Sejarah Orang Borgo di Manado, Kenapa Istimewa Ya?

Sebelum bermigrasi ke Kota Manado, masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara pada umumnya tinggal di pegunungan. Hingga akhirnya banyak yang mulai pindah dan menetap di Kota Manado. Meski sebagian lainnya masih pergi ke Kota Manado dan kembali ke kampung setiap harinya.

Kota Manado sendiri sudah sejak lama dihuni oleh masyarakat dari beragam etnis. Mulai dari masyarakat asli Minahasa, Belanda, Portugis, Spanyol, Arab, hingga Tionghoa. Lokasi Kota Manado yang berada di dekat laut membuat banyak orang tertarik untuk datang dan berdagang di sana.

Oleh karena adanya etnis yang beragam, tidak menutup kemungkinan terjadinya perkawinan campur antar suku. Terlebih ciri khas orang Minahasa yang dianggap memiliki sifat terbuka dan mudah bergaul. Para pendatang ini pun kawin dengan masyarakat pribumi yang akhirnya menghasilkan keturunan campuran, salah satunya adalah orang-orang Borgo.

Suku Borgo sebagai sub-etnis Tombulu

Masyarakat di Minahasa terbagi menjadi beberapa suku. Di antaranya adalah Babontehu, Bantik, Tombulu, Tonsea, Tondano, dan Tontemboan. Kemudian pada abad ke 16, mulai ramai pendatang asal Belanda, Portugal, dan Spanyol yang menetap di Manado. Mereka pun melakukan perkawinan dengan warga lokal hingga menghasilkan keturunan campuran yang diberi nama orang-orang Borgo.

Meskipun suku Borgo adalah hasil kawin antara masyarakat kulit putih atau Eropa dengan pribumi, tetapi ada anggapan bahwa para pendatang Eropa pada mulanya kawin dengan orang-orang suku Tombulu. Sehingga keturunan campuran pada awalnya berasal dari suku Tombulu. Hal ini yang membuat masyarakat Borgo dianggap sebagai sub-etnis Tombulu.

Hidup dengan privilese lebih

Apakah Teman Cerita pernah mendengar istilah white passing? White passing adalah fenomena di mana masyarakat yang bukan berkulit putih tetapi mendapatkan perlakuan spesial seperti orang-orang kulit putih lainnya. White passing sendiri adalah produk kolonialisme yang pada saat itu dilakukan oleh bangsa Eropa. Hal ini juga erat kaitannya dengan isu rasial yang menganggap ras kulit putih lebih superior dibandingkan dengan POC atau people of color.

Orang-orang Borgo dengan karakteristik fisik yang mirip masyarakat kulit putih, dengan hidung mancung, tinggi semampai, dan berkulit terang kerap dianggap memiliki penampilan yang ideal. Masyarakat pribumi Minahasa cenderung mengelu-elukan orang-orang Borgo tidak terkecuali dari pihak pemerintah Belanda saat itu. Masyarakat Borgo juga dianggap setara dengan orang Eropa sehingga dibebaskan dari kewajiban membayar pajak yang pada waktu itu dibebankan pada warga pribumi.

 

Suasana Kota Manado tahun 1910. Sumber: colonialarchitecture.eu via manado.tribunnews.com

Tari Katrili sebagai warisan budaya Borgo

Adanya percampuran budaya antara Eropa, khususnya Portugal dan Spanyol dengan masyarakat Minahasa membuat Tari Katrili menjadi salah satu warisan budaya. Terdapat dua langkah dari tarian ini, yaitu Gallop dan Waltz. Tari Katrili yang diambil dari Quadrille ini biasa ditampilkan oleh beberapa pria dan wanita secara berpasangan.

Berbeda dengan kebanyakan tari tradisional yang menggunakan pakaian adat, Tari Katrili ditampilkan dengan lebih modern. Pria menggunakan setelan jas dan wanita menggunakan gaun. Hal ini erat kaitannya dengan pengaruh budaya Eropa.

Hingga saat ini, Tari Katrili masih sering ditampilkan untuk berbagai acara. Tidak jarang pula masih menggunakan alat musik tradisional kolintang.

Nama Fam yang kebarat-baratan

Seperti masyarakat Minahasa lainnya yang memiliki nama fam atau nama keluarga yang tersemat di akhir nama mereka, begitupun dengan orang-orang Borgo. Namun, jika orang Minahasa memiliki nama fam atau fam tou Minahasa seperti Waworuntu, Walangare, Warouw, atau Saroinsong, beda halnya dengan masyarakat yang namanya diambil dari kata Burgher’s yang berarti pendatang ini.

Orang-orang Borgo mendopsi nama fam asal Eropa. Hal ini yang membuatnya terdengar kebarat-baratan kalau dibandingkan dengan nama keluarga Minahasa pada umumnya. Nama fam Inlandsche Burgher’s di antaranya Hermanus, Waterkamp, Winter, Heydemans, Kristofel, Paulus, Andries, Lopulalan, Lontu, Perera, dan lain sebagainya.

Kultur kebarat-baratan yang melekat pada identitas suku Borgo membuat mereka cenderung dinilai memiliki gaya hidup parlente serta selalu tampil dengan pakaian yang necis, mirip dengan orang-orang Eropa. Meskipun pada dasarnya kita tidak bisa menilai karakteristik seseorang dari identitas ataupun sukunya.

Kini, masyarakat suku Borgo pun sudah melebur sepenuhnya dengan orang-orang Minahasa pada umumnya. Tidak ada hal-hal yang membedakan lagi, apalagi privilese yang semula melekat pada mereka.

Baca juga: Orang Mardjiker, Portugis Hitam di Batavia


Referensi:

  1. Wigboldus. (1987). A History of Minahasa c. 1615-1680. Paris: l’Institut National des Langues et Civilisations Orientales
Zara Damaris

Zara Damaris

Mahasiswa Jurnalistik yang gemar membaca dan menulis berbagai isu terkait kebudayaan dan sejarah.

Artikel Lainnya