Manusia Prasejarah di Indonesia dan Penjelasannya

Teman cerita, ada banyak sekali teori yang berkembang terkait penjelasan kehidupan manusia prasejarah di bumi Indonesia ini. Mulai dari jenis-nya, tempat tinggal-nya, hingga peralatan yang mereka gunakan untuk bertahan hidup. Kali ini skalacerita akan mengajak kamu semua untuk menyusuri perjalanan manusia prasejarah di Indonesia. Penasaran? Simak cerita selengkapnya.

Homo Erectus: Manusia Tertua di Indonesia

Kehidupan manusia di Indonesia setidaknya telah berlangsung sejak 1,8 juta tahun silam. Homo erectus adalah sejenis primata yang diyakini sebagai bentuk manusia tertua penghuni Pulau Jawa. Mereka hidup di sekitar aliran sungai bersama dengan beragam jenis flora dan fauna. Dalam upaya menunjang kehidupannya, Homo erectus mengembangkan alat berbahan batu seperti alat serpih, kapak genggam, dan kapak perimbas.

Baca Juga: Alasan Mengapa Manusia Purba Banyak Tinggal di Tepi Sungai

Secara fisik, Homo erectus memiliki tinggi rata-rata 165 cm dan telah mampu berjalan tegak. Bentuk tengkoraknya pendek dan memanjang ke belakang, tulang keningnya menjorok ke depan dengan dahi yang datar, volume otaknya berkisar 1000 cc, lebih kecil dari manusia modern (Homo sapiens) dengan volume otak 1200-1400 cc. Sebaliknya, bentuk rangka penyusun tubuh Homo erectus seperti tulang paha, tulang belakang, dan tulang pinggul, seluruhnya memiliki bentuk yang hampir sama dengan Homo sapiens.

Menurut Prof. Harry Widianto dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Homo erectus terbagi ke dalam 3 jenis berdasarkan tingkatan evolusinya. Melalui bukunya, “Sangiran dalam Konteks Migrasi Awal di Pulau Jawa”, Prof. Harry mengungkapkan Homo erectus tertua adalah Homo erectus arkaik (1,8 juta tahun), kemudian berevolusi menjadi Homo erectus tipik (0,7-0,25 juta tahun), dan terakhir berevolusi menjadi Homo erectus progresif (0,2-0,15 juta tahun).

manusia prasejarah tertua di Indonesia
Evolusi Bentuk Wajah Homo Erectus di Indonesia (sumber: Kemdikbud.go.id)

Homo erectus hidup dan berevolusi beriringan dengan deformasi geologis Pulau Jawa yang awalnya berupa rawa hingga membentuk lingkungan kontinental. Persebarannya mencakup banyak situs di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Fosil Homo erectus tertua ditemukan di Bumiayu, Jawa Tengah, berusia 1,8 juta tahun.

Usia tersebut telah membuka diskusi baru terhadap teori terdahulu mengenai manusia tertua di dunia, teori “Out of Africa”. Teori tersebut menyatakan Homo erectus bermigrasi dari daratan Afrika 1,8 juta tahun yang lalu dan baru tiba di Jawa 1,5 juta tahun silam. Penemuan fosil di Bumiayu membuktikan bahwa kehadiran manusia di Indonesia telah terjadi lebih dini.

Homo Sapiens: Manusia Prasejarah Modern Awal

Setelah mengalami masa penghunian yang panjang di Pulau Jawa, Homo erectus punah sekitar 100.000 tahun yang lalu. Barulah sekitar 30.000 tahun setelahnya, Homo Sapiens hadir menghuni Pulau Jawa dan wilayah lain di Indonesia. Manusia prasejarah yang satu ini seringkali disebut sebagai manusia modern awal karena bentuk fisiknya yang sudah menyerupai manusia masa kini. 

Homo sapiens awal yang menggantikan Homo erectus di Pulau Jawa adalah Homo wajakensis (Manusia Wajak). Penemuan Manusia Wajak sangat erat kaitannya dengan Eugene Dubois, dokter Belanda yang melakukan ekspedisi pencarian nenek moyang manusia.

Dubois datang ke Pulau Jawa karena melihat beberapa foto fosil manusia yang ditemukan di Desa Campurdarat, Tulungagung. Kemudian, Dubois melakukan penggalian di sekitar tempat penemuan fosil tersebut dan menemukan fosil manusia lainnya. Kedua temuan fosil tersebut disebut sebagai fosil Manusia Wajak I dan II.

manusia prasejarah Homo Wajakensis
Foto Tengkorak Manusia Wajak I (Simanjuntak, 2011)

Di kalangan para ahli paleoantropologi, ada dua pendapat terkait dengan jenis ras dari Manusia Wajak. Pendapat pertama menyatakan bahwa Manusia Wajak memiliki ciri-ciri Ras Australo-Melanesia. Ras ini merupakan sub-ras Negroid yang dalam bentuk fisik secara utuh kita kenal sebagai orang Papua dan suku Aborogin di Australia.

Baca Juga: Melihat Masa Lalu dari Karies Gigi Manusia Purba

Pendapat kedua, datang dari seorang ahli Paleoantropologi asal Indonesia, Prof. Teuku Jacob. Berdasarkan hasil penelitiannya, Jacob berpendapat bahwa Manusia Wajak memiliki ras campuran antara Australo-Melanesia dan Mongoloid. Menurutnya, tengkorak Manusia Wajak memiliki wajah datar dan beberapa ciri Mongoloid.

Kedua pendapat di atas menimbulkan pertanyaan terkait apa jenis ras dari Homo Sapiens pertama di Indonesia. Kemungkinan pertama, Ras Australo-Melanesia adalah ras manusia modern awal yang menghuni Kepualuan Indonesia. Kemungkinan lainnya, kedua ras tersebut telah berinteraksi sejak lama dan secara bersamaan menjadi ras manusia modern awal di Indonesia.

Ras Australo-Melanesia di Kepulauan Indonesia

Ras Australo-Melanesia identik dengan kehidupan di gua-gua alami. Kelompok ras tersebut bertahan hidup dengan berburu hewan sebagai sumber makanan serta mengembangkan teknologi alat berbahan batu dan tulang untuk menunjang kehidupannya. 

Mereka memodifikasi batuan alami di sekitar lingkungannya hingga menghasilkan bentuk alat seperti kapak, serpih, dan bilah. Selain itu, beberapa bagian tulang hewan hasil buruan juga tak luput dari pandangannya sebagai suatu alat yang fungsional.

Baca Juga: Peralatan ManusiaPurba dan Fungsinya

Berdasarkan temuan arkeologis, kehidupan ras ini mulai mendominasi wilayah Indonesia sejak 15.000 tahun yang lalu. Bukti dari penghunian ras ini adalah temuan-temuan berupa rangka manusia dengan ciri Australo-Melanesia, berikut dengan artefak-artefak pendukung kebudayaannya.

Temuan-temuan tersebut ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Pegunungan Karst Sewu, Pegunungan Kendeng Utara, Pegunungan Utara Bogor, Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan, Gua Harimau di Sumatera Selatan, dan Pesisir timur Sumatera Utara.

Bahkan, ekskavasi arkeologi di Gua Harimau, Sumatera Selatan berhasil menemukan rangka manusia yang jumlahnya mencapai 80 individu. Menariknya, temuan rangka tersebut tidak seluruhnya teridentifikasi sebagai Ras Australo-Melanesia, ada sebagian kecil individu yang teridentifikasi sebagai Ras Mongoloid.

Hasil penelitian tersebut sedikit demi sedikit telah memberikan gambaran adanya kemungkinan bahwa Ras Australo-Melanesia tidak sendirian menjadi penguni awal spesies Homo sapiens di Indonesia. Ras Mongoloid sangat mungkin hadir secara bersamaan dengan populasi Ras Australo-Melanesia, meskipun jumlah dan persebarannya lebih sedikit.

Migrasi Manusia Prasejarah Penutur Austronesia

Berdasarkan kajian terhadap temuan rangka-rangka manusia, dapat dipastikan bahwa keberadaan Ras Australo-Melanesia cukup mendominasi wilayah Kepulauan Indonesia. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, kedatangan populasi manusia baru yaitu populasi Penutur Austronesia secara perlahan menggantikan dominasi tersebut.

Populasi ini bermigrasi dari Taiwan menuju ke selatan, melewati Filipina, kemudian masuk ke Sulawesi dan Kalimantan (Teori “Out of Taiwan”). Secara biologis, kelompok manusia ini sangat identik dengan Ras Mongoloid, tepatnya Ras Mongoloid selatan.

Ras Mongoloid Selatan memiliki ciri biologis berbeda dengan Ras Mongoloid utara yang memiliki warna kulit lebih terang dan mata sipit. Penutur Austronesia telah mengenal  cara bertahan hidup yang lebih maju dengan memanfaatkan pertanian dan domestikasi hewan sebagai sumber makanan.

Kelompok manusia ini juga adalah artist di balik peninggalan seni cadas (rock art) yang ada di Indonesia. Mereka menciptakan berbagai motif hias pada dinding-dinding gua dengan bermacam teknik pembuatan. Salah satu motif yang mencuri perhatian dunia penelitian adalah penggambaran motif perahu.

Motif perahu sangat lekat dengan Penutur Austronesia yang terkenal sebagai pelaut andal. Dalam kaitannya dengan migrasi ke Kepulauan Indonesia, motif-motif perahu tersebut kemungkinan besar adalah penggambaran dari transportasi utama mereka untuk mencapai pulau-pulau potensial sebagai tempat tinggal.

Jejak-jejak persebaran dari migrasi Austronesia meliputi sebagian besar wilayah barat dan utara seperti Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa pulau kecil lainnya. Uniknya, kelompok Ras Mongoloid ini tidak bermigrasi sampai ke daratan Papua. Tidak ada penjelasan secara pasti kenapa migrasi dari populasi baru ini tidak mencapai daratan Papua yang hingga saat ini masih dominan ditinggali oleh Ras Australo-Melanesia.

Percampuran Ras dan Bahasa

Di wilayah Wallacea sekitar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara, populasi penghuninya merupakan percampuran genetis antara Ras Mongoloid dan Ras Australo-Melanesia. Hasil percampurannya bahkan masih dapat diamati pada populasi manusia masa kini di daerah tersebut.

Interaksi keduanya telah terjalin sejak lama dan menghasilkan asimilasi dari masing-masing budaya dan bahasa.Haryo Martodirdjo, ahli antropologi dari Universitas Padjadjaran pernah melakukan kajian terhadap bahasa Di Maluku Utara pada tahun 2000.

Melalui tulisannya yang berjudul “Perkembangan Bahasa dan Budaya Daerah Perbatasan Rumpun Bahasa Austronesia dan Non-Austronesia di Halmahera”, Martodirdjo menjelaskan bahwa daerah Maluku Utara terbagi ke dalam dua jenis penggunaan bahasa yang berbeda yaitu Austronesia dan Non-Austronesia.

Baca juga: Berkenalan dengan Ali Akbar Arkeolog asal Indonesia yang meneliti Situs Gunung Padang, Jawa Barat!

Menariknya, Kedua kelompok manusia yang menuturkan dua bahasa tersebut tidak saling memahami satu sama lain. Oleh karena itu, proses komunikasi antara keduanya menghasilkan bahasa baru yang merupakan percampuran antara dua bahasa tersebut. Bahasa perantaranya disebut sebagai bahasa Melayu pasar, bahasa melayu lokal yang bercampur dengan kosakata bahasa Non-Austronesia.

Baca Juga: DNA Neandertal Pada Manusia Modern

Nah, itulah tadi sekilas tentang perjalanan panjang kehidupan manusia prasejarah di Indonesia. Menarik bukan?

Daftar Referensi:

  1. Martodirdjo, Haryo, S. (2000). Perkembangan Bahasa dan Budaya Daerah Perbatasan Rumpun Bahasa Austronesia dan Non-Austronesia di Halmahera. In Sudaryanto dan Alex Horo Rambadeta (eds.), Antar Hubungan Bahasa dan Budaya di Kawasan Non-Austronesia (pp. 56-57). Yogyakarta: PSAP-UGM.
  2. Simanjuntak, T. (2011). Kehidupan Manusia Modern Awal di Indonesia: Sebuah Sintesa Awal. Amerta, 29, 1-17.
  3. Widianto, H. (2020). Sangiran dalam Konteks Migrasi Awal di Pulau Jawa. Jakarta: Puslit Arkenas.
  4. Kasnowihardjo, G. (2010). Sekilas Tentang Sebaran Manusia Prasejarah di Indonesia. Papua, 2(2), 1-13.

Artikel Lainnya