Death Railway Bridge: Sejarah Invasi Jepang di Thailand

 

Death Railway Bridge yang berdiri di atas Sungai Khwae Yai, Kanchanaburi, Thailand menjadi salah satu destinasi wisata menarik bagi turis lokal dan mancanegara. Suasana di atas jembatan bersejarah ini relatif sepi dan hanya ramai di pagi hari, waktu di mana para pengunjung menyaksikan kereta melintas di atas jembatan dan para pedagang pasar tradisional asyik menyapa serta menjajakan dagangan kepada para wisatawan.

Jembatan yang dibangun pada masa Perang Dunia II ini merupakan upaya mengenang pembangunan Death Railway yang diinisiasi oleh Jepang. Konstruksi jalur kereta api antarnegara yang melintasi wilayah Myanmar dan Thailand ini dimulai pada September 1942 dan berakhir Oktober 1943. Di balik pemandangan dari atas Death Railway Bridge yang indah dan berbalut udara sejuk khas Kanchanaburi, ternyata terdapat sejarah kelam yang menarik untuk kamu ketahui.

Bentuk Kerja Sama Thailand dengan Jepang

Death Railway Bridge adalah bagian dari Death Railway yang melintas antara Thailand dan Myanmar. Jalur kereta api tersebut dibangun oleh Jepang pada Perang Dunia II dengan tujuan memudahkan pengiriman pasokan perang dalam upaya Jepang menginvasi Myanmar yang saat itu merupakan wilayah kolonial Inggris.

Awalnya, Jepang hendak menjajah Thailand. Namun, rencana tersebut batal setelah Jepang membuat perjanjian dengan kerajaan yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Plaek Phibunsongkhram (Phibun). Melalui perjanjian tersebut, Jepang berjanji tidak akan menginvasi asalkan Thailand bersedia menjadi sekutu dan membantu Jepang menyerang beberapa wilayah koloni Inggris yaitu Myanmar, Malaysia, dan Singapura.

Meskipun ditentang oleh banyak pihak, akhirnya Thailand yang semula bersikap netral dalam Perang Dunia II, terpaksa berpihak pada Jepang. Tentara Jepang pun diizinkan untuk melintas di wilayah Thailand sebagai akses untuk menyerang Myanmar serta daerah Malaya, yaitu Malaysia dan Singapura. Salah satu projek yang dilakukan atas perjanjian ini adalah pembangunan jalur kereta api yang dalam bahasa Jepang dinamai Tai–Men Rensetsu Tetsudō.

Menewaskan Banyak Pekerja

Sesuai dengan artinya, Death Railway mengambl nama dari kematian para pekerja konstruksi jalur kereta api Myanmar – Thailand. Jumlah pekerja yang meninggal selama proses pembangunan juga tidak main-main. Sekitar 100.000 orang tewas akibat malnutrisi dan kelelahan efek beban kerja yang melampaui batas. Korban tewas mengenaskan ini terdiri dari pekerja sipil dari berbagai negara di Asia Tenggara dan juga tawanan perang dari Australia.

Para pekerja sipil mayoritas datang dari Indonesia (saat itu masih bernama Hindia Belanda), Malaysia, Singapura, dan India. Mereka ditawari upah yang tinggi lengkap dengan tempat tinggal yang layak. Namun, keadaan ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Seorang dokter berkebangsaan Inggris, Robert Hardie mengisahkan kehidupan para kuli yang mengenaskan. Mereka terpaksa tinggal di kamp sempit dan kumuh. Bahkan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) tidak tersedia di mes pekerja konstruksi.

Kondisi tempat tinggal yang jauh dari layak, diperparah dengan minimnya upah yang mereka terima, membuat banyak pekerja terjangkit penyakit dan mengalami malnutrisi. Dokter Robert Hadie mengisahkan bahwa para tawanan perang diperintah untuk mengubur setidaknya 20 jenazah pekerja sipil setiap harinya.

Untuk mengenang peristiwa naas tersebut, dibangunlah jembatan Death Railway Bridge. Tidak jauh dari jembatan tersebut, terdapat museum Thailand – Burma Railway Center (TBRC)  yang terintegrasi dengan Kanchanaburi War Cemetery. Museum tersebut dibangun dengan tujuan mengedukasi pengunjung terkait sejarah pembangunan jalur kereta api sepanjang 415 km yang melintang dari Thanbyuzyat di Myanmar hingga Nong Pladuk in Thailand. Serta betapa menyedihkannya efek yang ditimbulkan dari perang.

Panduan Mengunjungi Death Railway Bridge

Death Railway Bridge yang berlokasi di wilayah barat Thailand ini berjarak sekitar 170 kilometer dari Bangkok. Untuk mencapainya, terdapat dua opsi yaitu dengan menggunakan mobil dan kereta api. Perjalanan dengan mobil menjadi opsi tercepat, tetapi kebanyakan turis akan memilih menggunakan kereta api.

Para wisatawan bisa menikmati pemandangan indah khas country side Thailand dengan menggunakan moda kereta api. Mereka juga bisa merasakan sensasi perjalanan di atas jalur kereta api Death Railway. Sayangnya, kereta api hanya berangkat dua kali dari Stasiun Thon Buri, Bangkok setiap harinya. Pemberangkatan pertama pukul 07:50 dan sampai di Kanchanaburi pukul 10:30. Diikuti dengan pemberangkatan kedua pukul 13:55 yang tiba sekitar pukul 16:35.

Suasana dan pemandangan khas pedesaan di Kanchanaburi siap menyambut para wisatawan. Tidak perlu khawatir karena fasilitas penginapan dan hiburan yang lengkap dan nyaman dapat mengakomodasi keperluan para pengunjung. Para turis juga bisa menyewa sepeda atau sepeda motor untuk berkeliling di kota kecil ini.

Zara Damaris

Zara Damaris

Mahasiswa Jurnalistik yang gemar membaca dan menulis berbagai isu terkait kebudayaan dan sejarah.

Artikel Lainnya