Budaya

Keroncong Tugu: Musik dalam Balutan Sejarah

Keroncong Tugu adalah grup musik khas masyarakat keturunan Portugis di Indonesia. Semula, pemerintah Hindia Belanda menyingkirkan mereka ke luar Batavia. Wilayah relokasi tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Tugu.

Perpaduan Beragam Budaya

Para pemusik yang yang kerap tampil dengan baju koko berwarna putih, berpadu dengan pantalon batik, syal, dan topi baret berwarna hitam ini mementaskan kesenian keroncong dengan memadukan beberapa budaya sekaligus. Alunan lirik dalam lagu-lagunya pun terbilang unik karena menggabungkan bahasa Kreol Portugis, Belanda, dan Melayu.

Sebagai pewaris budaya Portugis, Keroncong Tugu juga mengadopsi alat musik khas Portugal, salah satunya adalah gitar cavaquinho. Masyarakat Kampung Tugu kemudian membuat tiruannya menjadi gitar kecil berdawai 5 yang terdiri dari beberapa ukuran, yaitu macina, prounga, dan jitera.

Krontjong Toegoe disinyalir sebagai pionir musik keroncong tanah air. Penggemarnya yang datang dari berbagai lapisan masyarakat juga menilainya sebagai kesenian baru di antara musik klasik Barat dan musik gamelan.

Keroncong Tugu dari Generasi ke Generasi

Masyarakat Kampung Tugu semula hanya menjadikan keroncong sebagai media hiburan sehari-hari. Sehingga pada masa awal bermukim yang bermula di tahun 1661, belum ada struktur yang mengatur. Baru pada tahun 1925, ketika Jozef Quiko dan Bernard Quiko mendirikan Orkes Keroncong Moresco Toegoe (OKMT) I yang berlangsung hingga 1935.

Setelah itu, kepengurusan mulai diteruskan dari generasi ke generasi. Jacobus Quiko dan Bartho Quiko melanjutkannya dengan mendirikan OKMT II yang eksis mulai dari tahun 1950 hingga 1970. Kondisi politik di Indonesia pada tahun 1970 yang tidak kondusif sempat menyurutkan sinar Keroncong Tugu.

UNESCO Mengantarkan Keroncong Tugu Pada Dunia Internasional

Satu tahun setelahnya, yaitu tahun 1971, UNESCO mulai melakukan rekaman Keroncong Tugu yang menjadi publikasi internasional pertama sehingga berhasil membangkitkan kembali semangat kelompok musik ini.

Personil yang ikut serta dalam rekaman UNESCO adalah adalah Frans Abraham (gitar), Fernando Quiko (tamborin), Oma Christine (vokal), Opa Waas (macinas), Elpido Quiko (triangle), Arnd Michiels (cello), Jacobus Quiko (biola), Joseph Quiko (gitar), Marther Sopahaluwakan (ukulele), dan Samuel Quiko (ukulele 2).

Setelah itu, Jacobus Quiko mengganti nama regu musik ini menjadi OK Moresco Toegoe Poesaka Anno 1661. Penambahan tahun 1661 berguna sebagai pengingat awal masyarakat Mardjiker bermukim di Kampung Tugu.

Di tahun 1991, Keroncong Tugu terbagi menjadi dua kelompok. Samuel Quiko yang memimpin OK Cafrinho Tugu (OKCT) dan Arnd Michiels yang mengepalai OK Toegoe (OKT).

Mereka melalukan pemecahan ini bukan tanpa alasan, dengan OKCT yang berorientasi pada bisnis pertunjukkan dan memenuhi permintaan pasar agar dapat terus mementaskan keroncong. Sedangkan OKT lebih bertujuan untuk melestarikan sekaligus  menjadi representasi Keroncong Tugu modern.

Hingga kini, eksistensi Keroncong Tugu masih terjaga dan menjadi peninggalan Portugis di Indonesia dalam bentuk kesenian musik. Mereka kerap tampil di berbagai acara yang berkaitan dengan kebudayaan di wilayah DKI Jakarta. Regu musik ini juga bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi serta berpartisipasi dalam Festival Internasional Budaya Nusantara – Portugal.

Kelompok pemusik yang kerap tampil jenaka kini menjadi bagian berharga milik DKI Jakarta sekaligus menunjukkan keberagaman etnis dan kultur yang terus hidup serta tidak terpisahkan dari Jakarta.

Zara Damaris

Mahasiswa Jurnalistik yang gemar membaca dan menulis berbagai isu terkait kebudayaan dan sejarah.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

4 hari Lalu