Kue Keranjang: Kue Khas Imlek Penuh Makna

Perayaan Imlek selalu punya ciri khas. Mulai dari semarak warna merah, kemunculan barongsai, hingga berbagai makanan unik. Makanan yang pasti selalu ada ketika Imlek adalah kue keranjang. Teman Cerita pasti pernah kan melihat kue keranjang khas Imlek?

Di Tiongkok, kue keranjang disebut Nian Gao. Nian berarti tahun dan Gao berarti kue, sehingga sering kali dikenal sebagai kue tahunan. Istilah kue tahunan cukup tepat karena kue ini memang hanya bisa ditemukan sekali dalam setahun, tepatnya pada perayaan Imlek.

Kue berwarna kecoklatan ini, terbuat dari tepung ketan dan gula yang diaduk hingga menjadi adonan lengket dengan rasa manis. Lalu hubungannya sama keranjang apa ya? Nah, hal ini berkaitan dengan proses pencetakan kuenya. Untuk mencetak adonan kue, digunakan keranjang bulat terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi daun pisang atau plastik.

kue keranjang imlek
Sumber: whattocooktoday

Proses pembuatan kue keranjang membutuhkan waktu lama dan tenaga dari banyak orang. Mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, penyimpanan adonan, pencampuran kembali adonan, hingga akhirnya adonan dicetak. Proses panjang ini menghasilkan kue keranjang yang tahan lama, hingga enam bahkan dua belas bulan ke depan. Di negara asalnya, kue keranjang bahkan menjadi makanan simpanan untuk musim dingin.

pembuatan kue
Sumber: Kompas

Persembahan untuk Dewa

Masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia kebanyakan berasal dari wilayah Cina bagian selatan. Proses migrasi ini menjadi awal dikenalkannya budaya Tionghoa yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Dalam ajaran Konfusianisme terdapat konsep sembahyang untuk mengenang dan menghormati para leluhur.

Penghormatan para leluhur ini dilakukan dengan menggelar upacara persembahan ketika Imlek. Dalam budaya Tionghoa, makanan manis sering kali digunakan sebagai persembahan, salah satu yang wajib adalah kue keranjang. Kue keranjang digunakan sebagai bentuk pemujaan kepada Dewa Dapur.

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa zaman dulu, di setiap rumah terdapat Dewa Dapur yang dipercaya mengawasi segala perilaku manusia. Setiap tahun di tanggal 23 bulan ke-12 dalam penanggalan Imlek, Dewa Dapur akan melakukan perjalan ke langit untuk melaporkan segala perilaku keluarga tempatnya berada kepada Tian.

Dewa Dapur diantar dengan membakar batang dupa, mempersembahkan sajian, dan menyulut mercon oleh si pemilik rumah. Peran kue keranjang menjadi penting di sini. Diharapkan dengan disajikannya kue tersebut, Dewa Dapur hanya akan menyampaikan hal yang baik-baik saja.

Kue Pembawa Sejuta Harapan

Kue keranjang tidak hanya disajikan untuk jadi makanan semata, tapi juga digunakan sebagai sesaji wajib dalam upacara persembahan. Penyajian kue keranjang dimulai dari tujuh hari menjelang dan pada malam sebelum Imlek.

Di hari kelima belas atau ketika perayaan Cap Go Meh, kue keranjang yang menjadi sesaji baru bisa dimakan. Masyarakat Tionghoa memiliki kepercayaan jika kue keranjang dimakan terlebih dulu, maka akan mendatangkan keberuntungan dalam pekerjaan.

Kue keranjang sesaji ditempatkan di meja altar bersamaan dengan foto leluhur, tempat hio, dan sajian lainnya. Penyusunan kue dilakukan bertingkat mulai dari yang ukurannya terbesar hingga terkecil sebanyak bilangan ganjil.

altar
Sumber: Okezone/Devi

Hal ini dilakukan dengan harapan meningkatnya kemakmuran di tahun yang akan datang. Tingkat kemakmuran keluarga juga bisa dilihat dari semakin banyak dan tinggi kue keranjang yang disajikan.

Kue keranjang khas Imlek tidak hanya memiliki makna dari penempatannya di meja altar saja, tetapi juga dari bentuk, rasa, hingga tekstur kue tersebut. Bentuk bulat kue keranjang menunjukkan kebulatan tekad dalam menjunjung persaudaraan di kehidupan bermasyarakat. Makna ini cukup dalam jika dikaitkan dengan hubungan sosial antarmanusia.

Rasa manis dan tekstur lengket kue keranjang juga memiliki makna tersendiri. Kue keranjang yang manis menggambarkan kebahagiaan dan sukacita, menikmati keberkataan, serta selalu memberikan yang terbaik dalam hidup. Sedangkan tekstur kue yang lengket melambangkan eratnya persatuan dan kerukunan.

Proses pembuatan kue keranjang juga menggambarkan usaha dan kerja keras yang perlu dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Pembuatannya yang memakan waktu lama memerlukan ketekunan dan ketelitian.

Selain itu, nilai-nilai kesopanan juga dijunjung tinggi dalam proses pembuatannya. Orang yang terlibat tidak boleh sembarangan berbicara dan berprasangka buruk. Hal ini dipercaya dapat menggagalkan kesuksesan kue keranjang yang dibuat.

Di balik sepotong kue keranjang khas Imlek, banyak makna dan harapan yang tersemat di dalamnya. Tidak hanya bagi penganut kepercayaannya, kue keranjang juga menjadi simbol pengharapan yang lebih universal. Jadi tidak salah kan jika menyebut kue keranjang sebagai kue pembawa sejuta harapan?

Yuk berharap dengan kue keranjang.

Shafrina Fauzia

Shafrina Fauzia

Nulis agar rajin baca

Artikel Lainnya