Berkunjung ke nDalem Pangeranan Mertadiredja III di Banyumas

Teman cerita, apa yang terlintas di pikiran kalian saat mendengar kata pangeran? Apakah anak raja yang tinggal di sebuah istana besar dan megah? atau anak yang kelak akan menggantikan posisi sang ayah sebagai raja? Ya, tepat sekali! Tetapi pangeran kali ini akan berbeda dengan pangeran pada umumnya.

Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III merupakan seorang bupati Banyumas yang menjabat selama 34 tahun (1879-1913). Beliau sangat dihormati karena prestasinya membangun Banyumas. Berkat prestasinya itu Pangeran Mertadiredja III mendapat banyak penghargaan dari Ratu Belanda. Salah satunya adalah memperoleh gelar Pangeran dan diperbolehkan menggunakan Songsong Jene Gilap atau payung keemasan kebesaran seperti raja.

nDalem Pangeranan, Sederhana yang Bernilai.

fasade nDalem Pangeranan
fasad nDalem Pangeranan
foto: Yesi Syafira Amalia

Setelah pensiun, Pangeran Mertadiredja III membangun sebuah rumah sederhana di desa Sudagaran yang tidak jauh dari tepi sungai Serayu. Rumah yang dikenal dengan “nDalem Pangeranan” ini menjadi tempat beliau menghabiskan masa tuanya. Hingga saat ini rumah tersebut masih berdiri kokoh dan megah. Walaupun telah dimakan usia, namun tidak menghilangkan jati dirinya sebagai rumah seorang pangeran.

nDalem Pangeranan memiliki atap berbentuk limasan khas rumah tradisional Jawa. Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 500 m2 ini dikelilingi oleh halaman luas dan ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan. Salah satunya adalah pohon kapel yang termasuk pohon langka dan digemari oleh putri keraton. Dulu, hanya rumah bangsawan yang diperbolehkan untuk memiliki pohon kapel di halaman rumahnya.

porselen keramik

Untuk memasuki nDalem Pangeranan kita melewati sebuah serambi depan yang dahulunya dihiasi dengan pot porselen Cina antik berisi tanaman. Terdapat tiga buah pintu lebar untuk masuk ke dalam rumah. Begitu masuk kita akan menemui lorong yang langsung menghubungkan pintu depan dan pintu belakang rumah. Lorong tersebut seakan membagi dua sisi ruangan rumah.

Sisi Kiri Rumah, Saksi Hidup Pangeran.

ruang kerja pangeran
Ruang kerja pangeran
foto: Yesi Syafira Amalia

Sisi sebelah kiri rumah terdapat ruang kerja dan dua kamar utama. Di ruang kerja ini kita bisa melihat barang-barang pribadi Pangeran Mertadiredja III, diantaranya adalah foto pangeran bersama dengan istri dan Songsong Jene Gilap atau payung kebesaran.

Beralih ke kamar utama, tempat ini menjadi saksi Pangeran Mertadiredja III menghembuskan nafas terakhirnya. Di kamar ini juga terdapat seperangkat gamelan milik pangeran Martadireja III dengan ukiran angka tahun Den 28 November 1829.

Sisi Kanan Rumah, Berkumpulnya Keluarga Besar .

Di sisi kanan terdapat tiga kamar dan sebuah serambi yang dikenal dengan emper wetan. Kamar paling depan berfungsi sebagai ruang perpustakaan sekaligus menjadi akses menuju emper wetan. Di dalam perpustakaan terdapat banyak buku yang umumnya berupa novel terjemahan Bahasa Inggris dan Belanda.

Kamar kedua saat ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan foto-foto keluarga dan pusaka milik Pangeran Mertadiredja III. Pusaka-pusaka itu dibalut kain berwarna kuning keemasan. Selepas pangeran Mertadireja III wafat, rumah ini ditempati oleh anaknya yang juga seorang bupati Banyumas bernama Pangeran Gandasubrata.

Emper Wetan, Membuka Kenangan melalui Tulisan.

Emper wetan merupakan sebuah teras lengkap dengan kursi meja santai dan tiga lemari berukuran besar. Tempat ini menjadi salah satu tempat yang membuat penulis takjub, sebab banyak sekali ditemukan barang-barang pribadi milik Pangeran Gandasubrata yang jadi saksi perjalanan karirnya sebagai bupati Banyumas.

Buku harian pangeran Gandasubrata
foto: Yesi Syafira Amalia

Pertama adalah buku harian milik Pangeran Gandasubrata. Buku harian ini ditulis dengan tangan dalam bahasa Indonesia lama, berisi agenda beliau saat masih menjabat Bupati Banyumas, terutama kejadian-kejadian penting dan kemajuan rakyat Banyumas. Saat ini, buku harian tersebut sudah dirangkum dan menjadi sebuah buku yang berjudul “Kenang-Kenangan 1933-1950” karya S.M. Gandasubrata-R.A.A.

Kedua adalah naskah asli Banyumas, Babad Jawi dan Giyanti. Sebagian buku sudah dibawa oleh keluarga pangeran untuk diteliti. Beberapa buku lama yang tersisa sudah usang dan rapuh. Selain itu, ada surat-surat lama milik pangeran Gandasubrata yang ditulis dengan bahasa Jawa Kuno dan surat undangan dari Hamengkubuwono IX untuk keluarga Pangeran Gandasubrata. Selain itu, masih banyak surat resmi lainnya yang tersimpan di dalam lemari.

Pakaian Ageng Pangeran Gandasubrata

Terakhir, ada pakaian kebesaran milik Pangeran Gandasubrata saat beliau menjabat sebagai Bupati Banyumas. Pakaian bernama “ageng” ini kerap dikenakan oleh para pejabat resmi seperti bupati atau pangeran.

Pakaian ini memiliki ciri khas diberi plisir renda emas di tepi kerah. Lalu bagian tepi jas diberi hiasan renda dengan bordiran motif bunga padi. Selain itu, terdapat kain khas Banyumas yang biasa dipakai sebagai bawahan.

Saat ini nDalem Pangeranan dikelola oleh Paguyuban Keluarga Gandasubrata. Sebagai tempat yang menjadi bagian dari sejarah Banyumas, nDalem Pangeranan dapat dikembangkan menjadi sebuah museum agar sejarah, jasa, dan kenangan Pangeran Mertadiredja III dan Pangeran Gandasubrata dapat terus diingat oleh masyarakat, khususnya masyarakat Banyumas.

 

Daftar Pustaka

  1. Budi Tjahjono. 2015. “Arsitektur Tradisional Jawa Banyumasan pada Pendopo Duplikat si Panji di Kota Lama Banyumas”. Tesis Pasca Sarjana. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
  2. Gandasubrata. 1952. Kenang-Kenangan 1933-1950. Bagian I, II dan III. Purwokerto.
  3. Soedjatmoko, Ratmini. 2011. Sebuah Pendopo di Lembah Serayu: Kisah Keluarga Bupati Banyumas Jaka Kahiman Hingga Gandasubrata. Jakarta: Pustaka Tanjun.
  4. Wibowo, Supantom Pramono, Moeljono. 1990. Pakaian Adat Tradisional Daerah-Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  5. www.banjoemas.com (Diakses pada tanggal 14 Februari 2021)
Yesi Syafira Amalia

Yesi Syafira Amalia

Seorang lulusan arkeologi yang tertarik dengan budaya dan bahasa. Gemar menulis dan membaca buku klasik

Artikel Lainnya