Obrak Abrik

Menelisik Mengapa Pangeran Diponegoro Menentang Penjajah Belanda

Halo teman cerita! Belanda tidak hanya membawa semangat kolonialisme ke Indonesia tetapi juga api dan pedang. Perang ini terjadi di seluruh Indonesia, termasuk kesultanan Yogyakarta. Perlawanan pun dilakukan dan salah satu yang paling keras melawan adalah Pangeran Diponegoro. Faksi Kerajaan mempersilahkan bahkan mendukung kehadirannya, namun mengapa Pangeran Diponegoro Menentang Penjajah Belanda?  Simak ceritanya disini!

Awal Mula

Ketidakpuasan rakyat jawa terhadap Belanda mulai menunjukan titik puncak. Para bangsawan tidak bisa menyewakan tanah ke orang asing dan aturan lainnya membuat mereka tidak puas. Selain itu rakyat juga terkena berbagai pajak dan bekerja dengan paksa di bawah Belanda. Dari ketidakpuasan ini terkumpul kekuatan untuk melawan Belanda. Pangeran Diponegoro yang tidak suka juga dengan Belanda mulai sebal dengan Belanda yang semena mena. Di tahun 1825 Belanda pun membuat jalan yang melintasi makam orang tua Diponegoro. Pangeran Diponegoro yang jengah dengan Belanda pun akhirnya turun melawan mereka

Jalannya Perang

Banyaknya elemen masyarakat yang mendukung Pangeran Diponegoro menjadikan pasukan Diponegoro besar. Selain itu banyak pihak lain yang membantu dari belakang layar dengan menyediakan ransum kepada pasukan Diponegoro. Banyaknya simpatisan rakyat juga membuat pasukan Diponegoro semakin besar. Sekitar 100 ribu orang bergabung untuk melawan Belanda dari kalangan rakyat jelata. Para pasukan pun mulai memanggil Diponegoro sebagai Ratu Adil yang akan membebaskan mereka dari penjajahan.

Belanda yang mengetahui pemberontakan ini pun segera mengirim pasukan ke daerah Tegalrejo dan menghancurkannya. Diponegoro yang mengetahui hal ini segera kabur dan memindahkan markas ke Selarong. Ia pun memulai perang gerilya untuk menyerang Belanda dengan cepat. Awalnya jalan pertarungan berpihak kepada Diponegoro, tetapi seiring berjalannya waktu Belanda mengubah taktik mereka. Belanda menggunakan taktik Bentengstelsel dimana bangunan dan pagar pertahanan dibangun. Pembangunan ini digunakan untuk membatasi pergerakan Pangeran Diponegoro.

Pada puncaknya banyak pengikut Diponegoro mulai gugur. Pengikut pentingnya seperti Dullah Haji Abdulkadir, Pangeran Bei tertangkap maupun meninggal di tangan Belanda. Pada akhirnya membuat Diponegoro setuju untuk melakukan negosiasi. Negosiasi ini hanyalah siasat Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan membuangnya ke Manado. Setelah itu Pangeran Diponegoro pun dipindah ke Makassar dan meninggal di pengasingan.

Sesudahnya

Belanda mengalami kerugian yang besar sekitar 20 juta guilders dalam waktu 5 tahun. Belanda juga banyak kehilangan pasukannya dan menggantikannya dengan orang dari Afrika Selatan. Selain itu sekitar 200 ribu rakyat meninggal dalam perang ini. Perang ini membuat Belanda semakin kuat di Jawa dan memegang kendali penuh.

Jadi seperti itulah alasan mengapa Pangeran Diponegoro Menentang Penjajah Belanda. Walaupun sudah berjuang dengan gigih Belanda masih bisa menangkal Pangeran Diponegoro. Tentunya dengan biaya yang sangat mahal dan berbagai kesulitan lainnya. Perang ini adalah perang besar terakhir di pulau Jawa yang merubah kondisi sosial. Menurutmu perjuangan mana lagi yang bisa membuat belanda kocar kacir? Tulis di kolom komentar ya!

Ikhsan Kamil

Mahasiswa komunikasi Unpad yang hobinya desain dan baca penelitian sejarah. Menulis karena mengikuti nasihat sang guru.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Cerita Vespa di Indonesia

“Tak habis dimakan waktu”, begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk menggambarkan cerita dari skuter pabrikan Piaggio asal Italia, Vespa. Mulanya… Baca Selengkapnya

1 minggu Lalu

Contoh Kerajinan Non Benda dan Pengertiannya

Kerajinan non benda merupakan hasil karya seni yang tidak berupa benda sehingga bentuk kerajinan ini hanya bisa dirasakan dan tidak… Baca Selengkapnya

1 bulan Lalu