Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang

Teman Cerita, tau gak sih kalo ada seorang pebisnis berdarah Tionghoa yang mendapat julukan Raja Gula dari Semarang? Kalo kamu orang Semarang pasti tidak asing dengan nama Oei Tiong Ham. Namanya kerap dikaitkan dengan sejarah kota Semarang, loh!

Oei Tiong Ham
Potret Oei Tiong Ham
Sumber: wikipemedia commons

Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada 19 November 1866. Ayahnya adalah Oei Tjie Sien, seorang pengusaha di Hindia Belanda, dan Ibunya adalah Tjan Bien Nio, peranakan Tionghoa Jawa. Ia memulai karir sebagai pengusaha dengan menjalankan perusahaan perdagangan multinasional Kian Gwan yang didirikan ayahnya.

Perusahaan Kian Gwan berubah menjadi Handel Maatschappij Kian Gwan. Saat Oei mengambil alih perusahaan, Kian Gwan berfokus pada bisnis komoditas dari Hindia Belanda seperti kapuk, karet, gambir, tapioka, dan kopi. Selain itu, Kian Gwan juga menyediakan jasa gadai, pos, penebangan, dan yang paling menguntungkan adalah opium.

Melalui bisnis opium yang saat itu masih legal, Kian Gwan dapat meraup keuntungan sebesar 18 juta gulden selama kurun waktu 1890-1904. Kala itu Kian Gwan bisa mendominasi pasar opium dan bersaing dengan perusahaan yang lebih berpengalaman dan mapan.

Kian Gwan dan jaringan bisnisnya kemudian dikenal sebagai Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Oei Tiong Ham menerapkan sistem perusahaan modern dengan membuat kontrak-kontrak legal dan sistem akuntansi yang modern. Hal ini tidak biasa dilakukan oleh pengusaha Tionghoa yang biasanya menggunakan ikatan persaudaraan dalam menjalankan bisnisnya.

 

Merambah Industri Gula

Setelah krisis ekonomi melanda dan banyak tanaman tebu yang gagal panen akibat penyakit sereh yang menyebar di Jawa, banyak pabrik gula harus gulung tikar. OTHC kemudian mengakuisisi lima pabrik gula. Pabrik gula pertama yang diakuisisi adalah PG Pakis di Pati tahun 1894, PG Rejoagung di Madiun, PG Tanggulangin di Sidoarjo, PG Ponen di Jombang, dan PG Krebet di Malang.

PG Krebet
Pabrik Gula Krebet milik Oei Tiong Ham
Sumber: Leiden University Libraries/KITLV

Dari kelima pabrik ini, OTHC mengelola pabrik gula dan kebun tebu seluas lebih dari 7.000 Hektar. Bisnis Gula yang dijalankan OTHC berbuah manis. Gula menjadi komoditas utama OTHC dalam menjalankan bisnis. Tak heran Oei Tiong Ham kemudian mendapatkan julukan sebagai “Raja Gula dari Jawa”

Bisnis gula OTHC semakin besar karena pasca perang dunia pertama permintaan gula pasir meningkat pesat. Puncaknya pada tahun 1918-1920. Banyak pabrik gula di Jawa berlomba-lomba meningkatkan kapasitas produksi mereka dan berspekulasi untuk memenuhi permintaan pasar.

Oei Tiong Ham tidak bertindak gegabah. Pabrik gulanya justru sibuk membenahi sistem administrasi. Antara tahun 1920-1930 terjadi resesi ekonomi dunia. Saat itu gula asal Jawa tidak bisa diserap pasar. Padahal di tahun sebelumnya para pengusaha gula berlomba-lomba memproduksi gula. Akibatnya, banyak stok gula di gudang yang akhirnya rusak dan membuat pabrik gula rugi sampai gulung tikar.

Baca juga: Pabrik Gula Colomadu, Pabrik Gula Raja dari Jawa

Gurita Bisnis Oei Tiong Ham Concern

Pada awal 1900-an, OTHC membuka kantor cabang di beberapa kota besar dunia seperti London, Amsterdam, Singapura, Bangkok, New York, Kolkata, Mumbai,Karachi, Shanghai, Hongkong, dan Amoy di Provinsi Fujian. Melalui kantor cabang ini komoditas dari Hindia Belanda dijual ke pasar internasional.

Misalnya, tahun 1911-1915 kantor cabang London berhasil memasarkan 725.000 ton gula ke India, Jepang, China, Amerika Serikat, dan wilayah Eropa. Sementara itu kantor cabang di New York lebih fokus dalam perdagangan tapioka, dan cabang di Bangkok fokus pada perdagangan beras dan karung goni

Sementara itu di Tiongkok, OTHC membuka pabrik distilasi alkohol. Pabrik ini mampu memproduksi alkohol dengan kadar 96-97 persen. Di Malaysia dan Singapura, OTHC juga membuka bisnis pelayaran dengan nama Heap Eng Moh Steamship Company Ltd. Perusahaan ini mengoperasikan kapal uap dengan rute Singapura – Jawa.

Selain itu OTHC juga membuka bisnis bank dengan nama N.V. Bank Vereeniging Oei Tiong Ham dan bisnis perumahan, perkantoran, dan pergudangan dengan nama Bouw Maatschapij Randusari N.V.

Pindah ke Singapura

Berkat kesuksesannya menjalankan bisnis melalui OTHC, Oei Tiong Ham didaulat sebagai orang terkaya di wilayah Shanghai – Australia oleh surat kabar De Locomotief. Ia juga mendapat julukan sebagai Tuan 200 Juta Gulden karena menjadi pengusaha pertama yang jumlah kekayaannya melebihi 200 Juta Gulden.

Istana Gergadji
Kediaman Oei Tiong Ham yang juga dikenal sebagai Istana Gergadji
Sumber: Leiden University Libraries/KITLV

Tahun 1920, Oei Tiong Ham memutuskan pindah ke Singapura untuk menghindari pajak dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia bermukim di Singapura selama kurang lebih 4 tahun. Tanggal 9 Juli 1924, Oei dikabarkan meninggal dunia. Jenazahnya dibawa ke Semarang dan dikuburkan dekat dengan mendiang Ayahnya.

OTHC kemudian dijalankan oleh anak-anak Oei Tiong Ham. Pada perang dunia II dan perang kemerdekaan bisnis OTHC mulai goyah. Setelah masa depresi ekonomi yang membuat harga gula jatuh, OTHC beralih dari komoditas gula ke komoditas karet. Karet Produksi OTHC dipasarkan ke Amerika Serikat.

Anak-anak Oei Tiong Ham berusaha menjalankan bisnis dalam situasi yang sulit. Saat Jepang masuk ke Indonesia, banyak perusahaan merugi dan terpaksa tutup. OTHC tidak terkecuali. Beberapa aset milik OTHC harus dikurangi dan bisnisnya diawasi oleh pemerintah Jepang. Akan tetapi OTHC masih dapat berbisnis dan meraup keuntungan.

Bisnis Oei Tiong Ham Concern resmi berakhir pada 10 Juli 1961 karena pengadilan ekonomi Semarang mengeluarkan keputusan penyitaan dan nasionalisasi terhadap semua aset milik OTHC di Indonesia.

Walaupun bisnis OTHC sudah berakhir, namun beberapa bangunan eks kantor OTHC masih berdiri kokoh di kawasan Kota Lama Semarang. Misalnya Soesmans Kantoor, Gedung Monod Deiphuis, Kantor RNI Divisi Farmasi, bangunan Hero Coffee, bangunan restoran Pringsewu, sebuah gudang di dekat Pelabuhan Semarang, dan Kantor Regional 3 OJK.

Itulah sedikit kisah dari Oei Tiong Ham, Raja Gula dari Semarang. Jika teman cerita sedang berada ke Semarang, tak ada salahnya untuk berkunjung ke salah satu bangunan yang kami sebutkan, ya!

Sumber Referensi:

Lestari, Kintan. Yuda B Tangkilisan. 2017. Dari Gula hingga Karet: Oei Tiong Ham Concern Menghadapi Berbagai Rintangan 1924-1945. Depok: Program Studi Sejarah Universitas Indonesia.

Yulianti, Dewi. 2019. Mengungkap Sejarah Kota Lama Semarang dan Pengembangannya Sebagai Aset Pariwisata Budaya. Jurnal Anuva Vol. 3 (2): 157-171.

Amin, Choirul. 2020. Jejak Bangunan Oei Tiong Ham di Kota Lama Semarang. Jurnal Sarga UNTAG Semarang Vol. 1(1).

Dirjen Kebudayaan. 2017. Jalur Gula Kembang Peradaban Kota Lama Semarang. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Oei Tiong Ham, Si Raja Gula dari Semarang. Tirto.id 

Oei Tiong Ham. Wikipedia

Jejak-jejak Oei Tiong Ham Konglomerat Gula Dunia dari Semarang. Kompas.id

Danang Aryo

Danang Aryo

Suka fotografi dan jalan-jalan. Danang juga tertarik dalam dunia digital, seni, sejarah, dan budaya. Ia pernah beberapa kali terlibat dalam pengembangan museum di Indonesia.

Artikel Lainnya