Purbakala

Sejarah Candi Prambanan: Membangun Kembali dari Reruntuhan

Siapa yang tak tahu Candi Prambanan. Salah satu candi bernafaskan agama Hindu yang ada di wilayah Jawa Tengah. Jika kita datang kesana maka kita akan melihat kemegahan arsitektur nenek moyang kita. Dibalik kemegahan candi ini ada proses yang rumit dan panjang. Satu hal yang pasti, sejarah Candi Prambanan tidak selesai dalam satu malam.

Ditemukan Kembali dalam Keadaan Runtuh

Candi Prambanan sejatinya tidak pernah benar benar hilang dari memori. Beberapa catatan terdahulu menunjukan keberadaan candi ini meskipun dengan nama yang berbeda. Keberadaan Prambanan kemudian baru kembali tercatat pada sekitar abad ke-18.

Pada suatu hari tahun 1733, seorang pegawai VOC bernama C. A. Lons berkunjung ke beberapa tempat di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai seorang duta, ia berkunjung ke beberapa reruntuhan candi untuk dilaporkan. Lons diduga juga berkunjung ke candi Prambanan, walaupun ada keraguan apakah ia berkunjung ke candi Prambanan atau Candi Sewu.

Pada saat Lons berkunjung, bentuk Candi Prambanan tidak semegah sekarang. Puncaknya roboh, dindingnya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan. Dalam catatanya Lons menuliskan “kuil-kuil itu lebih kelihatan seperti gunung daripada candi”. Hal ini berbeda dengan apa yang dideskripsikan pada salah satu prasasti, yaitu prasasti Siwagrha yang menceritakan bahwa bangunan ini pada awalnya indah sekali.

sketsa Candi Prambanan Oleh Capt. G Baker sumber: britishmuseum.org

Penglihatan Lons tidak salah. Satu abad kemudian, kondisi yang sama masih dapat terlihat dari sketsa yang ada di dalam buku History of Java karangan Thomas Raffles. Seperti yang kita tahu Raffles memiliki minat yang tinggi terhadap kebudayaan Indonesia khususnya Jawa. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya, Colin Mackenzie dan G. Baker, untuk melakukan survei di candi Prambanan.

Lukisan C. Springer sekitar tahun 1852 (sumber: KITLV)

Pada tahun 1855 seorang ketua archaeologische vereeniging van Jogja (semacam perkumpulan arkeolog swasta) bernama J.W Ijzerman mulai melakukan pembersihan di sekitar reruntuhan Candi Prambanan. Ia membersihkan semak belukar dan menebang pepohonan yang tumbuh di atas reruntuhan candi. Ijzerman juga melakukan penggalian di halaman candi.

Pembantaian Arkeologis Besar-Besaran

Pekerjaan Ijzerman kemudian digantikan oleh Groneman pada tahun 1889. Sayangnya, pekerjaan yang dilakukan oleh Groneman cenderung kasar dan tidak mematuhi kaidah arkeologis.

Jordan dalam bukunya berjudul Memuji Prambanan menuliskan bahwa banyak batu yang dibuang ke Jurang Terjal di Sungai Opak. Potongan relief dan arca diambil dan ditumpuk begitu saja tanpa ada nya pencatatan sehingga konteksnya menghilang.

Beberapa ahli pada saat itu menganggap pekerjaan Groneman merupakan sebuah bencana. J. Brandes bahkan menyebutkan bahwa upaya-upaya Groneman disebut sebagai “pembantaian arkeologis besar besaran”.

Canndi Siwa Prambanan sebelum dan sesudah pekerjaan Groneman (sumber: KITLV)

Bencana ini kemudian ditambah dengan banyaknya batu-batu candi yang diambil warga desa untuk digunakan sebagai pondasi rumah mereka. Para orang barat pun mengambil batu-batu candi untuk digunakan membangun gorong-gorong, bedungan, dan fondasi.

Pemugaran Sistematis

Pemugaran sebuah candi tidak bisa dilakukan asal-asalan dan dipaksakan. Pada 1918 candi Prambanan kembali mendapatkan perhatian untuk dilakukan pemugaran. Seorang arsitek bernama P. J Perquin, yang sebelumnya memimpin pemugaran candi Penataran, dipercaya untuk memimpin pemugaran bagian bawah dari Candi Siwa, pagar langkan dan bagian-bagian lain. Perquin melakukan pemilahan penyeleksian ulang batu batu yang dikumpulkan oleh Groneman.

Pekerjaan selanjutnya dilanjutkan oleh De Haan. De Haan melakukan susunan percobaan terhadap batu-batu di candi Siwa Prambanan. Hampir semua batu Candi Siwa Prambanan dapat dikembalikan ketempat asalnya.  Ia juga mulai melakukan pemugaran terhadap kedua candi apit. Sayangnya, De Haan meninggal di tahun 1930.

Pekerjaan pemugaran kemudian diambil alih oleh van Romondt. Pada era inilah candi Prambanan mulai dipugar secara intensif dan menyeluruh. Romondt mendapatkan biaya bantuan sebesar 25 juta gulden untuk melakukan pemugaran Candi Prambanan.

sumber: KITLV

Pemugaran pada masa ini bukan tanpa hambatan. Pada saat itu, dunia sedang sibuk dengan Perang Dunia II dan Indonesia sedang menghadapi revolusi fisik. Hal ini tentu menghambat kegiatan pemugaran baik dari segi ekonomi maupun dari segi tenaga sumber daya manusia. Banyak pejabat-pejabat Belanda yang ditawan oleh Jepang.

Pekerjaan kemudian dilanjutkan oleh Soehamir, Samingoen, dan Soewarno. Barulah pada tahun 1953 Candi Siwa selesai dipugar yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soekarno. Sekitar 40 tahun kemudian, pemugaran ke-16 candi-candi yang ada di halaman inti rampung.

Peresmian Candi Siwa Prambanan
(sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Menyusun Potongan: Kecermatan Arsitektur Belanda dan Kepiawaian Mandor Jawa

Dalam membangun kembali Candi Prambanan, para peneliti Belanda sangat berhati-hati. Pada sekitar tahun 1924 dibuat panitia pemugaran yang menyusun panduan-panduan dasar untuk diikuti dalam kegiatan pemugaran. van Romondt menegaskan bahwa tidak boleh ada sebongkah batu yang boleh diganti bila masih ada keraguan yang paling kecil sekalipun.

Susunan Percobaan bagian atas candi (sumber: KITLV)

Lalu bagaimana cara para arsitektur Belanda mengetahui bentuk asli dari candi ini? van Romondt menjelaskan secara singkat bagaimana rekonstruksi Candi Siwa Prambanan dilakukan.

Pertama dilakukan penyaringan dan pemilihan batu batu berdasarkan ukuran dan bentuknya. Setelah itu batu-batu dengan ciri khas tertentu akan dipilan dan kemudian disatukan untuk sementara waktu. Di tahap inilah kepiawaian dan ketelitian para mandor Jawa sangat diandalkan. Layaknya sebuah puzzle, tiap-tiap batu candi memiliki bentuk yang unik. Ketika satu batu tidak pas dengan batu yang lain, maka akan dicari dengan batu yang lain.

Para mandor jawa menyeleksi batu-batu (sumber: KITLV)

Setelah tahapan ini, maka akan dilakukan susunan percobaan. Susunan percobaan dilakukan diatas tanah. Potongan-potongan bangunan yang sebelumnya sudah disusun akan disatukan. Susunan percobaan ini biasanya dilakukan hingga tingkat tertentu dan dapat dilakukan berkali-kali.

Sambil melakukan susunan percobaan, maka akan dibuat sebuah denah rekonstruksi. Setelah semua batu sudah diyakini berada pada tempatnya barulah dilakukan proses pembangunan kembali yang sesungguhnya.

Kini Candi Prambanan masih berdiri dengan kokoh dan gagah. Sejarah Candi Prambanan ini tidaklah pudar dan kemegahannya semoga tetap abadi dalam ingatan masyarakat. Maka dari itu mari kita untuk terus melestarikan dan menjaga kebudayaan dan sejarah yang kita miliki.

Baca juga: Memaknai Bangunan Candi Hindu-Buddha di Indonesia

Referensi:

  1. Inadjati, A dan Andi P. (ed.). (2009). Membangun Kembali Prambanan. Yogyakarta: Balai Pelestarian Purbakala Yogyakarta.
  2. Jordaan, R. (2009). Memuji Prambanan. Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda Tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang.
Azmi Gagat

Senang membaca dan menulis mengenai sejarah, budaya, dan, arkeologi.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

4 hari Lalu