You are currently viewing Malaria yang Menghantui Hindia Belanda

Malaria yang Menghantui Hindia Belanda

Jauh sebelum pandemi covid-19, malaria pernah menjadi wabah yang menghantui Indonesia di masa Hindia Belanda. Kasus malaria pertama kali tercatat di Batavia tahun 1733. Penduduk yang tinggal di sekitar kanal Batavia secara tiba-tiba mengalami demam tinggi yang dapat berujung pada kematian.

Wabah yang awalnya hanya menjangkiti penduduk sekitar kanal kemudian mulai menjalar ke penduduk di dalam benteng kota. Tak ada yang mengetahui secara pasti dari mana wabah ini berasal. Penelitian ilmu kesehatan saat itu tidak cukup cepat untuk mengenali penyebab penyakit.

Sementara itu, Sejarawan Peter Boomgard dalam penelitian berjudul “The Development of Health Care in Java: An Exploratory Introduction” (1993), mencatat adanya laporan kesehatan pemerintah kolonial yang menduga malaria berkaitan dengan pembangunan kanal-kanal kota.

“Di abad ke-18, kita menghadapi beberapa epidemi malaria dan cacar lokal seperti di abad ke-17. Namun, pembangunan kanal di kota Batavia meningkatkan epidemi malaria di dalam dan sekitar kota secara ganas dengan puncak epidemi pada 1733-1738, 1745-1746, dan 1763-1767”

Secara logika dan penelitian ilmiah, dugaan itu tidak cukup kuat dan tidak pernah terbukti sepanjang abad ke-18. Akan tetapi, mengingat kanal Batavia saat itu yang kotor dan mengeluarkan bau tidak sedap, dugaan tersebut cukup masuk akal. Kondisi kanal Batavia memenuhi syarat untuk menjadi sarang penyakit.

Merebaknya Malaria di Hindia Belanda

Di masa pemerintahan Hindia Belanda pada abad ke-19, kasus malaria tak berhenti menjadi hantu menakutkan. Catatan arsip pemerintah kolonial cukup lengkap melaporkan kasus malaria yang terjadi di beberapa daerah pada abad ke-19 hingga abad ke-20.

Arsip Kolonial Verslag 1883-1884 menyebutkan adanya rentetan kasus malaria di Cirebon pada tahun 1882 yang menelan korban meninggal mencapai 3900 jiwa. Dugaan saat itu, malaria mewabah karena kondisi geografis Cirebon yang banyak memiliki rawa-rawa dan sungai.

Pada awal abad ke-20, malaria di Cirebon hadir dengan cara yang berbeda dari dugaan sebelumnya. Malaria mewabah beriringan dengan berkembangnya Cirebon menjadi kota industri. Masifnya pembangunan infrastruktur kota mengubah wajah Cirebon menjadi lebih maju.

Sayangnya, pembangunan pelabuhan, irigasi, dan kawasan industri justru memicu permasalahan baru. Industrialisasi Cirebon mendorong peningkatan jumlah penduduk yang berujung menjamurnya permukiman kumuh. Masyarakat mencurigai hal ini lah yang yang jadi penyebab malaria merebak kembali di Cirebon.

Mirip dengan Cirebon, kasus malaria muncul di Cihea, Jawa Barat pada tahun 1904. Cihea terpilih menjadi daerah untuk menjalankan politik etis Belanda. Pemerintah kolonial mencanangkan pembangunan irigasi untuk menyokong pertanian dan perusahaan swasta di Cihea.

Proyek pembangunan irigasi mulai berlangsung pada tahun 1891. Pemerintah kolonial memerintahkan penduduk untuk membendung aliran sungai Cisokan. Aliran dari bendungan ini nantinya akan mengaliri area persawahan yang dikelola penduduk lokal.

Pembangunan irigasi ini ternyata tidak semulus rencananya. Usai tersendat karena dana dan kekurangan tenaga kerja, proyek irigasi di Cihea baru rampung pada tahun 1904. Belum lagi, irigasi yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan penduduk justru menjadi bumerang.

Sistem irigasi yang modern tidak beriringan dengan kemampuan petani lokal untuk memanfaatkannya. Volume air yang tak terkontrol mulai menggenangi area persawahan penduduk dan menjadi sarang berkembangnya penyakit malaria.

Sejak beroperasinya irigasi pada tahun 1904, kasus malaria meningkat tajam di Cihea. Sejarawan W.J. Gorkom melaporkan tingginya kematian akibat malaria di Cihea, dari 22 Desa, tingkat kematiannya mencapai 50 persen.

Budidaya Kina, Upaya Hindia Belanda Perangi Malaria

Di tengah ketidakpastian asal-usul penyakit malaria, sebetulnya masyarakat dunia telah mengenal tanaman kina sebagai penangkal. Kina merupakan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi pegunungan Andes. Pemanfaatannya untuk menangkal malaria adalah dengan mengekstrak kinine, sari pati dari kulit pohonnya.

Sayangnya, kina yang hanya tumbuh di pegunungan Andes tidak cukup untuk memasok kebutuhan dunia yang saat itu juga tengah memerangi malaria. Kelangkaan ini mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan kina dengan menanam bibit kina secara mandiri di tanah jajahan.

Pada tahun 1852, pemerintah Hindia Belanda mendatangkan tanaman kina dari Prancis untuk uji coba penanaman di daerah Cibodas yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor. Tanaman kina ini adalah bibit asli dari Bolivia yang sempat disemaikan di Prancis pada tahun 1846.

Tanaman kina tersebut berhasil tumbuh dengan baik di Cibodas. Hal itu menjadi peluang besar bagi pemerintah Kolonial untuk membudidayakan kina secara besar-besaran di Hindia Belanda. Memasuki tahun 1854, botanikus J.K. Hasskarl mendatangkan bibit kina dari langsung dari Peru.

Bibit-bibit kina tersebut kemudian dikembangkan oleh botanikus bernama Franz Wilhelm Junghuhn di dataran tinggi Malabar, Jawa Barat. Selama bertahun-tahun, Junghuhn berupaya untuk mengembangkan bibit kina demi menghasilkan kandungan kinine yang tinggi. Sayang, sebelum upayanya berhasil, Junghuhn wafat pada tahun 1964 karena penyakit disentri amoeba yang ia derita.

Selanjutnya, upaya pengembangan kina di Jawa Barat beralih ke pimpinan Karel van Gorkom. Gorkom memulai upayanya dengan mengembangkan bibit kina berjenis cinchona ledgeriana, bibit yang dibawa oleh saudagar Inggris bernama George Ledger.

Gorkom belajar banyak dari kesalahan para pendahulunya dan berupaya keras untuk mewujudkan hasil yang maksimal. Upayanya menemui hasil pada tahun 1969, ia panen kulit kina dalam jumlah besar. Bibit-bibit kina potensial itu kemudian didistribusikan ke daerah-daerah untuk budidaya secara massal.

Keberhasilan Gorkom menjadi tonggak awal kejayaan Hindia Belanda sebagai penghasil kina. Tak hanya menjadi alat untuk memerangi malaria di Hindia Belanda, kina juga menjadi komoditas ekspor yang sangat menguntungkan bagi Hindia Belanda sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Persepsi Masyarakat Terhadap Malaria

Masyarakat awam punya cara tersendiri untuk menggambarkan penyakit malaria. Orang Eropa dan pribumi di Hindia Belanda memiliki keyakinan yang sedikit mirip, mereka meyakini malaria berkaitan dengan hal gaib seperti kutukan atau gangguan roh jahat.

Di sisi lain, mitologi cina kuno menggambarkan malaria dengan cara yang lebih spesifik. Malaria digambarkan dalam bentuk tiga setan. Ketiganya membawa benda yang mewakili gejala malaria. setan pertama memegang palu, setan kedua membawa ember berisi air, dan setan ketiga membawa tungku.

Baca Juga: Tsen On Ngie: Tabib Cina yang Mujarab

Setan pembawa palu menggambarkan pukulan yang menyebabkan sakit kepala. Setan pembawa ember berisi air menggambarkan rasa dingin seperti disiram air. Sementara setan pembawa tungku menggambarkan demam tinggi pada penderita malaria.

Di awa-awal merebaknya penyakit malaria, penelitian ilmiah memang belum mampu mengenali penyakit ini secara lengkap. Para peneliti percaya, bahwa penyebab utama malaria adalah udara buruk. Oleh karena itu, para peneliti menyematkan nama “malaria” yang berasal dari bahasa latin pada penyakit ini, mala berarti buruk, sedangkan aria berarti udara.

Hipotesis tersebut bertahan dalam kurun waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya penelitian mendalam di akhir abad ke-19 berhasil menjelaskan malaria secara akurat dan lebih spesifik.

Riset Malaria Modern

Sebelum masifnya penelitian ilmiah soal malaria, persepsi masyarakat berkembang secara beragam pada setiap kebudayaan. Barulah pada tahun 1880, Charles Alphonse Laveran, seorang dokter asal Prancis berhasil mengungkap parasit penyebab malaria ketika ia bertugas di Aljazair.

Melalui pengamatan mikroskop, dokter Charles menemukan adanya protozoa di dalam sampel darah mayat penderita malaria yang sedang ia otopsi. Ia meyakini bahwa protozoa itu adalah penyebab mayat tersebut terjangkit malaria. Atas jasanya itu, Charles Alphonse Laveran mendapatkan nobel di bidang fisiologi atau kedokteran pada 1907.

Penemuan dokter Charles membawa riset malaria menuju titik terang. Dua ilmuwan Italia, Ettore dan Angelo Celli Marchiafava berhasil menemukan genus dari protozoa penyebab malaria, mereka menamainya plasmodium.

Selanjutnya, Ronald Ross, dokter asal inggris memulai penelitian untuk membuktikan nyamuk sebagai penyebar plasmodium. Pada Agustus 1887, Ross membedah jaringan perut nyamuk anopheles yang sebelumnya menggigit manusia pengidap malaria.

Dari penelitiannya itu, Ross menemukan plasmodium penyebab malaria di dalam perut nyamuk anopheles betina yang ia bedah. Penemuan Ross mengubah pandangan dunia terhadap malaria. Ia mendapatkan nobel penghargaan dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1902 atas penemuannya.

Sementara itu, Hindia Belanda juga menjadi tempat para ahli mengungkap misteri malaria. Nama Allard van de scheer tercatat dalam buku “The Medical Journal of The Dutch Indies 1852-1942: A Platform for Medical Research” sebagai orang pertama yang melakukan riset malaria di Hindia Belanda.

Inisiatif riset van de Scheer berangkat dari keterbatasan tenaga kesehatan Hindia Belanda untuk mendiagnosis penyakit malaria. Pada tahun 1891, van de Scheer melakukan pengamatan mikroskop pada plasmodium malaria di dalam sampel darah pengidap malaria.

Hasil pengamatannya ia publikasikan dalam sebuah jurnal penelitian “Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie”. Di dalam jurnal tersebut, van de Scheer memaparkan bahwa ada reaksi dari sel darah merah manusia yang terjangkit malaria. Sel darah merah yang sehat akan menggumpal dan memisahkan diri dari sel darah merah yang terinfeksi plasmodium malaria.

Dari hasil penelitiannya itu, van de Scheer meyakini bahwa pengamatan mikroskop adalah metode yang tepat untuk diagnosis malaria. Usai riset pertamanya, van de Scheer melanjutkan risetnya hingga tahun 1989, risetnya kali ini berangkat dari adanya anggapan keliru terkait malaria yang berkembang di tengah masyarakat Hindia Belanda.

Saat itu, masyarakat Hindia Belanda beranggapan bahwa setiap kali demam, maka akan berujung pada malaria. Sementara menurut van de Scheer, demam adalah reaksi tubuh yang bisa saja muncul akibat penyakit lain. Riset van de Scheer kemudian mendapat sokongan fasilitas dari direktur Geneeskundig Laboratorium, Christiaan Eijkman.

Sekali lagi, Allard van de Scheer berhasil memberikan pembuktian hebat dari penelitiannya. Ia dan Eijkman melakukan otopsi pada beberapa mayat yang meninggal karena demam. Hasil otopsi itu menunjukkan bahwa sebagian mayat tidak terinfeksi plasmodium, dengan kata lain mayat-mayat itu meninggal karena demam yang bukan malaria.

Usai penemuan-penemuan hebatnya, Allard van de Scheer mengakhiri masa tugasnya di Hindia Belanda. Riset malaria di Hindia Belanda dilanjutkan oleh dokter asal jerman, Robert Koch yang sebelumnya aktif melakukan riset malaria di Afrika Timur (sekarang Tanzania).

Fokus utama Koch adalah malaria yang menjangkiti anak-anak dan pembuktian nyamuk sebagai satu-satunya perantara malaria. Dokter Robert Koch dikenang sebagai salah satu perintis riset malaria dunia yang mendorong masifnya penelitian ilmiah malaria di era modern.

Tinggalkan Balasan