Purbakala

Melihat Masa Lalu dari Karies Gigi Manusia Purba

Teman cerita, pernah gak sih kalian bertanya-tanya:
“Nenek moyang kita makan apa ya?”

Arkeolog bisa bantu jawab loh! Tapi, gimana ya caranya arkeolog bisa tau? Tentunya, ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan “melihat” karies pada gigi manusia purba.

Baca juga: Asal muasal kemunculan manusia prasejarah di Nusantara.

Gigi dalam Penelitian Arkeologi

Gigi Manusia Purba
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Gigi merupakan salah satu bagian dari kerangka tubuh manusia. Jika dibandingkan dengan bagian tubuh manusia yang lain, gigi biasanya ditemukan dalam kondisi yang paling baik. Hal ini karena gigi mengandung zat kalsium hidroksiapatit yang menjadikannya kuat dan tidak mudah terurai di alam.

Banyak sekali informasi yang bisa didapatkan dari gigi, seperti jenis makanan yang dikonsumsi, penyakit gigi yang dialami, umur, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, gigi juga dapat memberikan informasi mengenai tradisi yang pernah dilakukan seperti tradisi mengunyah sirih, mengikir gigi dan lain-lain. Informasi inilah yang selanjutnya dapat membantu arkeolog menjelaskan fenomena yang pernah terjadi di masa lampau melalui gigi.

Pada penelitian yang dilakukan di Gua Harimau, tim arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menemukan sekitar 70 kerangka manusia yang diantaranya masih memiliki gigi. Penemuan tersebut merupakan salah satu temuan yang penting, mengingat gigi dapat memberikan banyak informasi.

Baca juga: Mari Berkenalan dengan Ali Akbar Arkeolog Prasejarah di Indonesia

Karies pada Gigi Manusia Purba

Dari 70 individu yang ditemukan di Gua Harimau, banyak di antaranya yang memiliki karies gigi dengan tingkat keparahan yang beragam. Karies sendiri merupakan salah satu penyakit gigi yang disebabkan karena adanya aktivitas dari bakteri Streptococcus yang menggerogoti gigi, hingga menciptakan lubang pada gigi.

Karies Gigi Manusia Purba Gua Harimau
Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Untuk kondisi yang tidak terlalu parah, karies pada gigi seringkali dianggap remeh. Padahal, jika dibiarkan terus-menerus, karies dapat meluas hingga saraf sehingga dapat menimbulkan bau mulut yang tak sedap, rasa nyeri di sekitar mulut dan kepala, hingga komplikasi bagi penderitanya. Penderita karies juga akan jadi lebih sensitif terhadap perubahan temperatur, makanan manis dan asam, serta merasa nyeri jika mendapat tekanan pada gigi.

Karies terjadi dalam beberapa tahap. Awalnya, karies dipicu dari adanya sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Biasanya, makanan tersebut mengandung karbohidrat sederhana, yang lebih mudah melekat dan membentuk plak gigi. Sisa-sisa makanan tersebutlah yang kemudian mengundang bakteri untuk menetap dan bermetabolisme pada celah-celah gigi.

Bakteri-bakteri yang dimaksud adalah bakteri Streptococcus. Bakteri ini akan memakan sisa makanan yang mengandung karbohidrat sederhana dan mengubahnya menjadi zat yang bersifat asam. Lama kelamaan, zat asam ini dapat menggerogoti gigi hingga ke bagian saraf, dan menimbulkan rasa sakit bagi penderitanya.

Baca juga: Membedah DNA Neandertal pada manusia modern.

Melihat Masa Lalu dari Karies Gigi Manusia Purba

Temuan karies pada gigi manusia purba di Gua Harimau dapat memberikan banyak informasi kepada kita, di antaranya:

  1. Mengetahui jenis makanan
    Karies gigi menandakan adanya jejak-jejak kehidupan bakteri Streptococcus. Hal ini memberi makna bahwa selama masa hidupnya, nenek moyang kita banyak memakan sesuatu yang kaya akan karbohidrat sederhana. Adapun makanan-makanannya yaitu buah-buahan, madu, nasi putih dan lain sebagainya.
  2. Mengetahui penyakit gigi
    Karies yang merupakan penyakit gigi ternyata sudah ada sejak masa lalu. Hal ini menandakan bahwa karies bukanlah penyakit baru, namun sudah berlangsung selama berabad-abad lamanya.
  3. Menandakan umur individu
    Karies gigi terjadi secara bertahap. Semakin lama, kondisi karies gigi akan semakin parah. Dengan demikian, tingkat keparahan karies gigi pada manusia purba juga dapat memberikan sedikit referensi mengenai umur individu tersebut. Semakin parah karies giginya, maka semakin tua umur individunya. Namun, penentuan umur harus ditinjau dari faktor lainnya juga, ya!
  4. Mengetahui tradisi
    Timbulnya karies gigi berkaitan dengan adanya suatu kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Dalam hal ini, temuan karies pada gigi nenek moyang Gua Harimau memperkuat bukti adanya kebiasaan mengunyah sirih. Dari sini, kita bisa tahu bahwa tradisi mengunyah sirih tidak hanya dilakukan oleh orang-orang tua melayu zaman sekarang, namun sudah dilakukan sejak zaman prasejarah.

Begitulah kisah masa lalu yang bisa diketahui dari fenomena karies pada gigi manusia purba. Ternyata, penyakit itu gak selamanya buruk, ya. Sebaliknya, kita malah jadi bisa lebih tau tentang apa yang pernah terjadi di masa lampau melalui penyakit, khususnya dari karies gigi ini. Jangan bosan untuk belajar terus ya! Sekian cerita dari dari masa lalu kali ini.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Manusia Purba Itu Banyak yang Tinggal di Tepi Sungai

Referensi

Noerwidhi, dkk. 2016. “The Graves of the Harimau Cave: A Biocultural Study” in Harimau Cave and the Long Journey of OKU Civilization. Truman Simanjutak (ed.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ide Nada

Ide Nada adalah seorang lulusan arkeologi yang memiliki ketertarikan dengan langit dan kebudayaan

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

4 hari Lalu