Sejarah Jamu dan Pengobatan Tradisional Masyarakat Jawa

Pernahkah Teman Cerita mencicipi jamu? Dalam beberapa catatan sejarah jamu merupakan salah satu bentuk pengobatan tradisional, lho.

Pengobatan tradisional merupakan pengobatan yang memanfaatkan bahan-bahan di alam untuk penyembuhan berbagai penyakit. Pengobatan tradisional yang masih berkembang dan terus digunakan sampai saat ini salah satunya berasal dari masyarakat Jawa.

Konsep pengobatan tradisional masyarakat Jawa memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit. Mereka memandang penyakit tidak saja pada penyebabnya, melainkan juga alasan seseorang menjadi sakit. Mereka mempercayai sakit merupakan akibat rangkaian hubungan individu dengan lingkungan. Individu itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis.

Oleh sebab itu, pada masyarakat Jawa penyakit dipercaya sebagai bentuk guna-guna. Terdapat berbagai macam proses penyembuhan penyakit yang diterapkan pada masyarakat Jawa yang proses pengobatannya tidak dapat dipisahkan dari religi dan kepercayaan.

Penggunaan jamu dalam proses penyembuhan penyakit tidak hanya menggunakan bahan-bahan dari alam, tetapi terdapat juga kepercayaan, doa-doa, ritual, dan sihir sehingga masyarakat Jawa menganggap jamu dapat menyembuhkan suatu penyakit. Lebih lengkapnya, mari menengok sedikit mengenai sejarah jamu hingga khasiatnya.

Sejarah Jamu dan Awal Kemunculan

Kemunculan jamu sebagai bentuk pengobatan telah ada sejak zaman kerajaan Hindu Buddha di Jawa. Hal tersebut ditandai dengan adanya relief yang menggambarkan orang yang sedang meracik dan meminum jamu pada relief Candi Borobudur tahun 722 Masehi di Jawa Tengah. Penggambaran tersebut terdapat di panil 19 relief Karmawibhangga di dasar candi bagian tenggara.

Bukti lain yang menunjukkan penggunaan jamu juga dapat ditemukan pada prasasti Madawapura dari kerajaan Majapahit. Dalam prasasti Madawapura, disebutkan adanya profesi tukang meracik jamu yang disebut acaraki. Selain itu, bukti penggunaan jamu ditemukan juga dalam bentuk tulisan berupa usada lontar di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno.

relief-O-19
Panil 19 Relief Karmawibhangga Candi Borobudur

Penggunaan istilah jamu pada budaya Jawa muncul pada pertengahan abad 15-16 Masehi yang tercantum dalam primbon di Kartasuro. Menurut bahasa Jawa Kuno, kata “jamu” berasal dari singkatan dua kata yaitu djampi dan oesodo. Kata djampi berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan dan doa atau ajian, sedangkan kata oesodo berarti kesehatan.

Secara lengkap, uraian mengenai jamu dapat ditemukan dalam manuskrip Jawa, seperti Serat Centini yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Adipati Anom Mangkunegoro III pada 1810-1823. Selain itu pada 1850, R. Atmasupana II pernah menulis sekitar 1.734 ramuan jamu.

Penggunaan jamu dalam pengobatan juga menarik perhatian dokter-dokter berkebangsaan Belanda, Inggris, dan Jerman yang berada di Indonesia pada masa kolonial Belanda awal abad ke-17. Mereka melakukan penelitian dan menuliskannya ke dalam buku, salah satunya berjudul Practical Observations on a Number of Javanese Medications yang ditulis oleh dr. Carl Waitz pada tahun 1829. Buku tersebut menjelaskan bahwa obat yang umum digunakan di Eropa dapat diganti dengan tumbuhan dari Indonesia yang berupa jamu.

Peran Jamu dalam Pengobatan Tradisional

Konsep sakit pada masyarakat Jawa tidak hanya berkaitan dengan kondisi tubuh saja, tetapi juga adanya hal-hal mistis dan campur tangan lingkungan yang dipercaya menjadi penyebab tidak seimbangnya kondisi tubuh. Jamu pada masyarakat Jawa tidak hanya berupa ramuan saja, tetapi juga gabungan antara kepercayaan, doa, ritual, dan sihir yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

Dengan menggunakan konsep yang harmonis, jamu dipercaya dapat menyeimbangkan seseorang dengan lingkungannya melalui unsur panas dan dingin yang di dalam tubuh. Khasiat yang dihasilkan jamu tidak muncul secara instan, tetapi bergantung pada penggunaan secara rutin dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jamu tidak berfungsi seperti obat-obatan modern yang membunuh bakteri atau virus yang menyebabkan penyakit, tetapi membantu organ tubuh memproduksi antibodi mereka sendiri. Terdapat tiga kategori bahan di dalam jamu, yaitu bahan utama pembuatan, bahan pendukung pembuatan, dan bahan yang digunakan untuk meningkatkan rasa jamu.

Banyak jenis tumbuhan yang dapat digunakan dalam pembuatan jamu, tetapi bahan yang paling banyak digunakan adalah jahe dan kunyit. Menurut WHO (World Health Organization), jahe merupakan tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai tumbuhan obat. Terdapat 200 spesies jahe, tetapi ginger officinale yang paling umum digunakan. Sedangkan kunyit dapat ditemukan hampir di semua ramuan jamu.

Selain dua jenis tumbuhan tersebut, masih banyak jenis tumbuhan lain yang digunakan di dalam jamu. Misalnya akar alang-alang yang digunakan untuk peluruh air seni, pala untuk mengobati diare, cengkih untuk mengobati rasa nyeri, kencur untuk radang telinga dan mata, serta kayu manis dan jeruk nipis untuk mengobati demam.

Bahan tambahan digunakan untuk meningkatkan rasa jamu yang biasanya tidak enak atau memiliki rasa yang tajam, dapat berupa gula ataupun madu. Rasa manis yang dihasilkan dapat memperbaiki rasa jamu.

Selain membuat jamu sendiri, pada umumnya masyarakat Jawa membeli jamu dari pedagang keliling. Pedagang jamu keliling yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu adalah pedagang jamu gendong. Pedagang ini meletakkan jamu dan peralatannya di dalam sebuah keranjang dan menggendongnya di belakang punggung. Ada juga pedagang jamu yang menggunakan gerobak untuk membawa barang dagangannya.

Jonge vrouw die terugkomt van de markt met koopwaar op de rug (1935 Tropenmuseum)
Pedagang Jamu Gendong Tahun 1935
Sumber: Tropenmuseum

Bagaimana, Teman Cerita, apakah sudah lebih memahami sejarah jamu dari Jawa? Semenjak merebaknya Covid-19, pamor jamu kembai meningkat dan banyak masyarakat Indonesia yang berburu minuman ini. Jamu dipercaya dapat memperkuat kekebalan tubuh sehingga bisa terhindar dari Covid-19. Semakin meningkatnya pamor jamu, semakin banyak pula bermunculan berbagai jenis jamu. Bahkan bukan menjadi hal sulit untuk menemukan jamu dengan rasa yang “lebih ramah” di lidah. Jadi, sudahkah kamu minum jamu hari ini?

Shafrina Fauzia

Shafrina Fauzia

Nulis agar rajin baca

Artikel Lainnya