Daerah Penghasil Batik di Indonesia, Dimana Saja, Ya?

Teman cerita, siapa yang tak kenal dengan batik? Hampir semua wilayah di Indonesia mempunya motif batik dengan ciri khasnya masing-masing. Batik juga telah masuk ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2 Oktober 2009. Kali ini, skalacerita akan mengulas lima daerah penghasil batik di Indonesia yang perlu teman cerita ketahui. Simak ceritanya, ya!

Lima Daerah Penghasil Batik di Indonesia

Teman cerita, di Indonesia ada banyak sekali daerah yang memproduksi batik. Setiap daerah tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dari segi motif maupun warna. Namun, berikut ini ada lima wilayah utama yang menjadi awal perkembangan batik di Indonesia, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Lasem, dan Pekalongan.

1. Yogyakarta

Kalau teman cerita sedang berwisata di Malioboro atau pasar Beringharjo pasti akan melihat jejeran pedagang yang menjajakan pakaian batik. Tidak jarang, saat kita berkunjung ke Kota Pelajar ini, oleh-oleh yang dibeli pun adalah batik. Ternyata, Yogyakarta telah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia pada tahun 2014 di Tiongkok. Jadi, tidak heran jika kita menemukan banyak pedagang maupun perajin batik di sana.

Ciri khas Batik Yogyakarta terletak pada warna dan motifnya. Batiknya lebih banyak didominasi warna cokelat tua, putih, biru tua, serta hitam. Sedangkan untuk motifnya terdiri dari dua jenis yaitu geometris seperti parang dan kawung, serta non geometris seperti semen.

parang rusak dari daerah penghasil batik yogyakarta
Motif Parang Rusak, motif larangan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I tahun 1785 (sumber: KITLV)

Nah, asal teman cerita tahu bahwa di daerah penghasil batik ini terdapat motif batik larangan yaitu motif batik yang hanya boleh dipakai oleh keluarga keraton. Motifnya antara lain huk, kawung, dan parang. Namun, saat ini masyarakat di luar keraton sudah boleh menggunakan motif batik larangan tersebut, tetapi tetap memperhatikan pemakaiannya.

Bagi teman cerita, jika kalian akan berkunjung ke keraton, disarankan untuk tidak memakai motif batik larangan… Hehe.

2. Surakarta

Surakarta atau yang kerap dikenal dengan nama Solo ini, merupakan salah satu daerah penghasil batik juga. Sebenarnya dulu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta merupakan satu kesatuan, yaitu Kesultanan Mataram. Namun, akibat perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, akhirnya terpecah menjadi dua. Dalam perjanjian tersebut, Kesultanan Yogyakarta mewarisi seluruh budaya dan tata busana kerajaan Mataram, sedangkan Surakarta harus mencari cirinya sendiri.

motif ciptoning dari daerah penghasil batik surakarta
Motif Ciptoning, Surakarta (Koleksi Museum Batik Indonesia)

Batik dari Surakarta sekilas memang hampir mirip dengan Batik Yogyakarta. Namun, ada perbedaan yang cukup mencolok jika teman cerita perhatikan. Warna latar batik dari Surakarta lebih gelap yang didominasi dengan warna coklat dan hitam. Jika ada warna putih, warnanya agak kecoklatan. 

Ciri lain dari batik Surakarta ini adalah ragam hiasnya yang memiliki pesan dan harapan yang baik bagi para pemakainya. Salah satu motif khas dari Surakarta adalah motif truntum. Motif ini biasanya dipakai oleh orang tua pengantin saat upacara perkawinan. Motif yang terinsipirasi dari bunga tanjung ini bermakna bahwa sebagai orang tua, mereka akan menuntun kedua mempelai pengantin dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. 

3. Cirebon

Jika ditanya tentang Batik Cirebon, pasti yang terlintas di pikiran teman cerita adalah motif mega mendung. Yap, motif batik ini memang sangat terkenal, bahkan pada bulan mei kemarin anggota boy grup Korea Super Junior yaitu Leeteuk dan Yesung memakai baju batik dengan motif mega mendung. Hehe.

Perlu teman cerita tahu bahwa motif batik dari Cirebon tidak hanya mega mendung saja. Masih ada motif batik lainnya seperti wadasan dan patran. Cirebon sendiri memiliki motif batik keraton dan pesisiran. Cirebon memiliki tiga keraton yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Selain itu, Cirebon juga merupakan wilayah pelabuhan persinggahan yang ramai, jadi tidak terelakkan jika wilayah Cirebon banyak mendapat pengaruh dari budaya asing. 

batik
Empat motif Batik Wadasan (Koleksi Museum Batik Indonesia)

Perpaduan dari berbagai budaya ini menghasilkan kebudayaan Cirebon yang memiliki gabungan corak Tiongkok, Arab, Hindu, dan Cirebon sendiri. Misalnya lahir binatang khayal Peksi Naga Liman dan Singa Barong. Kedua binatang khayal tersebut banyak menghiasi kain batik dari Cirebon. 

4. Lasem

Bicara tentang batik pasti tidak boleh melewatkan daerah penghasil batik yang satu ini. Batik dari Kota Lasem sangat terkenal di Indonesia, bahkan Batik Laseman sangat diminati di daerah Sumatera Barat, Palembang, Jambi, hingga Sulawesi Utara.

Daerah yang dianggap sebagai tempat mendaratnya orang Cina pertama kali ini, memiliki dua jenis batik yaitu batik dengan selera Cina atau yang dikenal dengan batik Lasem dan batik selera pribumi.  Batik Lasem terkenal dengan warna merah darahnya yang penduduk setempat kenal sebagai abang getih pithik. Sedangkan batik pribuminya berwarna sogan dengan warna tambahan seperti merah, biru, dan hijau. 

batik lasem dari daerah penghasil batik lasem
Batik Kilin Menari, Lasem

Berbeda dengan Pekalongan yang membuat batik sebagai pekerjaan utama, di Lasem membuat batik merupakan pekerjaan sambilan, sedangkan pekerjaan utamanya adalah petani. Biasanya batik dengan kualitas yang tinggi berasal dari batik yang dimiliki juragan Cina. Mereka memiliki perajin batik tetap dan terpilih yang biasanya sudah bekerja secara turun temurun. 

5. Pekalongan

Pekalongan merupakan kota penghasil batik yang pastinya sudah terkenal di dunia. Seperti yang sudah teman cerita tahu bahwa hampir sebagian besar penduduk di Pekalongan merupakan perajin batik. Dari batik hingga alat membatik pun diproduksi di sana. Jadi, tidak salah bahwa Pekalongan ditetapkan sebagai Kota Kreatif Dunia pertama di wilayah Asia Pasifik pada tahun 2014. 

Mengingat pada tahun 2009, Museum Batik Pekalongan juga mendapatkan penghargaan Best Practice Batik Workshop dari UNESCO. Hal ini dirasa wajar, karena membatik sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah di Pekalongan. Setiap pelajar diajarkan untuk membatik, bahkan ada ujian membatiknya juga, lho. Sungguh upaya pelestarian yang tidak main-main, bukan?

batik
Batik Belanda, Eliza van Zuylen (Sumber: Julie Berger Hochstrasser)

Batik dari Pekalongan terkenal dengan warnanya yang sangat kaya dibandingkan dengan daerah lainnya. Bahkan, di daerah Kedungwuni terkenal dengan batiknya yang berwarna gradasi. Batik Pekalongan terbagi menjadi tiga berdasarkan gaya dan selera, ragam hias dan warnanya. Pertama adalah Batik Encim yang warnanya khas Tiongkok, kedua bergaya dan berselera Belanda seperti Batik Van Zuylen, dan ketiga batik berselera pribumi yang warnanya sangat ceria dan meriah. 

Teman cerita, itulah lima daerah penghasil batik di Indonesia. Namun, jangan salah masih ada daerah penghasil batik lainnya seperti Madura, Semarang, Tegal, Indramayu, bahkan Bali. Tunggu cerita batik selanjutnya, ya!

Referensi:

Djoemena, N. S. (1987). Ungkapan Sehelai Batik: Batik Its Mystery and Meaning. Djambatan, Jakarta.

Asri Hayati Nufus

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Artikel Lainnya