Makna Hari Raya Nyepi: Sebelum dan Sesudah Perayaan

Hari Nyepi menjadi peringatan pergantian Tahun Saka yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Hindu. Makna Hari Raya Nyepi menjadi momentum untuk memohon pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk melakukan penyucian terhadap manusia (Buana Alit) dan alam serta seluruh isinya (Buana Agung).

Hari Raya Nyepi yang erat dengan suasananya yang sepi tanpa aktivitas ternyata memiliki serangkaian ritual. Ritual-ritual ini dilakukan sebelum dan sesudah hari Nyepi dan mengandung makna yang berbeda-beda. Apa saja, sih? Berikut ritual-ritual yang dilaksanakan dalam perayaan beserta kandungan makna Hari Raya Nyepi:

  1. Ritual Melasti

Umat Hindu melaksanakan Ritual Melasti tiga sampai empat hari sebelum Hari Nyepi.  Ritual ini memiliki makna sebagai prosesi pengambilan air laut untuk menyucikan benda-benda pusaka. Inilah yang membuat Ritual Melasti selalu bertempat di pura yang terletak di dekat laut.

  1. Ritual Bhuta Yajna

Satu hari sebelum Hari Nyepi masyarakat Hindu akan melakukan Ritual Bhuta Yajna. Terdapat dua rangkaian dalam ritual Bhuta Yajna, yaitu Ritual Mecaru dan Pengerupukan. Melalui Ritual Mecaru, umat Hindu akan membuat sesajen untuk para Bhuta Kala. Sedangkan Pengerupukan adalah ritual yang terkenal dengan pawai ogoh-ogoh.

Pawai ogoh-ogoh menjadi acara meriah sebelum Hari Nyepi. Persiapannya juga memakan waktu yang lama, para pemuda banjar setidaknya memerlukan waktu dua hingga tiga bulan untuk merangkai ogoh-ogoh yang terlihat mengerikan. Gambaran menyeramkan erat kaitannya dengan ogoh-ogoh karena boneka yang terbuat dari bambu atau sterofoam ini sejatinya memiliki makna sebagai penggambaran akan hal-hal negatif yang berdampak buruk bagi hidup manusia.

Masyarakat akan mengarak ogoh-ogoh keliling daerah beserta dengan bunyi-bunyian gamelan. Seusai pawai, masyarakat akan membakar ogoh-ogoh yang menjadi simbol hal-hal buruk. Mereka melakukan ini sebagai harapan gangguan duniawai telah hilang dan tidak akan menganggu selama pelaksanaan Nyepi.

  1. Ritual Nyepi

Begitu Hari Nyepi tiba, masyarakat Hindu akan berdiam diri di rumah dan menerapkan tiga prinsip penting. Pertama, Amati Geni atau tidak menyalakan api. Kedua, Amati Lelungan yang bermakna tidak bepergian. Terakhir, Amati Lelanguan dengan arti masyarakat tidak boleh melakukan kesenangan duniawi, seperti menggunakan gadget atau menonton televisi. Ketiga prinsip ini bertujuan agar umat Hindu memperoleh makna yang sesungguhnya dari Hari Nyepi, yaitu memfokuskan diri pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Hari Nyepi berlangsung selama 24 jam yang dimulai dari matahari terbit hingga matahari terbit kembali di keesokan harinya. Selama Nyepi berlangsung, listrik dan layanan seluler di Pulau Bali akan dibatasi. Namun objek yang bersifat vital akan tetap beroperasi selama Hari Nyepi.

  1. Ritual Yoga/Brata

Ritual Yoga/Brata ini sebenarnya bukan termasuk ritual yang wajib. Hanya mereka yang sanggup yang akan melakukan ritual yang relatif berat ini. Dalam Ritual Yoga/Brata, pelaksananya akan bermeditasi dan puasa selama 24 jam penuh.

  1. Ritual Ngembak Agni

Ritual Ngembak Agni memiliki makna “menyalakan api” yang berarti aktivitas sudah kembali seperti biasanya. Masyarakat Hindu akan  melakukan ucap syukur bahwa mereka telah berhasil menyucikan diri melalui rangkaian Ritual Melasti, Butha Yajna, dan Nyepi.

  1. Ritual Dharma Shanti

Ritual Dharma Shanti menjadi penutup dari rangkaian ritual Tahun Baru Saka. Dharma Shanti memiliki filosofi sebagai perayaan persahabatan dan keharmonisan dengan sesama manusia. Masyarakat saling bersilaturahmi dengan mengunjungi keluarga dan kerabat selama Dharma Shanti.

Terdapat prosesi yang menarik selama Ritual Dharma Shanti berlansung, yaitu Ritual Omed-omedan. Ritual yang melibatkan pemuda dan pemudi bertujuan merekatkan keakraban dalam masyarakat dengan saling memeluk dan menarik dari dua kelompok.

Pandemi yang melanda Indonesia membuat beberapa rangkaian ritual ini ditiadakan demi mengurangi risiko penularan virus Covid-19. Meski demikian, semoga makna Hari Raya Nyepi akan selalu sama bagi Teman Cerita yang merayakan.

 

Rahajeng Nyepi Tahun Baru Saka 1943.

Zara Damaris

Zara Damaris

Mahasiswa Jurnalistik yang gemar membaca dan menulis berbagai isu terkait kebudayaan dan sejarah.

Artikel Lainnya