Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Berbagai lembaga survei perkotaan menempatkan kota-kota di Indonesia termasuk ke dalam kota yang buruk dari segi penataan dan kepedulian lingkungan. Namun, tahukah kalian? Satu abad yang lalu, kota-kota di Indonesia pernah berkembang dengan konsep penataan kota ramah lingkungan.

Seperti apakah konsep kota ramah lingkungan tersebut? dan bagaimana penerapannya di Indonesia? Yuk, simak artikel ini selengkapnya

Gagasan Kota Ramah Lingkungan

Gagasan kota ramah lingkungan sangat erat kaitannya dengan Revolusi Industri yang terjadi di Eropa. Revolusi Industri yang bergulir sejak pertengahan abad ke-18 ternyata tidak sepenuhnya membawa dampak positif. Di balik kecemrlangannya, Revolusi Industri ternyata menyisakan dampak buruk bagi dunia, terutama pada persoalan lingkungan.

Semasa Revolusi Industri, kegiatan perindustrian terpusat pada daerah-daerah perkotaan. Pembangunan dan pengembangan perkotaan melaju begitu cepat demi menunjang aktivitas industri. Akan tetapi, kebanyakan pengembangan kota industri pada saat itutidak terencana dengan baik dan seringkali mengabaikan aspek lingkungan. Akibatnya muncullah permasalahan kota yang serius seperti pencemaran limbah pabrik, pencemaran udara, dan tumbuhnya permukiman pekerja padat penduduk.

Permasalahan tersebut mendorong terjadinya gerakan Reformasi Perkotaan di Eropa. Gerakan tersebut bergulir pada akhir abad ke-19 dengan tujuan menghasilkan solusi untuk menanggulangi permasalahan lingkungan di perkotaan akibat industri. Solusi yang dihasilkan dari gerakan Reformasi Perkotaan adalah sebuah konsep baru penataan kota, yakni konsep “kota taman”.

Hadirnya konsep tersebut, tidak terlepas dari peran seorang tokoh bernama Sir Ebenezer Howard. Beliau merupakan seorang ahli perkotaan asal Inggris yang tertarik menuangkan idenya dalam gerakan Reformasi Perkotaan. Howard menawarkan kota taman sebagai suatu konsep penataan kota yang maju sekaligus peduli terhadap lingkungan.

Menurut Howard, kunci utama dari konsep “kota taman” adalah pada unsur penysusun kota dan strategi penggunaan lahan yang tepat. Melalui bukunya yang berjudul “Garden City of To-morrow”, Howard menyebutkan unsur penyusun dari suatu kota taman di antaranya adalah taman, jaringan jalan, bangunan hunian, bangunan umum, kawasan industri, jalur hijau,dan jalur kereta api. Penataan terhadap unsur-unsur tersebut harus menggunakan perhitungan yang tepat dan mendalam agar berfungsi efektif dan efisien.

Kota Taman Pertama di Indonesia

Konsep “kota taman” pertama kali diterapkan pada pembangunan kota Letchworth di Inggris tahun 1905. Kemudian, negara-negara di Eropa dan Amerika menerapkan konsep yang sama pada pembangunan kota-kotanya. Saat itu, Indonesia yang masih berada di bawah jajahan Belanda juga masuk ke dalam rencana penataan kota dengan konsep kota taman. Orang-orang Belanda menerapkan konsep kota taman yang sebelumnya telah diterapkan di Belanda pada negara-negara jajahannya.

Kota taman pertama Indonesia berada di daerah selatan Batavia. Pembangunan ini berlangsung sejak tahun 1920 di daerah yang sekarang kita kenal dengan nama Menteng. Mulanya, pemerintah kolonial Belanda memindahkan pusat pemerintahan kolonial dari Oud Batavia ke Weltervreden karena kondisi lingkungan Oud Batavia yang tidak sehat dan menimbulkan wabah penyakit mematikan.

Taman kota
Taman Suropati Menteng (sumber: Wikimedia commons)

Belanda mengembangkan Weltervreden sebagai pusat pemerintahan baru sehingga bangunan-bangunan pemerintahan dan pemukiman mulai memadati Weltervreden. Seiring dengan perkembangan Weltervreden, ketersediaan lahan semakin menipis sehingga butuh daerah baru untuk perluasan kota. Kebutuhan akan lahan baru untuk perluasan Weltervreden kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan Menteng.

Pemerintah Kolonial Belanda membangun Menteng pada tahun 1920 dengan menerapkan konsep kota taman.  Akan tetapi, sebagai wilayah perluasan dari kota sebelumnya, Menteng tidak menerapkan konsep tersebut sepenuhnya. Penerapan konsep kota taman di Menteng lebih menekankan penataan daerah pemukiman baru yang sehat dan tertata, sedangkan pusat pemerintahan kolonial tetap berada di Weltervreden.

Pembangunan Menteng berlangsung secara bertahap. Penataan jaringan jalan menggunakan model jalan-jalan bercabang serta menekankan kelancaran mobilitas kendaraan.  Bangunan hunian dan bangunan umum menggunakan gaya indis, perpaduan antara arsitektur Belanda dengan arsitektur lokal untuk menyesuaikan iklim tropis di Indonesia. Ruang terbuka hijau yang menjadi hal penting dalam pembangunan Menteng tercermin dari keberadaan taman-taman kota dan pepohonan yang ditanam di pinggir jalan.

Pada periode tahun 1930-1940an, Menteng terus berkembang sebagai wilayah yang tersusun oleh unsur-unsur kota ramah lingkungan ala Sir Ebenezer Howard. Jaringan jalan, bangunan hunian, bangunan umum, dan jalur kereta api tersusun secara rapi dan sistematis. Ruang terbuka hijau juga mendominasi Menteng dengan adanya empat taman kota dan pepohonan di sepanjang jaringan jalan. Hal tersebut menjadikan Menteng sebagai kota taman pertama di Indonesia yang asri dan nyaman bagi penduduknya.

Perkembangan Kota Taman di Indonesia

Beriringan dengan perkembangan Menteng sebagai kota taman, kota-kota lain di Indonesia juga mulai menerapkan konsep serupa dalam pembangunannya. Belanda menerapkan konsep kota taman pada kota-kota di pulau Jawa dan Sumatera meliputi Bandung, Bogor, Semarang, Malang, Medan, dan Padang. Pembangunan kota-kota tersebut sebagian besar menggunakan jasa seorang arsitek Belanda bernama Herman Thomas Karsten.

Penerapan konsep kota taman rancangan Karsten sedikit berbeda dengan penerapannya di Eropa dan Amerika. Karsten memadukan konsep kota taman dengan iklim tropis di Indonesia dengan menambahkan elemen penanaman pohon besar dan rimbun pada taman-taman kota. Elemen pepohonan rimbun sebelumnya tidak masuk dalam konsep kota taman di Eropa dan Amerika.

Kasrten menganggap bahwa elemen pepohonan rimbun dan besar cocok untuk daerah iklim tropis. Pepohonan yang rimbun memiliki fungsi ekologis yang baik dengan menyediakan sumber oksigen dan tempat tinggal bagi makhluk hidup selain manusia. Di samping itu, Karsten juga merancang pembangunan jaringan jalan, bangunan umum, dan bangunan hunian yang efisien, sehat, dan sesuai dengan iklim tropis di Indonesia.

Taman kota
Kota Taman Kencana Bogor (sumber: lovely Bogor)

Pada rentang waktu 1920 hingga 1940, kota-kota taman di Indonesia terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Kota-kota tersebut tumbuh sebagai kota yang sehat dan nyaman bagi penduduknya. Sayangnya, pada masa pendudukan Jepang hingga masa kemerdekaan, penataan kota pada kota-kota tersebut mulai melenceng dari konsep awalnya.

Perluasan kota berlangsung secara terus menerus tanpa perencanaan dan pengendalian yang baik. Hasilnya, kota-kota yang sebelumnya tumbuh sehat dan indah berkembang menjadi kota yang tidak sehat dan tidak teratur. Di masa sekarang, sisa dari pengembangan konsep kota ramah lingkungan di Indonesia pada masa lalu hanya dapat kita lihat dari taman-taman pusat kota yang untungnya masih dipertahankan.

Artikel Lainnya