Cerita Lama

Kisah Cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati

Teman Cerita, masih dalam minggu valentine serunya bahas tentang kisah percintaan, nih. Kali ini skalacerita akan membahas dewa dan dewi Hindu yaitu tentang kisah cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Dewa Siwa adalah dewa Hindu dalam mitologi Hindu yang dikenal sebagai dewa tertinggi dan memiliki banyak pemujanya, khususnya di Indonesia pada masa lalu. Mitos tentang Dewa Siwa dapat diketahui dari beberapa kitab suci agama Hindu seperti kitab-kitab Brahmana, Mahabharata, Purana, dan Agama.

Dewi Parwati adalah sakti atau pasangan dari Dewa Siwa. Nama lain dari Dewi Parwati adalah Uma yaitu Ibu Alam / Bunda Semesta, Durga, Dewi Kali, dan Sati. Bersama Dewa Siwa, Parwati memiliki anak Dewa Kartikeya atau Skanda dan Dewa Ganesha.

Nah, berikut sekelumit cerita dari kisah cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Reinkarnasi Sati

Kisah cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati pada awalnya tidak berjalan mulus. Hal ini tertulis dalam Kitab Lingga-Purana. Dulu, sebelum bersama dengan Dewi Parwati, Dewa Siwa pernah memiliki istri yang bernama Sati. Dia adalah anak dari Daksa dan Prasuti. Daksa sendiri merupakan anak dari Dewa Brahma.

Diceritakan bahwa Daksa tidak suka dengan Dewa Siwa dan tidak menghiraukannya. Sati yang marah terjun ke dalam api Yadnya. Karena kematian Sati, Dewa Siwa murka dan akhirnya memutuskan untuk bertapa di atas gunung Himalaya selama bertahun-tahun.

Dalam masa pertapaannya, lahirlah Dewi Parwati. Ia adalah putri dari raja kerajaan di Himalaya, Himawan dan Mena. Parwati sebenarnya adalah Sati “yang lahir kembali”.

Terpanah Dewa Asmara

Arca Dewa Siwa dan Dewi Parwati (BPCB DIY)

Parwati yang memang ditakdirkan untuk menikah dengan Siwa nekat mendaki ke Iswaraloka, melewati wilayah bersalju abadi yang suhunya mencapai di bawah nol derajat Celcius ke tempat Siwa bertapa, Iswaraloka atau puncak Gunung Kailash.

Pada awalnya Iswaraloka merupakan tempat yang hangat dan penuh bunga, namun semenjak kematian Sati, Siwa mengubahnya menjadi padang es abadi dan Siwa tenggelam dalam tapanya selama bertahun-tahun. Tak ada satupun yang bisa membangunkan Siwa dari tapanya itu sehingga kedatangan Parwati hampir nihil.

Dalam perjalanannya, Parwati nyaris tewas karena suhu yang sangat dingin. Dewa Indra yang khawatir akhirnya mengutus Dewa Kama untuk membangunkan Siwa dari tapanya. Kama memanah Siwa dan membuatnya terbangun. Sayangnya, Siwa yang merasa kesal terganggu membakar Kama sampai menjadi debu dengan api yang keluar dari mata ketiganya.

Efek lain dari panah Kama selain bisa membangunkan Siwa tapi juga membuatnya ‘jatuh cinta’ kepada Parwati. Akhirnya mereka bersatu lagi dan Iswaraloka dipenuhi dengan aneka bunga.

Mungkin Dewa Kama ini bisa diibaratkan sebagai cupid ya, gengs!

Bermain hingga Muncul Mata Ketiga

Sepertinya Dewi Parwati sama dengan kebanyakan perempuan lainnya, sangat suka bermain dengan pasangannya. Dalam kitab Mahabharata dituliskan bahwa ketika Dewi Parwati sedang asyik bersantai dengan Dewa Siwa, dia menutup mata Dewa Siwa dengan kedua tangannya.

Sepertinya karena perbuatan Dewi Parwati, dunia dalam keadaan kacau, sehingga harus muncul mata ketiga dari kening Dewa Siwa untuk mengembalikan keadaan dunia seperti keadaan semula.

Hem, nakal juga ya dewi yang satu ini.

Kekhawatiran Parwati

Dulu sekali, ketika para dewa sedang melakukan pengadukan lautan susu untuk mendapatkan amerta, dari sana keluar juga racun yang bisa membunuh para dewa. Untuk menyelamatkan para dewa, Dewa Siwa akhirnya bersedia untuk menelan racunnya. Dewi Parwati yang sangat takut Dewa Siwa mati, akhirnya menekan leher Siwa agar racunnya tidak mengalir ke bawah. Akibatnya racun terhenti di tenggorokan dan meninggalkan warna biru pada kulit leher Siwa.

Bersatunya Siwa dan Parwati

Penyatuan Siwa dan Parwati (WikimediaCommons)

Dalam Kitab Sivaparakramagama tertulis mitologi tentang penyatuan Siwa dan Parwati dalam perwujudan sebagai Ardhanarisvaramurti yang berarti wujud dewa setengah perempuan.

Cerita dimulai ketika Siwa sedang duduk bersama Uma di atas singgasananya. Brahma, Wisnu, dan para dewa serta para resi berdatangan untuk memberi hormat serta meminta anugerah. Di antara para resi tersebut terdapat Bhrngi. Dia adalah pengikut setia Dewa Siwa. Saat memberikan hormat kepada Siwa, dia tidak menghiraukan Uma sehingga membuat Uma marah.

Uma bertekad untuk menundukan Bhrngi. Akhirnya dia mengambil semua kekuatan Bhrngi yang terdiri dari darah, daging, dan semangatnya. Bhrngi merasa lemah, tidak kuat berdiri, dan di dalam tubuhnya hanya tersisa tulang dan urat, serta keyakinannya terhadap Dewa Siwa. Siwa yang merasa kasihan akhirnya memberi satu kaki tambahan sehingga Bhrngi bisa berdiri dan menyanyikan pujian bagi Siwa.

Kejadian ini menyadarkan Uma atas kekeliruannya dan timbul hasrat untuk menyatukan diri dengan Siwa agar mendapatkan penghormatan yang sama. Untuk menebus kesalahannya dan dalam upaya mencapai keinginanya, Uma berniat bertapa di gunung Meru.

Setelah mendapat izin Siwa, akhirnya dia pergi bertapa. Setelah dirasa ‘cukup’, Siwa pergi menemui Uma dan menanyakan keinginannya. Ketika Uma menjawab bahwa dia ingin menjadi satu tubuh dengan Siwa, segeralah Siwa meletakkan Uma di sebelah kiri tubuhnya. Mereka bersatu menjadi separuh Siwa dan separuh Uma.

Marah karena Diejek Siwa

Matsya Purana menceritakan bahwa suatu kali Dewa Siwa menolak dan mengejek Dewi Parwati yang warna kulitnya gelap dan menyebutnya hitam (Kali). Hal ini membuat Parwati marah dan melakukan tapa. Saking kerasnya Parwati bertapa dari tubuhnya keluar Durga Saptamar ka dan Yogini dengan wajah yang mengerikan.

Brahma yang menyaksikan tapa sang dewi akhirnya memberi anugerah kepadanya berupa warna kulit keemasan, dan menjanjikan bahwa Parwati pada saatnya akan menjadi bagian dari tubuh Siwa.

Hem, jadi jangan macam-macam ya guys kalau membuat pasangan kalian marah. Siapa tahu mereka akan berubah menjadi Durga yang mengerikan. Hehehe.

Nah, itulah beberapa cuplikan dari kisah cinta Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Kisah mereka tidak kalah dari kisah Dewa Dewi Yunani dan Romawi kuno, kan? Tunggu kisah cinta Dewa Dewi Hindu selanjutnya ya, guys!

Referensi

Maulana, R. (1993). Siva dalam berbagai wujud: suatu analisis ikonografi di Jawa masa Hindu-Budha (Vol. 1). Universitas Indonesia, Fakultas Sastra.

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kue Kudapan Khas Betawi

Halo teman cerita! Jakarta mempunyai suku asli yaitu suku Betawi. Tentu setiap suku memiliki keunikannya sendiri, tidak terlepas keunikan kulinernya… Baca Selengkapnya

40 menit Lalu

Bagaimana Sikap Menghargai Kebudayaan Daerah

Sebagai negara yang memiliki ragam daerah luas tentu saja kebudayaan daerah Indonesia sangat beragam, lantas bagaimana sikap menghargai kebudayaan daerah… Baca Selengkapnya

23 jam Lalu