Pergerakan Politik Soekarno di Kota Bandung

Sebelum memulai pergerakan politiknya di Bandung, Soekarno remaja memang telah menunjukkan ketertarikan pada politik sejak bersekolah di HBS Surabaya. Di Surabaya, Ia berguru secara langsung kepada H.O.S Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, organisasi islam terbesar saat itu.

Soekarno aktif menuliskan pemikiran politiknya Oetoesan Hindia, surat kabar yang yang berada di bawah asuhan Tjokroaminoto. Pergaulan yang intens dengan Tjokro telah memengaruhi gaya berpidato dan menulis Soekarno dalam pergerakan politiknya di masa mendatang.

Bandung, Jalan Baru Pergerakan Politik Soekarno

Selepas menyelesaikan sekolah tingkat atasnya di Surabaya, pada tahun 1920 Soekarno bertolak ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di THS Bandung. Berbekal ajaran-ajaran yang ia dapat semasa tinggal di rumah Tjokroaminoto, Soekarno menjadikan Kota Bandung sebagai jalan baru bagi pergerakan politiknya. 

Baca Juga: Kota Bandung: Riwayat Pendirian Mu

Bermula dari pertemuannya dengan Kang Marhaen, seorang petani dari daerah selatan Bandung. Soekarno menyelami hakikat hidup dari seorang petani dan meyakini bahwa bangsanya telah melarat akibat Imperialisme dan Kapitalisme Belanda. 

Ide tentang kebangsaan sedikit banyaknya ia dapat dari pertemuan tersebut. Kang Marhaen adalah inspirasinya dalam merumuskan ideologi baru yang disebut Marhaenisme. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik, begitulah kira-kira Soekarno menyebutnya.

Marhaenisme, Ideologi pergerakan politik Soekarno
Ilustrasi Kapitalisme yang Menyengsarakan Rakyat dalam Koran Pikiran Rakyat 1932

Semasa di Bandung, Soekarno juga turut andil mendirikan alegmenee studieclub, sebuah kelompok kuliah umum yang berisi kalangan intelektual di Bandung. Organisasi ini terus berkembang dan menjadi cikal bakal PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berdiri pada tahun 1926.

Bersama PNI, Soekarno gencar menyuarakan aksi dan propaganda anti Imperialisme dan Kapitalisme. Beberapa bulan usai sumpah pemuda, Soekarno berhasil memengaruhi aspirasi para pemuda Indonesia dengan mendirikan sebuah federasi bernama PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia).

Berdirinya PPPKI dan pengaruh Soekarno yang semakin meluas, kemudian tercium sebagai sesuatu yang berbahaya oleh Pemerintah Kolonial. Belanda khawatir aksi dan propaganda Soekarno dapat menggoyahkan kedudukan Pemerintahan Kolonial. 

Kekhawatiran tersebut berujung pada penangkapan Soekarno ketika sedang berada di Yogyakarta pada 29 Desember 1929. Belanda menangkap Soekarno bersama tiga tokoh PNI lainnya atas tuduhan ujaran kebencian dan upaya makar terhadap Pemerintah Kolonial.

Pergerakan Soekarno dari Penjara

Bersama tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Maskoen Soemadiredja dan Supriadinata, Soekarno dibawa dari Yogyakarta untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy, sebuah penjara tingkat rendah di Bandung. Soekarno dan kawan-kawan menjalani masa tahanan selama 8 bulan sebelum memasuki proses persidangan. 

Pergerakan Politik Soekarno dan Kelompoknya
Potret Soekarno Bersama Tiga Rekannya, Gatot, Maskoen, dan Supriadinata

Selama menjadi tahanan di Banceuy, pergerakan politik Soekarno tidak berhenti begitu saja. Penjara justru menjadi ruang pergerakan baru baginya. Dari dalam ruangan berukuran 1,5 x 2,5 m, Soekarno menuliskan pledoi yang menjadi naskah paling fenomenal dalam perjuangannya, “Indonesia Menggugat”.

Selama menuliskan naskah pledoinya, Soekarno aktif mendalami pemikiran  tokoh-tokoh dunia seperti Marx, Kreamer, atau Sun Yat Sen lewat buku-buku yang diselundupkan oleh istrinya Inggit Garnasih ke dalam penjara.

Buku-buku tersebutlah yang menjadi dasar bagi Soekarno menuliskan pledoinya. Tak kurang, ada 66 tokoh dunia yang menjadi kutipan dalam naskah Indonesia Menguggat.

Indonesia Menggugat, Perlawanan Soekarno terhadap Imperialisme dan Kapitalisme

Pada tanggal 26 Agustus 1930, tibalah hari bagi Soekarno untuk menyatakan perlawanannya. Di hadapan hakim-hakim Belanda, ia membacakan naskah Indonesia Menggugat. Naskah yang ditulis dalam 143 halaman itu memakan waktu dua hari untuk membacakannya hingga selesai.

Pergerakan Politik Soekarno
Soekarno, Gatot, Maskoen, Supriadinata, dan Pengancara Sastromuljono S.H di Depan Gedung Lanraad Sebelum Persidangan

Dengan berapi-api, Soekarno memulai pembacaan pledoinya dengan kritik terhadap proses peradilan yang tidak adil. Baginya, proses sidang yang berlangsung bukanlah terkait pada persoalan hukum, melainkan murni persoalan politik.  

Soekarno kemudian menyindir hakim-hakim Belanda dengan berbasa-basi menyatakan bahwa hakim akan bediri di tengah dan berlaku adil. Meskipun, Soekarno mengetahui bahwa hakim-hakim tersebut telah memiliki pandangan politik yang bersebrangan dengannya.

Soekarno sadar betul bahwa proses peradilan ini hanya bertujuan untuk mematikan langkahnya dalam pergerakan politk. Oleh karena itu, Soekarno justru memanfaatkan pembacaan pledoinya untuk menyatakan perlawanan terhadap Imperialisme dan Kapitalisme.

Indonesia Menggugat telah menunjukkan bagaimana Imperialisme dan Kapitalisme telah memelaratkan bangsanya. Soekarno menganggap bahwa nafsu akan harta Pemerintah Kolonial telah menyisakan kepedihan dan penderitaan bagi bangsanya.

Berbagai pemikiran tokoh dunia menjadi dasar aargumentasinya. Soekarno mengutip Rudolf Hilferding, Karl Ranner, dan H.N. Braisford yang menyatakan bahwa imperialisme adalah politik luar negeri dari negara dengan “Kapitalisme keliwat matang”. Kapitalisme inilah yang akan terus melakukan penguasaan ekonomi tanpa ampun dan tak ada habisnya.

Reaksi Kaum Oposisi Pemerintah Kolonial dan Ahli Hukum di Negeri Belanda

Proses persidangan Soekarno dan kelompoknya secara keselruhan berlangsung sebanyak 19 kali. Tiga rekan Soekarno, yaitu Gatot Mangkupradja, Maskoen Soemadiredja dan Supriadinata dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Sementara Soekarno, mendapat masa hukuman yang lebih berat, empat tahun penjara.

Usai putusan hakim tersebut, perkara ini sempat naik banding ke Rand van Justice. Akan tetapi, proses tersebut gagal total, Soekarno dan kelompoknya harus menjalani masa tahanan sesuai keputusan di penjara Sukamiskin, Bandung.

Baca Juga: Indonesia Menggugat dan Vonis 4 Tahun Penjara Bung Karno

Berita tentang persidangan Soekarno dengan segera menyebar di kalangan kaum pergerakan Indonesia dan tokoh politik di Negeri Belanda. Kaum oposisi Pemerintah Kolonial dan beberapa ahli hukum di Negeri Belanda mengkritik keras keputusan hakim yang menjatuhkan hukuman berat pada Soekarno.

Naskah Indonesia Menggugat menjadi hal yang paling tersorot dalam kritik-kritik tersebut. Pembelaan Soekarno dalam Indoensia Menggugat telah menunjukkan bahwa peradilan Soekarno adalah murni persoalan politik. Segala tuduhan dan dakwaan hukum Pemerintah Kolonial nyatanya tidak pernah bisa dibuktikan dalam persidangan.

Gelombang protes dari negeri Belanda sendiri inilah yang kemudian memengaruhi hasil akhir putusan sidang. Gubernur Jenderal Hindia Belanda akhirnya mengurangi masa hukuman Soekarno yang semula empat tahun penjara, menjadi hanya dua tahun. 

 

 

Artikel Lainnya