Museum-Museum di Hindia Belanda [Bagian 1]: Museum Celebes, Museum Borneo, dan Museum Maloeka

Teman cerita, awal abad ke-20 menjadi tonggak penting bagi berdirinya museum di Hindia Belanda. Museum dianggap sebagai representasi dari modernitas. Tren ini tidak hanya berkembang di Eropa namun juga di negara koloni mereka, termasuk Hindia Belanda. Berbagai kalangan seperti pemerintah kolonial, misionaris, dan juga para cendekiawan, turut serta dalam menginisiasi berdirinya museum di berbagai kota besar.

Saat itu, ilmu etnografi juga sedang berkembang pesat. Para antropolog, linguis, dan sejarawan, mulai tertarik untuk meneliti sejarah dan kebudayaan penduduk lokal di Hindia Belanda. Mereka mulai mengumpulkan benda-benda etnografi dan naskah untuk dijadikan koleksi museum. Museum etnografi juga didirikan di luar Jawa. Bahkan, museum-museum ini menjadi yang paling tua di Hindia Belanda.

Pendirian museum pada awal 1900-an menunjukkan bahwa Hindia Belanda sudah “modern”. Sebagai negara koloni, mereka sudah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan seperti di berbagai belahan dunia lainnya. Namun, campur tangan pemerintah Belanda dalam pendirian museum juga menandakan bahwa mereka tidak hanya menjajah secara teritorial, tetapi juga budaya, bahasa dan sejarah masyarakat jajahannya.

Berikut ini adalah tiga museum di Hindia Belanda yang bertemakan etnografi dan terletak di luar Pulau Jawa .

1. Museum Celebes, Makassar

Surat kabar Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indië, memberitakan pada tahun 1908 sudah berdiri Museum Celebes di Makassar yang merupakan sebuah museum etnografi. Museum ini menempati rumah kayu bercat biru-emas, rumah bekas kediaman pangeran dari Kesultanan Gowa di Hospital Road.

Pada tahun 1911, surat kabar Nieuw Rotterdamsche Courant memberitakan bahwa Museum Celebes dirampok yang kerugiannya mencapai 720 Gulden Belanda. Tahun berikutnya, koleksi museum yang tersisa dikirim ke Batavia untuk menjadi koleksi Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional Indonesia).

museum di hindia belanda: museum celebes
Museum Celebes
sumber: KITLV

Dalam upacara pembukaan Museum Sana Budaya di Yogyakarta pada tahun 1935, Dr. F.D.K. Bosch selaku Kepala Oudheidkundige Dienst (Jawatan Kepurbakalaan) menyebutkan bahwa Matthes Foundation memiliki museum yang berisi benda-benda etnografi dari Sulawesi dan perpustakaan yang berisi koleksi lontar.

Nama Matthes Foundation sendiri diambil dari nama Benjamin Frederik Matthes (1818-1908), seorang linguis yang dikirim ke Hindia Belanda tahun 1848 oleh Netherlands Bible Society. Selama di Hindia Belanda, Matthes menghabiskan hidupnya untuk meneliti naskah (lontar) Bugis dan Makassar serta mengumpulkan benda-benda etnografi.

Koleksi Matthes tersebut kemudian dikirim ke Belanda untuk dijadikan tambahan koleksi museum-museum di Delft dan Leiden. Matthes sendiri pulang ke Belanda pada tahun 1880. Oleh sebab itu, tidak diketahui pasti dari mana asal usul koleksi Matthes Foundation di Makassar yang disebutkan oleh Bosch tersebut.

Pada tahun 1936, surat kabar Het Vaderland mengabarkan bahwa Matthes Foundation akan menempati salah satu bangunan di Benteng Rotterdam yang akan direvitalisasi. Sedangkan, label di Museum La Galigo Makassar menuliskan bahwa Museum Celebes didirikan tahun 1938 dan bertempat di bekas tempat tinggal Cornelis Speelman (Gubernur Jenderal VOC), di dalam Benteng Rotterdam. Kemungkinan, Matthes Foundation dan Museum Celebes yang disebutkan disini merupakan satu kesatuan. Namun, menurut buku petunjuk Museum La Galigo yang diterbitkan tahun 1985/1986, Museum Celebes ini ditutup pada masa pendudukan Jepang.

Setelah kemerdekaan, pendirian museum di dalam Benteng Rotterdam mulai diinisiasi lagi oleh tokoh-tokoh budaya Sulawesi Selatan. Tetapi, nama museum diubah menjadi La Galigo, dan tidak lagi memakai nama Museum Celebes seperti di zaman kolonial dahulu. Tahun 1970, Museum La Galigo resmi dibuka, kemudian di tahun 1979 menjadi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Museum Borneo, Banjarmasin

Pada tahun 1907, di Banjarmasin didirikan Museum Borneo. Menurut F.D.K. Bosch dan Christina Faye Kreps dalam disertasinya yang berjudul On Becoming “Museum Minded”: A Study of Museum Development and the Politics of Culture in Indonesia dari the University of Oregon (1994), Museum Borneo didirikan oleh Jacob Mallinckrodt. Mallinckrodt adalah seorang antropolog yang khusus mendalami suku Dayak.

museum di hindia belanda: Museum Borneo
Sumber: Sellato, Bernard. “Sultans’ Palaces and Museums in Indonesian Borneo: National Policies, Political Decentralization, Cultural Depatrimonization, Identity Relocalization, 1950-2010.” Archipel 89 (2015): 125-160.

Museum Borneo memiliki beragam koleksi benda etnografi (Dayak) dari Kalimantan. Sayangnya, tidak banyak informasi yang bisa digali dari Museum Borneo ini. Kecuali, pada tahun 1931 Museum Borneo menawarkan diri untuk mengirimkan koleksinya ke pemerintah Belanda sebagai “back up” dalam rangka Paris Colonial Exhibition. Saat itu, paviliun Belanda pada pameran kolonial tersebut terbakar. Setelahnya, tidak diketahui lagi apakah Museum Borneo jadi mengirimkan koleksinya atau tidak.

Selain itu, Bernard Sellato dalam artikelnya yang berjudul “Sultans’ Palaces and Museums in Indonesian Borneo: National Policies, Political Decentralization, Cultural Depatrimonization, Identity Relocalization, 1950-2010”, menyatakan bahwa Museum Borneo menempati bangunan rumah bubungan tinggi, rumah tradisional Banjar.

Surat kabar Soerabaiasch Handelsblad juga pernah memberitakan bahwa Raja Kerajaan Koetai dari Kalimantan Timur pernah mengunjungi Museum Borneo saat berkunjung ke Banjarmasin tahun 1932.

Kini, Museum Borneo sudah tidak eksis lagi. Konon katanya, Museum Borneo dijarah pada masa Perang Dunia II. Walaupun, tidak diketahui pasti siapa yang menjarah, apakah orang Belanda, Jepang, atau penduduk lokal sendiri.

3. Museum Maloeka, Ambon

Salah satu museum etnografi tertua di Hindia Belanda adalah Museum Maloeka yang terletak di Olifantstraat, (sekarang Jalan Pattimura) tepat di jantung Kota Ambon. Museum ini didirikan oleh Gubernur van Sandick tahun 1918 dan dikelola oleh Maloeka Union. Organisasi ini bertujuan melindungi bangunan-bangunan bersejarah di Maluku serta mempromosikan kebudayaan Maluku. Museum Maloeka memang sengaja didirikan untuk kepentingan turisme dan promosi kebudayaan Maluku.

maloeka museum
Maloeka Museum
sumber: KITLV

Museum ini memamerkan beragam koleksi etnografi Maluku, antara lain pakaian tradisional dan produk kerajinan tangan khas Maluku. Sayangnya, berdasarkan berita di surat kabar De Indische Courant dan Soerabaiasch Handelsblad tahun 1932, diketahui bahwa saat itu keadaan Museum Maloeka sudah sangat terbengkalai dan mulai rusak. Sejak saat itu, nama Museum Maloeka tidak lagi terdengar.

Teman cerita, itulah tiga museum di Hindia Belanda yang bercerita tentang etnografi di Indonesia. Tiga museum ini adalah meseum tertua di Nusantara. Menarik ya, karena ternyata museum etnografi tertua ada di luar Pulau Jawa dan keberadaannya berkaitan erat dengan kolonisasi. Apakah kamu sudah berkunjung ke museum etnografi? Jika sudah, museum apakah itu? Tuliskan pada kolom komentar di bawah, ya.

Ajeng Arainikasih

Ajeng Arainikasih

Ajeng Arainikasih adalah PhD Candidate dari Universiteit Leiden Belanda. Penelitian desertasinya adalah mengenai dekolonisasi dan museum di era kolonial Indonesia. Ajeng juga merupakan merupakan seorang traveller, penulis, blogger, dan podcaster yang khusus membahas mengenai museum.

Artikel Lainnya