Museum di Hindia Belanda [Bagian 2]: Museum Atjeh, Bataksch Museum, Palembangsch Huis Museum, Museum Adathuis dan Museum Simaloengoen

Teman cerita, di tulisan sebelumnya skalacerita sudah membahas tentang tiga museum di Hindia Belanda yaitu Museum Celebes, Museum Borneo, dan Museum Maloeka. Ketiganya merupakan museum etnografi tertua di era Kolonial Indonesia. Pada tulisan kali ini, skalacerita akan membahas tentang museum di Hindia Belanda yang membahas etnografi di Sumatera. 

Di era kolonial Belanda, terutama sejak awal abad 20, ada lima museum di Hindia Belanda yang membicarakan mengenai etnografi yang berada di Pulau Sumatera. Museum-museum tersebut ada yang didirikan oleh pemerintah kolonial daerah tertentu, misionaris Belanda, sampai pendeta Iokal, lho! Museumnya tersebar di Banda Aceh (dulu namanya Koeta Radja), Simalungun, Brastagi, Bukittinggi (dahulu bernama Fort de Kock), sampai Palembang. Yuk, simak ceritanya!

1. Museum Atjeh, Koeta Radja (Banda Aceh)

museum di hindia belanda
Museum Aceh (sumber: KITLV)

Museum tertua di Sumatera adalah Museum Atjeh yang kini berada di pusat kota Banda Aceh. Sejarah Museum Atjeh berawal dari tahun 1914 ketika di Semarang dihelat pameran kolonial. Aceh, sebagai daerah taklukan baru di Hindia Belanda, tentunya mengirimkan delegasi dan koleksi untuk pameran kolonial tersebut. Untuk keperluan pameran kolonial di Semarang, dibangunlah sebuah rumah tradisional Aceh yang kemudian diisi dengan pinjaman berbagai regalia Kerajaan Aceh dan benda-benda etnografi Aceh koleksi F. W. Stammeshaus.

F. W. Stammeshaus merupakan seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda sekaligus kolektor benda-benda etnografi Aceh. Kebetulan, paviliun rumah Aceh tersebut memenangkan banyak medali dalam pameran kolonial Semarang 1914. Hal ini mendorong Gubernur Aceh saat itu, Henri N. A. Swart, untuk membawa pulang rumah tersebut ke Koeta Radja (kini Banda Aceh) dan menjadikannya sebagai museum. Rumah tersebut kemudian dikenal dengan nama ‘Rumoh Atjeh’ atau ‘Museum Atjeh’ dan diresmikan pada tahun 1915. 

Sementara itu, koleksi Stammeshaus tetap dipinjam guna dipamerkan di Museum Atjeh. Stammeshaus kemudian ditunjuk sebagai kurator Museum Aceh, dan ia berkontribusi besar dalam menambah jumlah koleksi di museum tersebut. Stammeshaus rajin membeli dan memperoleh sumbangan berbagai koleksi baik dari orang-orang Aceh maupun orang Belanda. Pada tahun 1931, Stammeshaus mencatat ada 346 objek yang didonasikan untuk Museum Atjeh selama jangka waktu 15 tahun, sejak tahun 1916 hingga 1931.

Pada tahun 1931 itu pula Stammeshaus harus kembali ke Belanda. Ia kemudian menawarkan untuk menjual koleksi pribadinya ke pemerintah kolonial Aceh, agar benda-benda tersebut bisa dijadikan koleksi Museum Atjeh secara permanen. Namun, pemerintah kolonial Aceh (yang sudah tidak lagi dipimpin oleh Gubernur Swart) menolak tawaran tersebut.

Koleksi pribadi Stammeshaus pun pada akhirnya dibeli oleh Koloniaal Instituut (saat ini Tropenmuseum di Amsterdam). Kini, koleksi Stammeshaus masih dapat dilihat di Tropenmuseum, termasuk pakaian Teuku Umar. Sementara itu, koleksi yang disumbangkan untuk museum tetap ditinggal di Aceh dan tetap menjadi milik museum.

Saat ini, museum tersebut masih tetap eksis dan dinasionalisasi sebagai museum provinsi. Bangunan Rumoh Atjehnya masih berdiri kokoh di halaman komplek museum. Sejak era Orde Baru sudah ada gedung-gedung baru yang didirikan untuk ruang pamer. Jadi, Rumoh Atjeh yang lama tidak lagi berfungsi sebagai ruang pamer utama. Kini, rumah tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Aceh.

2. Bataksch Museum, Brastagi

koleksi museum batak
Repro negatif patung pelindung di Museum Batak, koleksi Tropenmuseum (sumber: Wikimedia Commons)

Di sekitar awal tahun 1920-an, di Kabanjahe dekat Brastagi, Sumatera Utara, didirikan pula Bataksch Museum (Museum Batak). Berdasarkan katalog museum yang diterbitkan tahun 1923, diketahui bahwa Bataksch Museum ini didirikan oleh Batak Instituut. Museum tersebut dikelola oleh pendeta J. H. Neumann yang pada tahun 1923 sudah bertugas di Brastagi selama 23 tahun.

Seperti Museum Atjeh, Bataksch Museum ini bertempat di rumah tradisional Batak, dan menampilkan objek yang berkaitan dengan kebudayaan Batak Karo, Toba, Mandailing dan Pakpak. Koleksi yang ditampilkan berupa pakaian adat, tekstil, kerajinan tangan (baik dari bahan kayu, gading, perak maupun emas), alat-alat berburu dan memancing ikan, alat musik, peralatan menari, sampai permainan tradisional.

Menurut Gubernur Pantai Timur Sumatera, Louis Constant Westenenk, yang menulis kata sambutan di buku katalog museum, Bataksch Museum didirikan untuk mempreservasi dan mempelajari benda-benda etnografi Batak, sebelum benda-benda tersebut “lenyap”.

Selain itu, menurut surat kabar De Sumatra Post, pada tahun 1924 Bataksch Museum dikunjungi oleh 112 pengunjung. Sedangkan, jumlah pengunjung meningkat menjadi 221 orang di tahun 1927. Kini, Bataksch Museum tidak lagi eksis. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya museum ini “punah”.

3. Palembangsch Huis Museum, Palembang

museum di hindia belanda
Palembangsch Huis Museum, Palembang (sumber: KITLV)

Palembangsch Huis Museum dibuka pada bulan April 1933. Museum ini diinisiasi oleh Residen Palembang, J. L. M. Swaab, dan dikelola oleh pemerintah kota Palembang. Museumnya berbentuk rumah adat Sumatera Selatan yang disebut juga dengan Rumah Bari atau Rumah Limas. Sebetulnya, rumah ini adalah rumah tua yang awalnya berada di daerah Pasirah Talang Pangeran, yang kemudian dipindahkan ke Palembang untuk dipreservasi sebagai museum.

Palembangsch Huis Museum ini memiliki tiga ruangan. Ruangan-ruangan di museum tersebut berisi display pakaiaan tradisional (pakaian pengantin dan kostum menari), perhiasan, perahu-perahu tradisional dan senjata tradisional. Menurut majalah ilmiah Djawa, barang-barang koleksi Palembangsch Huis Museum adalah hasil sumbangan (atau dipinjamkan) oleh orang-orang dari golongan elit Palembang.

Kini bangunan Rumah Bari atau Rumah Limas tersebut masih ada, tetapi tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai museum. Rumah tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Balaputradewa.

4. Museum Adathuis, Fort de Kock (Bukittinggi)

Museum Adathuis (sumber: KITLV)

Sejarah Museum Adathuis ini berawal dari pameran kolonial di Paris tahun 1931. Di pameran tersebut, berdiri dengan megah sebuah bangunan rumah adat Minangkabau (Rumah Gadang) yang penuh ukiran dan bercat merah serta emas di halaman paviliun Belanda.

Sejak awal, memang sudah direncanakan oleh pemerintah kolonial Bukittinggi (dulu bernama kota Fort de Kock) bahwa, setelah pameran kolonial di Paris tersebut selesai, bangunan Rumah Gadang akan dibawa pulang lagi dan dijadikan museum di kota Fort de Kock. Museum Adathuis ini kemudian dibuka dan diresmikan tahun 1935. Menurut surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, dalam acara pembukaan museum, dihelat pula pertunjukan tari-tarian dan berbagai permainan.

Nah, teman cerita, saat ini Museum Adathuis masih ada, lho! Namun, namanya berubah menjadi Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum ini memamerkan benda-benda etnografi dari Minangkabau. Antara lain miniatur arsitektur tradisional daerah setempat, pakaian adat, perhiasan, perlengkapan rumah tangga, peralatan pertanian, alat musik, perlengkapan bela diri tradisional, Al Quran, koin kuno, dan offset hewan-hewan yang diawetkan.

5. Museum Simaloengoen, Pematang Siantar

museum di hindia belanda
Museum Simalungun antara tahun 1930-1940 (sumber: WIkimedia Commons)

Selain orang-orang Belanda, ada pula warga lokal yang turut mendirikan museum etnografi di Sumatera. Tokoh luar biasa tersebut adalah pendeta Djaulung Wismar Saragih dari Sumatera Utara. Di tahun 1920/1930-an, pendeta Djaulung Wismar Saragih merasa bahwa kebudayaan Batak, terutama Batak Simalungun, terancam tergerus arus modernisasi. Oleh sebab itu, beliau memiliki ide untuk mendirikan Komite Na Ra Marpodah (1928) dan Museum Simaloengoen (1935) untuk mempreservasi bahasa dan budaya Batak Simalungun.

Pendirian Museum Simaloengoen ini kemudian mendapat subsidi sebesar 3.000 Gulden dari pemerintah kolonial setempat. Selama proses pendirian museum, pengelola Museum Simaloengoen juga meminta sumbangan foto dan benda-benda dari masyarakat untuk dijadikan koleksi museum. Akhirnya, di bulan April 1940 Museum Simaloengoen ini resmi dibuka. Bangunan museumnya berbentuk Rumah Bolon Simalungun dan memamerkan peralatan dapur, peralatan berburu, senjata, alat-alat untuk memakai opium, hingga perhiasan. Saat ini, Museum Simaloengoen (kini ditulis dengan ejaan Museum Simalungun) masih eksis, lho!

Demikian lima museum di Hindia Belanda yang membicarakan mengenai etnografi di Sumatera. Kalau teman cerita perhatikan, semua museum-museum etnografi di era kolonial berada di bangunan rumah tradisional, lho! Apakah teman cerita sudah pernah berkunjung ke museum-museum tersebut?

Ajeng Arainikasih

Ajeng Arainikasih

Ajeng Arainikasih adalah PhD Candidate dari Universiteit Leiden Belanda. Penelitian desertasinya adalah mengenai dekolonisasi dan museum di era kolonial Indonesia. Ajeng juga merupakan merupakan seorang traveller, penulis, blogger, dan podcaster yang khusus membahas mengenai museum.

Artikel Lainnya