Hidangan Ikan pada Prasasti Abad ke-10 Masehi

Berbicara tentang makan ikan, ingatkah kita dengan pernyataan “Yang tidak makan ikan, saya tenggelamkan” dari Ibu Susi mantan Menteri Perikanan dan Kelautan? Pasti masih ingat, ya. Pernyataan tersebut mendorong masyarakat Indonesia untuk sering makan ikan. Selain karena mudah didapat, gizi yang terkandung pada ikan pun sangat banyak. Nah, kali ini skalacerita akan sedikit membahas tentang hidangan ikan pada prasasti. Simak selengkapnya, ya!

Hidangan Ikan pada Prasasti

Makanan merupakan bukti tentang adanya kehidupan manusia serta kebudayaannya. Selain menjadi kebutuhan primer, makanan pun menjadi salah satu cerminan dari kebudayaan tertentu. Manusia dengan budaya berbeda, tentu makanannya pun akan berbeda. Misalnya kalau di Indonesia belum disebut makan jika belum makan nasi, sedangkan di Eropa dengan makan roti pun sudah disebut dengan makan.

Di Indonesia, bukti tentang hidangan makanan dan juga minuman dapat diketahui dari prasasti, naskah hingga relief candi. Pada prasasti, khususnya yang berisi penetapan daerah sima atau perdikan akan memuat informasi mengenai makanan dan minuman yang disajikan, dan bagaimana penyajiannya.

Baca juga: Mengenal Prasasti Adalah Salah Satu Artefak Pengungkap Masa Lalu.

Pada prasasti abad ke-10 Masehi seperti Prasasti Taji 823 S/901 M, Prasasti Paṅgumulan I 824 S/902 M, dan Prasasti Watukura I 824 S/902 M menyebutkan beberapa makanan yang dihidangkan saat upacara, salah satunya hidangan ikan.

Prasasti Paṅgumulan I 824 S/902 M:

IIIa
18. kulumpaŋ sumamwahakan bhaktinya muaŋ i tan laṅghanānya. maṅkananya umuwaḥ sira kabaiḥ i ron nira manadaḥ lwīr niŋ tinaḍah skul matīman. matumpuk asin asin ḍaiŋ kakap. ḍaiŋ kaḍawas. ruma
19. han layarlayar. huraŋ. halahala. hantiga. samaṅkanaŋ pinaka gaṅan haḍaṅan prāṇa 2 wḍus i dinadyakan klakla samenaka amwil lamwil. kasyan. kwĕlan. piniṅkā. ginaṅanan

Terjemahan :

18. …………………….mereka semua menambah kepada daun mereka memakan jenis – jenis makanan : nasi matimon (?), menumpuk ikan yang diasinkan (seperti) ikan asin kakap, ikan asin kaḍawas, ruma –
19. han, layarlayar, udang, halahala, dan telur. Adapun yang dijadikan sayur disediakan dua ekor lembu dan seekor kambing (yang) dijadikan masakan yang enak-enak dipilih kasyan (?) kwĕlan (?), piniṅkā (?), sayuran

Dari kutipan prasasti Paṅgumulan tersebut dapat kita ketahui bahwa ada hidangan ikan berupa dendeng kakap, dendeng bawal,  ikan asin kembung (ikan peda?), ikan layar/pari, dan juga udang. Dari beberapa prasasti lainnya juga kita juga mendapati ada hidangan ikan lain seperti dendeng kakap, ikan duri, ikan pari, ikan gabus dan ikan air tawar.

Cara Pembuatan Hidangan Ikan pada Prasasti dan Makanan Lainnya

Menurut Swandayani dalam skripsinya mengenai “Makanan dan Minuman dalam Masyarakat Jawa Kuno Abad 9-10 M: Suatu Kajian Berdasarkan Sumber Prasasti dan Naskah”, masyarakat Jawa Kuno mempunyai cara sendiri dalam membuat dan menghidangkan makanan. Pembuatan makanannya dibuat berdasarkan makanan utama, makanan ringan dan makanan tambahan.

Hidangan ikan seperti ikan asin kakap dan dendeng kakap tentu pembuatan hidangannya sangat berbeda. Perlu diketahui bahwa cara pembuatan dan pengolahan makanan tergantung dari selera, kebutuhan, kemampuan ekonomi, letak dan hubungan antar daerah, dan lainnya.

hidangan ikan pada prasasti
Persiapan Makanan (sumber: KITLV)

Dari prasasti, naskah, serta relief kita bisa mengetahui bagaimana cara pengolahan makanan yang berasal dari sumber hewani maupun nabati.  Ada banyak cara dalam mengolah sumber makanan tersebut, tetapi ada tiga cara yang paling banyak dijumpai dalam pengolahan ikan, antara lain:

Pengeringan

Pada pengeringan, ikan akan dikeringkan dengan sinar matahari. Ikan-ikan yang biasanya dikeringkan adalah ikan kakap, ikan bawal, ikan duri, ikan kembung, ikan layar, dan ikan gabus. Ada juga jenis makanan yang menggabungkan pengeringan dengan penggaraman atau pengasinan yang hasilnya berupa ikan kering. Ikan ini kita sebut sebagai dendeng.

Pengasinan

Pengolahan dengan cara pengasinan menggunakan garam untuk mengawetkan makanan. Teknik ini juga dikenal dengan penggaraman. Pada prasasti, ikan yang diasinkan disebut sebagai grih (ikan asin).  Ikannya bisa berasal dari laut ataupun tawar. Sampai saat ini, ikan asin masih menjadi favorit masyarakat Indonesia. Selain karena mudah didapat, harganya juga terhitung ramah di kantong. 

Pengasapan

Pengasapan merupakan salah satu cara untuk membuat makanan. Meskipun tidak banyak disebutkan dalam prasasti, namun cara ini telah ada sejak dulu dan tekniknya sampai sekarang tidak berubah sama sekali. Di Asia sendiri, ikan asap tidak terlalu populer karena kurang cocok dimakan bersama dengan nasi. Di Indonesia ada pernyataan bahwa belum disebut makan jika belum makan nasi.

Selain dari ketiga cara tersebut masih ada cara lain untuk mengolah ikan seperti diasamkan, digoreng, dipanggang, disiapkan di atas arang, dimasak dengan bumbu gulai, dan sebagainya.

Cara Penghidangan Makanan

Setelah pengolahan dari bahan-bahan makanan tadi, masyarakat pada masa Jawa Kuno juga memperhatikan bagaimana cara mereka menghidangkan makanan.

Masyarakat dulu akan menghidangkan dan menyiapkan nasi dalam tempurung. Jadi, nasi ditempatkan pada wadah tersendiri dan tidak ditempatkan dalam wadah besar untuk diambil bersama-sama. Hal ini terbukti dalam prasasti yang menyebut adanya s’kul dandananihiniru/ dandanan hinirusan/ dakdannan linirusan.

hidangan-ikan
Hidangan jamuan makan pada relief Jataka di Candi Borobudur (sumber: Swandayani)

Namun, pada relief Candi Borobudur dapat kita jumpai bahwa nasi ditempatkan dalam wadah besar. Sedangkan dalam relief di borobudur nasi ditempatkan dalam wadah besar. Selain itu, dapat kita jumpai juga bahwa lauk pauknya ditempatkan dalam wadah berupa takir (daun pisang yang dibentuk kotak). Lauk pauknya pun tersaji dengan rapi dan teratur di sekitar wadah besar berisi nasi.

hidangan-ikan
Penyajian lauk pauk pada Relief Karmawibhangga, Candi Borobudur (sumber: Swandayani)

Baca juga: Memahami Fungsi Bangunan Candi Hindu-Buddha di Indonesia.

Teman cerita, itulah sedikit cerita mengenai hidangan ikan pada prasasti. Selain itu, kita juga tahu bahwa pengolahan makanan sejak dulu hampir sama dengan sekarang. Apakah teman cerita mungkin  ada yang tahu perbedaannya apa?

Referensi:

  1. Haryono, Timbul. 1994. Makanan dan Minuman pada Masa Jawa Kuno: Pengembangan dan Pelestarian untuk Aset dan Budaya, makalah pada Seminar I Kaboga di Yogyakarta 24 April 1994.
  2. Nasoichah, Churmatin. (2009). Pengawetan Makanan: Upaya Manusia dalam Mempertahankan Kualitas Makanan (Berdasarkan Data Prasasti Masa Jawa Kuno). Seri Warisan Budaya Sumatera Bagian Utara No. 0409, Jejak Pangan dalam Arkeologi hal 1- 15.
  3. Nastiti, Titi Surti. 1981. Prasasti Pangumulan (Suatu telaah tentang Tanah Abad 9 & 10 Masehi). Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  4. Ratnawati, Lien Dwiari. 1991. “Jenis-jenis Masakan pada Masa Jawa Kuna Menurut Data Prasasti”, dalam PIA VI. Jakarta : Puslit Arkenas.
  5. —–.1999. Penyajian Makanan Upacara pada Masa Jawa Kuna (Kajian Prasasti dan Teks Sastra). Tesis. Depok: Universitas Indonesia.
  6. Soekardi, Kresno Yulianto. 1986. “Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno”, dalam PIA IV, hlm. 188-210. Jakarta : Puslit – arkenas.
  7. Swandayani, Anita. 1989. Makanan dan Minuman dalam Masyarakat Jawa Kuno Abad 9-10 M: Suatu Kajian Berdasarkan Sumber Prasasti dan Naskah. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Asri Hayati Nufus

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Artikel Lainnya