ekspresi diri, serta wujud dari kecintaan manusia pada vespa dan lingkungan, begitulah kira-kira.

Barang Antik Buruan Kolektor

Akhir tahun 90an, vespa justru kehilangan tajinya di pasar skuter Indoensia. PT. Dan Motor Indonesia sebagai dealer resmi vespa tutup pada tahun 1998 karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Dominasi vespa mulai tergantikan skuter-skuter metik pabrikan Jepang. Teknologi yang maju berbanding harga yang murah rasanya lebih mudah menggaet minat pasar. Alhasil, skuter Jepang pabrikan Honda dan Yamaha sempat menjadi tren dan ramai lalu-lalang di jalanan.

Vakum dari pasar skuter Indonesia, nama vespa justru kian melejit di pasar motor antik. Vespa-vespa tua jadi barang buruan kolektor domestik hingga mancanegara. Nilai sejarah dan cerita panjangnya yang begitu melegenda mampu menghadirkan pasar tersendiri bagi vespa.

Kesan retro dan klasik yang melekat para vespa sangat jarang dijumpai pada motor jenis lain. Hal tersebutlah yang meningkatkan nilai jual vespa di mata kolektor. Semakin tua usianya, harganya makin tinggi. Terlebih lagi vespa dengan seri spesial dan terbatas jumlahnya, bagaikan harta karun yang jadi rebutan para kolektor dan pecintanya.

Artikel Lainnya