Budaya

Jarik, Jenis Penggunaan Kain Tradisional

Teman cerita, apakah ada yang tahu apa saja jenis penggunaan kain tradisional? Jika kamu belum tahu, skalacerita akan mengajakmu untuk mengenal salah satu jenis penggunaan kain tradisional, yaitu jarik. Penasaran jarik adalah kain yang seperti apa? Simak cerita selengkapnya, ya!

Jarik adalah Kain Panjang yang Bermakna

Bagi teman cerita yang sudah mengenal batik, pasti tidak asing dengan istilah jarik. Nah, jarik adalah kain panjang batik yang lebarnya sekitar 110 cm dan panjangnya sekitar 260 cm. Namun, tentu saja ukuran ini tidak saklek. Ada kain yang ukurannya lebih panjang atau pendek.

Jarik atau Kain Panjang (sumber: Nian S. Djumena, 1990)

Dalam kebudayaan Jawa, jarik memiliki makna yang cukup dalam yaitu Ojo gampang sirik. Bagi para pemakainya baik pria maupun perempuan, diharapkan tidak menjadi manusia yang mudah iri hati kepada sesama. Selain itu, kain panjang ini juga berpesan agar perempuan hendaknya berjalan dengan hati-hati, lebih anggun, dan lemah lembut.

Bagi teman cerita yang ingin mencoba menjadi anggun, cobalah berlatih dengan jarik saat beraktivitas. Gantilah celanamu dengan kain panjang, siapa tahu setelah satu bulan memakainya bisa seperti puteri keraton yang anggun dan lemah lembut.

Baca juga: Banyumas juga punya batik, lho! Yuk berkenalan dengan batik Banyumas.

Perbedaan Jarik Solo-Yogya dan Pesisir

Sehelai kain batik yang berbentuk empat persegi panjang ini memiliki banyak sebutan. Setiap daerah memiliki penyebutannya masing-masing. Misalnya di wilayah Sunda, jarik dikenal dengan nama samping atau sinjang. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta, penyebutan jarik untuk perempuan dan pria berbeda. Kain panjang untuk perempuan disebut tapih atau sinjang, dan untuk kaum pria disebut bebed.

Menurut Nian S. Djumena dalam bukunya Batik dan Mitra, jarik dari wilayah Yogyakarta-Surakarta dan Pesisir memiliki perbedaan yang mudah dikenali. Kain panjang dari dua keraton ini biasanya tidak memiliki kepala kain pada ujung kainnya dan hiasan pinggirnya seringkali polos atau sangat sederhana. Sedangkan dari pesisir biasanya memiliki hiasan pinggir yang dalam bahasa Jawa disebut sered.

Baca juga: Yuk kenali daerah penghasil batik di Nusantara!

Menentukan Status Sosial dari Jarik

Teman cerita, apakah kamu tahu bagaimana cara memakai jarik? Jarik biasanya akan dililitkan pada pinggang berulang kali. Pada pria, kain dililitkan dari kanan ke kiri sedangkan untuk perempuan dari kiri ke kanan. Pada acara resmi, ujung kain yang berada di luar akan diwiru atau dilipat agar penampilan lebih rapi dan resmi.

Perbedaaan pemakaian kain panjang oleh perempuan dan laki-laki (sumber: KITLV)

Pada masa lalu, cara pemakaian jarik bisa menentukan status sosial seseorang, loh. Bagaimana cara mengetahuinya?

Nian S. Djumena dalam bukunya Batik dan Mitra menyebutkan bahwa di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, cara pemakaian kain berkaitan erat dengan kedudukan sosial, upacara adat, usia, dan sebagainya. Berikut ini ada tiga contoh pemakaian kain.

  1. Gaya Sabukwolo akan dikenakan oleh anak perempuan dan laki-laki yang belum dikhitan. Kain bawahannya berupa kain batik, cinde atau cinden. Anak perempuan biasanya akan memakai kebaya berpita atau berenda mas sebagai busana atas. Sedangkan untuk anak laki-laki biasanya memakai beskap.
  2. Gaya Sabukwolo Mekak biasanya dikenakan oleh anak perempuan sudah dikhitan dan belum haid. Pemakaiannya sama dengan gaya sabukwolo, busana atasnya berupa kutang tanpa tali yang terbuat dari beludru polos dengan hiasan pita, renda atau bordiran benang mas.
  3. Gaya Sereddan adalah pemakaian kain tanpa lipatan atau wiron. Sebagian ujung kain bagian depan dilepas dan kainnya bisa diatur dengan berbagai bentuk dan gaya. Biasanya gaya ini hanya dipakai oleh keluarga dekat raja seperti permaisuri, putri, cucu, dan menantu. Gaya ini juga bisa dipakai saat menari.

Baca juga: Bagaimana eksistensi perempuan Nusantara pada iklan Hindia Belanda?

Teman cerita, sekarang sudah tahu kan pengertian dari kain jarik adalah kain panjang dengan motif fenomenal dan bagaimana cara pemakaiannya. Bagi kamu yang memiliki kain batik, jangan lupa untuk bereksperimen cara pemakaiannya. Saat ini, sudah banyak loh yang memakainya saat jalan-jalan atau pergi ke pusat perbelanjaan. Kain panjang batik ini tidak melulu identik dengan orang tua, tetapi banyak juga anak muda yang sudah memakainya. Yuk, pakai jarik!

Baca juga: Selami lebih dalam pengetahuanmu tentang batik di beberapa museum batik ini!

Daftar Referensi:

  1. Djumena, N. S. (1990). Batik dan Mitra: Batik and its kind. Penerbit Djambatan.
  2. Doellah, S. (2002). Batik: Pengaruh zaman dan lingkungan. Danar Hadi.
Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Cerita Vespa di Indonesia

“Tak habis dimakan waktu”, begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk menggambarkan cerita dari skuter pabrikan Piaggio asal Italia, Vespa. Mulanya… Baca Selengkapnya

1 minggu Lalu

Contoh Kerajinan Non Benda dan Pengertiannya

Kerajinan non benda merupakan hasil karya seni yang tidak berupa benda sehingga bentuk kerajinan ini hanya bisa dirasakan dan tidak… Baca Selengkapnya

1 bulan Lalu