Fakta Mural di Museum Sejarah Jakarta: Gambaran kehidupan zaman Hindia Belanda

Halo teman cerita, kapan terakhir kali kamu berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta? Waktu SD? SMP? Atau belum lama ini? Kalau kamu pernah berkunjung ke museum ini setelah selesai renovasi terakhirnya, kamu pasti tau kalau ada mural di Museum Sejarah Jakarta yang menggambarkan kehidupan di kota Batavia.

Museum Sejarah Jakarta selesai direnovasi tahun 2018 yang lalu. Salah satu perubahan yang signifikan adalah pintu masuk yang awalnya berada di bagian depan museum (sisi selatan) ke sisi barat museum, dan ada ruangan Pangeran Diponegoro yang terletak di lantai dua museum.

Ketika masuk ke dalam Museum Sejarah Jakarta kita akan disambut oleh sebuah mural raksasa yang digambar pada dinding museum. Nah, bagi teman cerita yang sudah melihatnya penasaran tidak dengan mural ini? Kami akan berikan beberapa fakta menarik mengenai Mural di Museum Sejarah Jakarta.

1. Dilukis oleh Harijadi Sumodidjojo

Mural ini adalah karya Harijadi Sumodidjojo. Seorang seniman realis yang berkarya pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Sebelum menjadi pelukis, Harijadi bekerja membuat poster-poster film. Ia juga punya hobi otomotif dan pernah menjadi pembalap. Tangannya pernah patah dua kali akibat kecelakaan saat balap,tapi ia tidak jera juga.

mural-msj-3

Harijadi juga dekat dengan presiden Sukarno yang. Presiden pertama ini tergila-gila dengan karya Harijadi yang dibelinya pada 1994. Kemudian, ia mengirim Harijadi ke Meksiko untuk belajar mural. Saat Gubernur Jakarta Ali Sadikin memintanya untuk melukis suasana kota Batavia, Harijadi memilih melukis di tembok museum daripada melukis di atas kanvas. Padahal waktu itu kanvas berukuran 20 meter sudah disiapkan sebagai media lukisnya.

2. Tugas dari Ali Sadikin

Tahun 1970an, Ali Sadikin mendapatkan masukan untuk merevitalisasi Kawasan Kota Tua Jakarta. Kemudian, ia memanggil dua orang seniman yaitu S. Sudjojono dan Harijadi Sumodijojo untuk melukis di Museum Sejarah Jakarta. S. Sudjojono ditugaskan untuk melukis penyerbuan Batavia oleh Sultan Agung, dan Harijadi ditugaskan untuk melukis suasana kota Batavia.

Mural karya Harijadi ini dikerjakan tahun 1974 dan terpaksa dihentikan tahun 1975. Mural tersebut ia kerjakan bersama kedua anaknya dan seorang sejarawan yang menjadi teman diskusi Harijadi selama proses tersebut. Mural ini disebut-sebut sebagai mural terbesar di Jakarta.

3. Melalui Serangkaian Riset

Mural yang dilukis oleh Harijadi Sumodidjojo adalah gambaran situasi yang terjadi di Batavia antara tahun 1880-1920an. Harijadi menggambar ratusan karakter, benda, dan tempat dalam muralnya. Karakter yang digambar memiliki berbagai latar belakang. Mulai dari pejabat Hindia Belanda, orang-orang Eropa, orang Tionghoa, orang Arab, dan orang Jawa serta orang Melayu.

Selain itu, ia juga menggambarkan tempat yang terkenal di Batavia seperti stasiun Jatinegara, Harmoni, Kota, Tanjung Priok, Pintu gerbang Amsterdam, dan sungai Ciliwung yang membelah kota Batavia. Ada pula gambar transportasi yang saat itu eksis di Batavia. Mulai dari delman, sepeda, mobil, hingga trem.

Dalam muralnya, Harijadi menggambarkan sebuah pesta makan malam yang dihadiri oleh masyarakat kalangan atas, yaitu orang-orang Eropa dan kaum priyayi. Mural yang ada di sisi lain, ia gambarkan suasana pernikahan yang dihadiri berbagai kalangan. Selain itu, terdapat suasana pasar dan para penjahat yang sedang dihukum.

Mural ini tidak semata-mata diciptakan berdasarkan imajinasi dari Harijadi. Ia bersama sejarawan Sudarmadji Damais rajin berdiskusi dan mencari referensi dari sumber-sumber sezaman. Sudarmadji Damais pula yang menjadi penasihat sejarah dan budaya dalam proyek ini.

4. Belum selesai hingga kini

Awalnya, proyek mural ini ditargetkan selesai pada Maret 1974. Bertepatan dengan Konferensi Internasional Asia-Pacific Travel Association yang akan diselenggarakan di Jakarta. Ada sekitar 2.000 delegasi dari berbagai negara yang akan berkunjung ke museum dan melihat karya anak bangsa ini. Namun, dalam prosesnya Harijadi dan tim mengalami kendala.

Setiap hari tembok yang sedang dilukis kondisinya lembab dan mengeluarkan air. Akibatnya, cat yang digunakan saat itu sulit menempel dan pengerjaanya menjadi lebih lama. Selain itu, minimnya anggaran membuat Harijadi dan tim kesulitan memecahkan masalah tersebut. Mural itupun belum selesai hingga hari pembukaan museum, dan dihentikan pengerjaannya pada tahun 1975.

5. Ditemukan kembali

Tahun 2010 sekelompok seniman dari Inggris dan Indonesia menemukan mural ini. Saat itu ruangan tempat mural tidak dijadikan ruang pamer, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Setelah penemuan ini, seniman komik asal Inggris Ed Hillyer diundang untuk berkontemplasi bersama mural karya Harijadi tersebut.

Menurut Ed Hillyer, mural ini dibuat berdasarkan fakta sejarah. Dari tema dan peristiwa yang dilukis, mural ini sangat meggambarkan suasana Batavia yang multi etnis dan masalah sehari-hari yang terjadi kala itu.

Setelah penemuan ini, mural karya Harijadi semakin banyak dilihat orang. Pemprov DKI Jakarta bersama dengan seniman lokal dan seniman dari Inggris berkolaborasi membuat sebuah proyek untuk memaknai mural ini. Saat Museum Sejarah Jakarta direnovasi pada 2018, mural ini baru dibuka untuk umum. Kamu bisa melihat mural ini saat melewati pintu masuk Museum Sejarah Jakarta.

Nah, teman cerita. Itulah fakta mural di Museum Sejarah Jakarta: gambaran kehidupan zaman Hindia Belanda. Ternyata mural ini bukan sekedar mural yang belum selesai, loh. Ada cerita yang panjang dan hasil karya anak bangsa yang perlu kita apresiasi.

Danang Aryo

Danang Aryo

Suka fotografi dan jalan-jalan. Danang juga tertarik dalam dunia digital, seni, sejarah, dan budaya. Ia pernah beberapa kali terlibat dalam pengembangan museum di Indonesia.

Artikel Lainnya