Purbakala

Manusia Prasejarah di Nusantara

Ada banyak teori terkait siapa yang pertama kali menghuni bumi Nusantara ini. Dimulai dari sosok manusianya, tempat hidupnya, sampai bagaimana cara mereka bertahan hidup. Kali ini skalacerita akan mengajak kamu semua untuk menyusuri perjalanan manusia prasejarah di Nusantara. Penasaran? Simak cerita selengkapnya.

Awal Penghunian Manusia Prasejarah di Nusantara

Teman cerita, riwayat penghunian manusia di Nusantara setidaknya telah berlangsung sejak 1,8 juta tahun yang lalu. Homo erectus adalah sejenis primata yang diyakini sebagai bentuk paling awal dari manusia prasejarah yang menghuni Pulau Jawa. Mereka hidup di lingkungan sekitar sungai yang mengalir bersama dengan beragam jenis fauna lainnya. Dalam upaya menunjang kehidupannya, mereka mengembangkan teknologi alat berbahan batu seperti alat serpih, kapak genggam, dan kapak perimbas.

Baca Juga: Alasan Mengapa Manusia Purba Banyak Tinggal di Tepi Sungai

Homo erectus mengalami evolusi ke dalam beberapa tingkatan selama masa penghuniannya di Pulau Jawa. Mulai dari Homo erectus arkaik, kemudian berevolusi menjadi Homo erectus tipik yang diperkirakan hidup sekitar 0,7-0,25 juta tahun yang lalu. Jenis Homo erectus yang paling maju dalam tingkatan evolusinya disebut sebagai Homo erectus progresif yang hidup sekitar 0,2-0,15 juta tahun yang lalu. Homo erectus di Pulau Jawa kemudian mengalami kepunahan sekitar 100.000 tahun yang lalu. Kemudian sekitar 70.000 tahun yang lalu, Homo Sapiens hadir menghuni Pulau Jawa dan wilayah lain di Nusantara.

Ilustrasi Evolusi Bentuk Wajah Homo Erectus (sumber: Kemdikbud.go.id)

Homo Sapiens Awal

Homo sapiens awal yang menggantikan Homo Erectus di Pulau Jawa adalah Homo wajakensis (Manusia Wajak). Penemuan Manusia Wajak di Nusantara sangat erat kaitannya dengan ekspedisi pencarian nenek moyang manusia yang dilakukan oleh dokter asal Belanda yaitu Eugene Dubois.

Dubois melakukan penelitiannya pertama kali di Pulau Sumatera. Akan tetapi, penelitian tersebut belum berhasil sehingga ia melanjutkan penelitian di Pulau Jawa. Dubois datang ke Pulau Jawa dipicu oleh beberapa hasil foto fosil manusia yang ditemukan di Desa Campurdarat, Tulungagung. Kemudian Dubois melakukan penggalian di sekitar tempat penemuan fosil tersebut dan menemukan fosil manusia lainnya. Kedua temuan fosil tersebut disebut sebagai fosil Manusia Wajak I dan II.

Foto Tengkorak Manusia Wajak I (Simanjuntak, 2011)

Menurut para ahli Paleoantropologi, fosil Manusia Wajak yang ditemukan oleh Dubois memiliki ciri-ciri serupa dengan Ras Australo-Melanesia. Berdasarkan bentuk fisik dalam bentuk yang utuh, ras ini memiliki ciri kulit berwarna hitam, rambut keriting, dan berbadan tegap. Di masa sekarang, kita mengenal populasi Ras Australo-Melanesia sebagai Orang Papua, Suku Aborogin di Australia, dan penghuni gugusan pulau-pulau di wilayah Melanesia.

Baca Juga: Melihat Masa Lalu dari Karies Gigi Manusia Purba

Pernyataan terkait jenis ras dari Manusia Wajak kemudian mendapat sanggahan dari seorang ahli Paleoantropologi asal Indonesia bernama Teuku Jacob. Jacob berpendapat bahwa Manusia Wajak merupakan percampuran antara Ras Mongoloid dan Ras Australo-Melanesia. Jacob mengacu pada hasil pengamatannya terhadap tengkorak Manusia Wajak yang memiliki wajah datar dan ciri Mongoloid.

Pendapat Jacob menjadi sesuatu yang penting karena menunjukkan adanya kemungkinan kedatangan Ras Mongoloid ke Nusantara telah terjadi lebih awal sebelum migrasi penutur Austronesia datang. Jacob juga menambahkan bahwa Manusia Wajak adalah hasil dari hibridasi antara kedua ras tersebut yang secara teoritis menjadi populasi ras manusia modern awal di Indonesia secara bersamaan.

Persebaran Manusia Prasejarah Ras Australo-Melanesia di Kepulauan Nusantara

Bukti dari penghunian Ras Australo-Melanesia di Indonesia adalah temuan-temuan arkeologis berupa rangka manusia yang teridentifikasi memiliki ciri Ras Australo-Melanesia. Para peneliti Arkeologi menemukan rangka-rangka tersebut hampir di seluruh wilayah Nusantara seperti Pegunungan Karst Sewu, Pegunungan Kendeng Utara, Pegunungan Utara Bogor, Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, Gua Harimau di Sumatera Selatan, dan Pesisir timur Sumatera Utara.

Salah satu hal yang menarik adalah temuan rangka manusia di Gua Harimau, Sumatera Selatan. Arkeolog menemukan rangka yang jumlahnya mencapai 80 individu, terdiri dari Ras Australo-Melanesia dan Ras Mongoloid. Rangka ras Australo-Melanesia menjadi rangka yang paling banyak ditemukan di gua ini. Penemuan itu menguatkan pendapat Jacob bahwa keberadaan Ras Mongoloid di Nusantara telah ada sebelum manusia penutur bahasa Austronesia yang identik dengan Ras Mongoloid bermigrasi dari Taiwan ke kepulauan Nusantara.

Ras Australo-Melanesia mendiami wilayah-wilayah di Nusantara secara intensif sejak sekitar 15.000 tahun yang lalu. Mereka menetap di gua-gua alami dan bertahan hidup dengan berburu hewan sebagai sumber makanan.

Kelompok-kelompok manusia ini mengembangkan teknologi pembuatan dan pemakaian alat berbahan batu dan tulang untuk menunjang kehidupannya. Mereka memodifikasi batuan alami di sekitar lingkungannya hingga menghasilkan bentuk batu seperti kapak, serpih, dan bilah. Mereka juga memanfaatkan tulang-tulang hewan hasil buruan sebagai alat.

Kedatangan Penutur Austronesia

Berdasarkan kajian terhadap rangka-rangka manusia yang ditemukan, dapat dipastikan bahwa keberadaan Ras Australo-Melanesia cukup mendominasi di wilayah kepulauan Nusantara. Sekitar 4.000 tahun yang lalu, kedatangan populasi manusia baru yaitu populasi penutur bahasa Austronesia secara perlahan menggantikan dominasi tersebut.

Populasi ini secara biologis sangat identik dengan Ras Mongoloid  dan secara spesifik disebut sebagai Ras Mongoloid selatan. Ras Mongoloid Selatan memiliki ciri biologis yang berbeda dengan Ras Mongoloid utara dengan warna kulit lebih terang dan mata sipit. Bangsa Austronesia mengarungi lautan untuk mencapai pulau-pulau baru untuk ditinggali. Mereka juga mengembangkan teknologi alat yang lebih maju serta memanfaatkan pertanian dan domestikasi hewan sebagai sumber makanan.

Populasi penutur Austronesia  menyebar hampir ke seluruh wilayah Nusantara. Mereka mendominasi wilayah Nusantara bagian barat dan utara. Di Pulau Jawa bagian timur, Arkeolog menemukan temuan rangka dengan ciri Ras Mongoloid di Gua Braholo, Gua Tritis, dan Song Keplek.

Hal yang menarik dari temuan rangka tersebut adalah pertanggalan salah satu rangka di Song Keplek yang menunjukkan usia sekitar 3200 tahun silam. Pertanggalan tersebut menjadi indikasi adanya pergantian penghunian Ras Mongoloid terhadap Ras Australo-Melanesia yang berhenti sekitar 4000 tahun yang lalu di tempat tersebut.

Arkeolog juga menemukan jejak-jejak keberadaan populasi Austronesia di pulau-pulau lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa pulau kecil di Nusantara yang umumnya terletak di wilayah barat Nusantara. Uniknya, Ras Mongoloid tidak bermigrasi sampai ke daratan Papua. Tidak diketahui secara pasti kenapa migrasi dari populasi baru ini tidak mencapai daratan Papua yang hingga saat ini masih dominan ditinggali oleh Ras Australo-Melanesia.

Percampuran Ras dan Bahasa

Di wilayah Wallacea sekitar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara, populasi penghuninya merupakan percampuran genetis antara Ras Mongoloid dan Ras Australo-Melanesia yang bahkan masih dapat diamati pada populasi manusia masa kini di daerah tersebut. Istilah “Austronesia” juga menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Istilah tersebut merujuk kepada suatu kesatuan rumpun bahasa Ras Mongoloid yang datang ke Nusantara.

Haryo Martodirdjo pernah melakukan kajian terhadap bahasa Di Maluku Utara pada tahun 2001. Martodirdjo menjelaskan bahwa daerah Maluku Utara terbagi ke dalam dua jenis penggunaan bahasa yang berbeda yaitu Austronesia dan Non-Austronesia.

Baca juga: Berkenalan dengan Ali Akbar Arkeolog asal Indonesia yang meneliti Situs Gunung Padang, Jawa Barat!

Kedua kelompok manusia yang menuturkan dua bahasa tersebut tidak saling memahami satu sama lain. Proses komunikasi antara keduanya menghasilkan bahasa baru yang merupakan percampuran antara dua bahasa tersebut. Bahasa perantaranya disebut sebagai bahasa Melayu pasar, bahasa melayu lokal yang bercampur dengan kosakata bahasa Non-Austronesia.

Teman cerita, serangkaian penjelasan mengenai riwayat kehidupan manusia di Nusantara tersebut merupakan rangkuman dari berbagai pemikiran ilmuwan Indonesia maupun asing yang telah melakukan penelitian selama puluhan tahun. Penelitian-penelitian terhadap riwayat manusia di Nusantara masih terus dilakukan hingga artikel ini ditulis. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan baru yang akan melengkapi atau justru membantah sejarah penghunian manusia di Nusantara yang telah ada. 

Baca Juga: DNA Neandertal Pada Manusia Modern

Daftar Referensi:

  1. Bellwood, P. (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. Kasnowihardjo, G. (2010). Sekilas Tentang Sebaran Manusia Prasejarah di Indonesia. Papua, 2(2), 1-13.
  3. Noerwidi, S. (2016). Proses Migrasi-Kolonisasi Manusia pada Masa Prasejarah di Maluku Utara. In H. Widianto (Ed.), Jejak Austronesia di Indonesia (pp. 196-225). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  4. Simanjuntak, T. (2011). Kehidupan Manusia Modern Awal di Indonesia: Sebuah Sintesa Awal. Amerta, 29, 1-17.
  5. Widianto, H. (2020). Sangiran dalam Konteks Migrasi Awal di Pulau Jawa. Jakarta: Puslit Arkenas.
  6. Widianto, H., & Noerwidi, S. (2019). Diaspora Austronesia di Indonesia Berdasarkan Tinggalan Rangka Manusia. Seminar Nasional Arkeologi, (pp. 1-22).
Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

3 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

5 hari Lalu