PSMS vs Persib 1985: Rivalitas yang Cetak Rekor Dunia

Pertandingan PSMS vs Persib di final perserikatan 1985 telah menorehkan catatan penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Selain karena rivalitas panas antara keduanya, final 1985 berhasil menyita perhatian dunia lantaran antusiasme penontonnya yang sangat fantastis.

Jumlah Penonton Mencapai 150.000 Orang

Rivalitas kedua tim ini memang tak diragukan lagi. Keduanya sempat bertemu dua kali di final perserikatan tahun 1966 dan 1983. PSMS keluar sebagai pemenang dari kedua laga itu dengan skor 2-0 di tahun 1966 dan 3-2 di tahun 1983 lewat drama adu penalti.

Februari 1985, laga PSMS vs Persib kembali terulang, lagi-lagi di final perserikatan. Tahun itu adalah kesempatan Persib menuntut balas atas dua kekalahan sebelumnya. Persib tampil dengan kekuatan penuh, serta dukungan bobotoh di Stadion Utama Senayan.

Secara jumlah, bobotoh yang menonton secara langsung di stadion lebih dominan ketimbang pendukung PSMS. Jakarta sebagai tempat bertanding lebih menguntungkan bagi bobotoh, mengingat jarak Bandung-Jakarta yang lebih dekat daripada Medan-Jakarta.

Baca Juga: Sejarah PSSI : Pejuang Kemerdekaan melalui Sepak Bola

Saat itu, panitia pertandingan menyediakan tiket sebayak 106 ribu dari 120 ribu kapasitas penonton Stadion Utama Senayan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal lain, jumlah penonton yang hadir melebihi jumlah tiket dan kapasitas stadion yang ada.

Buku Asian Football Confederation (AFC) terbitan 1987 mencatat bahwa pertandingan final PSMS vs Persib 1985 disaksikan oleh kurang lebih 150 ribu orang. Angka fantastis itu tercatat dalam rekor dunia sebagai jumlah penonton terbanyak dalam suatu kompetisi amatir.

Antusiasme penonton yang begitu besar hampir menggagalkan pertandingan ini. Berdasarkan berita Harian Kompas Februari 1985, ribuan penonton sempat ingin merangsek masuk dengan mendobrak pintu pada bagian barat stadion. Hal ini membuat petugas keamanan begitu kewalahan untuk menertibkan pertandingan.

Penonton yang berhasil masuk langsung memadati tribun yang berkapasitas 120 ribu orang. Sementara yang tak kebagian tempat di tribun justru tumpah ruah di area sentel ban (trek lari). Alhasil, pertandingan molor dari jadwal semula karena terhambatnya akses para pemain untuk masuk ke lapangan. 

PSMS vs Persib 1985: Laga 120 menit dan Drama Adu Penalti

Final ini ibarat perang bintang dari pemain-pemain Indonesia. Persib Bandung diperkuat oleh Robby Darwis (Bek), Ajat Sudrajat (striker), Iwan Sunarya (gelandang), dan penjaga gawang legendaris, Sobur. Sementara PSMS memboyong Hadi Sakiman (gelandang), Amrustian (striker), M. Sidik (striker), dan penjaga gawang tim Nasional, Ponirin Meka.

Pertandingan berlangsung panas sejak peluit awal dibunyikan. Kedua tim jual-beli serangan untuk mencetak gol. PSMS Medan berhasil unggul lebih dulu di menit ke-14 lewat striker andalannya M. Sidik, usai menerima umpan silang dari Sunardi A.

Pada menit ke-35, Stadion Senayan kembali bergemuruh setelah PSMS berhasil mencetak gol keduanya. Umpan Sakum Nugroho dari tengah lapangan berhasil dikonversi menjadi gol oleh M. Sidik. Skor 2-0 menutup babak pertama untuk keunggulan PSMS Medan.

Memasuki babak kedua, Persib berusaha tampil menyerang untuk mengejar ketertinggalan. Menit ke-65, Persib mendapat kesempatan mencetak gol menyusul pemain PSMS yang melakukan handball di kotak penalti. Iwan Sunarya mengeksekusi penalti tersebut dengan sempurna dan merubah skor menjadi 2-1.

10 menit berselang, Persib berhasil menyamakan kedudukan. Ajat Sudrajat menyambut tendangan sudut dengan sundulan terukur ke pojok gawang PSMS Medan. Persib Bandung memaksa PSMS Medan untuk bermain 120 menit.

Dalam waktu perpanjangan 2×15 menit, kedua tim saling ngotot untuk memenangkan pertandingan. Sayangnya, tak ada gol yang terjadi dalam waktu perpanjangan ini. Pertandingan terpaksa berlanjut ke babak adu penalti.

Babak adu penalti menjadi ajang unjuk gigi dari dua kiper terbaik Indonesia, Sobur dan Ponirin Meka. Keduanya tampil mengejutkan melalui penyelamatan tendangan penaliti dari masing-masing lawan.

Ponirin berhasil tampil lebih baik. Ia menahan tiga tendangan penalti berturut-turut dari Adeng Hudaya, Dede Iskandar, dan Robby Darwis. Kiper andalan timnas itu membawa timnya merengkuh gelar perserikatan yang ke-lima sepanjang sejarah PSMS Medan di ajang Perserikatan.

Kerukunan Antar Supporter

Gemuruh penonton menggema di stadion usai Sobur gagal menahan tendangan penalti pemain PSMS, Mameh Sudiono. Riuh sorak-sorai kemenangan pendukung PSMS terdengar di antara bobotoh yang mendominasi stadion.

Di sisi lain, bobotoh tampak tertunduk lesu atas kegagalan tim kesayangannya di final. Terlebih lagi saat Wakil Presiden Indonesia, Umar Wirahadikusumah menyerahkan secara langsung piala kemenangan kepada PSMS Medan. 

Penyerahan piala diiringi oleh teriakan pendukung PSMS, “Hidup PSMS, Hidup Medan, PSMS menang, Horas!”. Dua raut wajah yang sangat kontras antara kedua pendukung mewarnai Stadion Utama Senayan malam itu.

Sempat ada kekhawatiran akan terjadi kerusuhan dari kedua pendukung tim. Laga el classico Indonesia yang sangat emosional dan membludaknya penonton punya potensi besar memancing tindakan anarkis. 

Aparat sudah bersiaga untuk antisipasi kerusuhan. Hebatnya, tak ada aksi provokasi atau teriakan kebencian dari dua kubu supporter hingga bubaran pertandingan. Laga panas jawara Sumatera dan Tanah Jawa berakhir tertib dan damai.

Artikel Lainnya