Raja Airlangga: Raja Jawa dari Pulau Seberang

Airlangga (Erlangga) adalah raja Mataram Kuno setelah Dharmawangsa Teguh yang memerintah pada 1019-1043 Masehi. Ia naik takhta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.

Dalam sejarah peradaban Indonesia, dia disebut sebagai salah satu raja berpengaruh di tanah Jawa. Cerita mengenai raja Airlangga tertera dalam beberapa prasasti Jawa Kuno. Seperti apa perjalanan kehidupannya sehingga disebut sebagai raja yang berpengaruh?

Airlangga Raja Termasyhur

…maka ia pun duduk di atas singgasana dan meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya

Kalimat tersebut terpahat pada prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta yang dikeluarkan tahun 1037 Masehi. Dari kalimat tersebut, kita tahu bahwa dia adalah pemenang dalam banyak perang melawan para pemberontak. Tidak ada musuh yang tidak bisa dikalahkannya. Semua takluk di bawah kakinya.

Dia adalah raja Airlangga, seorang raja termasyhur di tanah Jawa. Laki – laki tampan, layaknya Rama putra Dasaratha dengan sifat dan kemampuan yang lebih baik. Dia adalah pemuda yang berhasil bertahan hidup dari badai pralaya.

Ketika menginjakkan kaki di tanah Jawa umurnya baru 16 tahun. Ia bertolak dari Bali untuk menikah dengan putri raja Mataram Kuno, Dharmawangsa Teguh.

Ibu Airlangga, Gunapryadharmapatni atau Mahendradatta adalah cucu dari Pu Sindok yang menikah dengan raja Bali dari wangsa Warmadewa, Udayana. Dari garis ibunya, ia merupakan kemenakan dari Dharmawangsa Teguh.

Diserang ketika merayakan Pernikahan

Nasib buruk tidak bisa dicegah. Saat perayaan pernikahannya, istana Mataram Kuno diserang oleh Raja Wurawari dari lwaram. Ibu kota yang keindahannya melebihi istana dewa Indra itu pun hancur menjadi debu.

Semua orang termasuk Dharmawangsa Teguh, putri mahkota, dan para pembesar kerajaan terbunuh. Peristiwa pralaya itu terjadi pada 1016 Masehi.

Airlangga bersama abdinya yang paling setia, Narottama berhasil lolos dan melarikan diri ke hutan. Di sana, ia bertemu dengan para pertapa dan tinggal di lereng gunung.

Bersama Narottama, ia hidup layaknya seorang pertapa, mengenakan pakaian kulit kayu, melahap makanan yang sama dengan para pertapa, dan juga melakukan yoga. Ia juga bersumpah bahwa dia tidak akan meninggalkan dharma, jika ia berhasil mengusir musuh dan mempersatukan kembali kerajaannya.

Airlangga Harapan Para Dewa

arca airlangga
Sumber: Wikimedia Commons

Dalam masa pertapaannya, ia tidak pernah lupa untuk memuja para dewa. Karena itu para dewa sangat mengasihi dan mencintainya.

Mereka berharap agar Airlangga bisa memperoleh pohon keinginannya untuk melindungi dunia, menjadi raja, mengembalikan kerajaan ke masa keemasannya, memakmurkan rakyat, memperbaiki bangunan suci, mengenyahkan kejahatan dari muka dunia, dan tetap hidup sesuai dengan dharma.

Setelah dua tahun Airlangga hidup sebagai pertapa, datanglah utusan dari ibu kota untuk bertemu dengannya. Mereka memintanya untuk naik menjadi Raja menggantikan Dharmawangsa Teguh yang telah lama meninggal. Permintaan tersebut diabadikan dalam prasasti Pucangan.

śākendretha….locanāgnivadane yāte mahāvatsare māghe māsi sitatrayodaśatithau vāre śaśinyutsukaiḥ āgatya praṇatairjanairdvijavaraissāśvāsamabhyarthitaśśrīlokeśvaranīralaṅganṛpati ḥpāhītyutāntāṅkṣitim

kemudian dalam tahun penting yaitu 932 tahun saka, tanggal 13 paro terang, bulan magha, pada hari kamis, menghadaplah para abdi dan para brahmana terpandang kepada raja di raja Erlangga, menunduk hormat di sertai harapan tulus. Mereka dengan penuh ketulusan mengajukan permohonan kepadanya: “perintahlah negara ini sampai batas-batas yang paling jauh!”
(Susanti, 2003)

Permintaan ini menguatkan Airlangga untuk keluar dari pertapaannya. Dia tidak bisa mengabaikan keadaan kerajaan yang hancur, kerajaan-kerajaan bawahan melepaskan diri, dan rakyat yang mengalami derita.

Beberapa bulan kemudian, ia akhirnya keluar dari pertapaan untuk menepati janji menjadi raja. Dengan restu dari pendeta Siwa, Buddha dan Mahabrahmana dia menjadi raja dengan gelar Śrī Mahārāja Rakai Halu Śrī Lokeśwara Dharmmawaŋśa Airlaŋga Ananta Wikramottuŋgadewa.

Pada umur dua puluh tahun, Airlangga sang pangeran dari seberang resmi menjadi raja Mataram Kuno.

Dia penjelmaan Dewa Wisnu yang bertugas untuk mengembalikan roda kehidupan dari pralaya, mulai melancarkan aksinya. Dia menyerang raja Wisnuprabhawa dari Wuratan, Haji Wengker bernama Panuda, menyerang musuh utamanya Haji Wurawari, dan seorang raja perempuan.

Kehidupannya setelah menjadi raja dipenuhi dengan perang melawan musuh-musuhnya. Hampir tiga perempat masa kekuasaannya dihabiskan dalam medan perang. Butuh waktu lebih dari 15 tahun sehingga Mataram Kuno mencapai masa keemasannya.

Airlangga Sang Juru Selamat

kolam jalatundo
Sumber: KITLV

Masa ketenangan dan ketentramannya berlangsung pada 1035 – 1042 Masehi. Airlangga sibuk menepati janjinya memakmurkan rakyat dalam bidang ekonomi, agama, politik dan masyarakat.

Dalam bidang politik, ia berhasil menaklukan kerajaan bawahan yang dulu melepaskan diri setelah peristiwa pralaya. Wilayah kekuasaannya pun mencapai Sunda, Sumatera dan Bali.

Dalam bidang ekonomi, dia melakukan perdagangan internasional dengan kerajaan Asia Tenggara, India, Arab, serta Cina dan membangun pelabuhan internasional Kambang Putih.

Dalam bidang agama, semua agama dan kepercayaan diperlakukan setara dan tidak ada agama resmi kerajaan. Airlangga sendiri merupakan pemeluk Saiva dan pemuja Wisnu.

Dalam bidang masyarakat, dia tidak pernah lupa jasa rakyatnya selama masa perang, dan memberikan banyak hak istimewa. Dalam prasasti juga disebut, bahwa kebaikan hatinya bagaikan derasnya Sungai Gangga. Baginya, kepentingan rakyat lah yang paling penting dan bukan kepentingan dirinya sendiri.

Selama masa pemerintahannya, Airlangga memindahkan ibu kota Mataram Kuno sebanyak tiga kali. Pertama, di Wwatan Mas yang saat ini berada di wilayah kabupaten Mojokerto. Kedua, di Kahuripan yang saat ini berada di wilayah Sidoarjo, dan terakhir di Daha sekitar wilayah Kediri masa kini.

Akhir Airlangga: Turun Takhta dan Membagi Mataram Kuno

Pada 1042 Masehi, Airlangga turun takhta untuk menjadi pertapa. Dilema dirasakannya, dia terjepit antara keputusan memberikan takhta kepada anaknya atau mengembalikan takhta pada keturunan Dharmawangsa Teguh yang masih hidup.

Dia yang juga penjelmaan Buddha, memutuskan untuk naik takhta kembali. Gelarnya adalah Aji Paduka Mpuŋku Saŋ Pinakacatra niŋ Bhuwaṇa, seorang raja yang menjadi payung dunia. Melawan landasan kosmis kerajaan, dia membagi kerajaan Mataram Kuno menjadi dua kerajaan, Janggala dan Panjalu.

Keputusan pemisahan dibuatnya untuk menghindari perang saudara dan mengembalikan takhta pada pemilik takhta sebenarnya. Ia kembali bertapa dengan perasaan sedikit tenang.

Sayangnya, perang saudara tetap terjadi antara Janggala dan Panjalu yang berlangsung berpuluh tahun lamanya. Hasilnya, Janggala dikalahkan oleh Kediri yang dipimpin oleh Śrī Mahārāja Sang Mapañji Jayabhaya.

Referensi

  1. Casparis, Dr. J. G. de. (1958). Airlangga. Pidato pengangkatan menjadi Guru Besar dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia Lama dan Bahasa Sanskerta pada Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Universitas Airlangga, 26 April 1958.
  2. Sitorus, T. (1989). Sifat Ideal Raja Data Prasasti Masa Airlaŋga-Kadiri Abad XI-XIII Masehi. Skripsi. Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
  3. Susanti, N. (2017). Airlangga: His Relations to Kings in South and South-East Asia. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 4(1), 1-14.
  4. -.(2003). Airlangga: Raja Pembaharu di Jawa pada Abad ke-11 Masehi. Disertasi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
  5. -.(1996). Prasasti-Prasasti Sekitar Masa Pemerintahan Raja Airlangga: Suatu Kajian Analitis.
Asri Hayati Nufus

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Artikel Lainnya