Relief Karmawibangga, Tulisan Tersembunyi di Kaki Candi Borobudur

Berapa banyak orang yang tahu bahwa ada bagian relief di kaki Candi Borobudur yang saat ini sudah ditutup? Pada bagian sisi tenggara kaki candi,  kita dapat melihat relief Karmawibangga, yakni Panil 21. Apakah ada yang memperhatikan bahwa di atas relief tersebut terpahat satu kata?

Candi Borobudur

Menurut Satyawati Sulaeman dalam Monumen-Monumen Indonesia Purba Candi, Borobudur adalah salah satu candi yang bernafaskan agama Buddha, yang didirikan pada masa dinasti Syailendra pada sekitar abad ke-9 M. Candi ini terletak di Magelang, di daratan Kedu, Jawa Tengah.

Krom menyebutkan dalam Barabudur Archaeological Description Vol.I, pada sisi barat dan selatan Candi Borobudur merupakan wilayah dataran Kedu (Bukit Menoreh) yang menjulang seperti menara-menara. Sisi timur laut merupakan wilayah Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro pada sisi barat laut.

Candi Borobudur terdiri dari tiga tingkatan, yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Di setiap tingkatan tersebut terdapat pahatan relief. Pengertian relief itu sendiri adalah gambar dalam bentuk ukiran yang dipahat. Menurut Ayatrohaedi, relief yang dipahatkan pada candi biasanya mengandung arti atau melukiskan suatu peristiwa atau cerita tertentu.

Relief Tersembunyi di Kaki Candi Borobudur

Relief Karmawibangga terletak di kaki Candi Borobudur yang saat ini telah tertutup. Bagian relief yang terbuka hanyalah panil di sisi tenggara. Karmawibangga terdiri dari kata Karma yang berarti perbuatan, dan Wibangga yang berarti berarti gelombang atau alur.

Relief ini menggambarkan alur kehidupan manusia saat hidup maupun setelah mati. Jadi, baik buruknya nasib ditentukan oleh perbuatan. Hukum karma atau sebab-akibat ini berlaku untuk semua orang, baik raja atau bangsawan, pendeta maupun orang kebanyakan. Hariani Santiko juga menyebutkan dalam Karmawibangga, Rahasia dari Jawa Kuno dalam Rahasia di Kaki Borobudur, bahwa ajaran dari naskah Mahakarmawibangga, meneguhkan bahwa sesuatu perbuatan pasti ada akibatnya.

Deretan relief di bagian kaki yang tertutup itu mempunyai alur cerita bergambar dengan adegan tidak berkesinambungan. Cara mengamati cerita reliefnya adalah dengan mengitari badan candi searah jarum jam. Alur cerita relief Karmawibangga berawal dari sisi timur, berputar ke sudut barat daya, barat laut dan berakhir kembali di sisi timur.

Inskripsi Relief Karmawibangga

Relief Karmawibangga memiliki banyak hal yang menarik di dalamnya. Selain penggambaran relief yang menunjukkan adanya hukum sebab-akibat (Hukum Karma), pada beberapa panil juga terdapat pahatan inskripsi (tulisan pendek).

Relief Karmawibangga berjumlah 160 panil, 35 diantaranya terdapat inskripsi pendek, lima diantaranya tidak terbaca. Panil-panil berinskripsi tersebut adalah panil 21, 24, 29, 43, 121, 122, 123, 124, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 134, 135, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 144, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 154, dan 157. Kondisi relief sekarang sudah tidak terlihat lagi karena sebagian besar kaki Candi Borobudur sudah ditutupi oleh kaki candi tambahan, dan yang nampak hanya tersisa pada sisi tenggara candi saja (Panil 21).

Inskripsi relief Karmawibangga telah dibahas sebelumnya oleh Kern. Dalam penelitiannya, Kern meneliti mengenai alihaksara dan alihbahasa dari inskripsi-inskripsi tersebut. Inskripsi ditemukan pada 35 relief yang beberapa panil dapat terbaca dan sebagian kecil lainnya hampir tidak dapat terbaca.

Kern juga menjelaskan poin-poin yang harus diperhatikan. Pertama, walaupun berbahasa Sansekerta, namun tanda dan penafsirannya kurang. Kedua, tulisan pada inskripsi ini tidak dibuat hanya oleh satu tangan yang sama. Terakhir adalah perbedaan tulisan menurut Kern juga menjelaskan perbedaan pengejaan. Sedikit perbedaannya dari yang diakui oleh Panini, contoh pada kata svargga dan svarga (Krom, 1927 : 49).

Dari ke-35 panil tersebut terdapat lima panil yang tidak dapat terbaca, yaitu panil 24, 29, 144, dan 148. Ada tiga panil yang terbaca sebagian, yaitu panil 122, 150, dan 153. Letak persebaran inskripsi pendek tersebut berada di setiap sisi kaki Candi Borobudur. Inskripsi dalam panil terbagi menjadi tiga bagian yaitu satu panil satu inskripsi, satu panil dua inskripsi di sisi atas kanan kirinya, dan satu panil berisi tiga inskripsi.

Pada penelitian epigrafi, proses pengolahan yang pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan relief Karmawibangga beserta inskripsinya. Selanjutnya melakukan analisis paleografi dan gramatika pada inskripsinya tersebut. Setelah itu, analisis selanjutnya adalah penguraian kata dasar dalam inskripsi untuk menentukan kata dasarnya. Hasil penguraian inskripsi tersebut diharapkan mampu mendapatkan berapa banyak kata yang berasal dari bahasa Sanskerta, Jawa Kuna bahkan mungkin bahasa Pali.

Makna Keletakan Inskripsi pada Relief Karmawibangga

Sejauh ini teori mengenai inskripsi tersebut hanya sebagai penanda silpin dalam menggambar relief saja. Oleh karena itu, timbul permasalahan berupa peranan serta fungsi inskripsi-inskripsi tersebut terhadap keletakannya di panil relief Karmawibangga.

Perjalanan keliling Candi Borobudur yang dilakukan para peziarah masa silam mungkin sama dengan yang dilaksanakan oleh umat Buddha India Kuno di Stupa Sāñci. Stupa kuno di India Utara itu dilengkapi dengan 4 pintu gerbang (torana). Masing-masing gerbang itu sebenarnya melambangkan tahapan hidup Siddharta Gautama. Pintu timur adalah lambang kelahiran (Buddhajati), pintu selatan melambangkan pencapaian pencerahan (Sambhodi), pintu barat pengajaran (khotbah) yang pertama (Dharmacakrapravarttana), dan pintu utara lambang masuk ke Nirwana (Parinirvana) (Coomaraswamy, 1985: 30-31; Anom, 2000: 27).

Agaknya antara Candi Borobudur dan Stupa Sāñci, ada kesejajaran dalam hal makna yang dikandungnya. Dengan demikian, perjalanan mengelilingi Candi Borobudur sama dengan perjalanan mengelilingi Stupa Sāñci. Perjalanan itu dapat dianggap sebagai simbol dari penghayatan kehidupan Siddharta Gautama tahap demi tahap sejak ia dilahirkan sehingga meninggal dan memasuki Nirwana (Munandar, 2008: 6).

Apabila tahapan hidup Siddharta diterapkan di Candi Borobudur, maka antara tangga timur dan tangga selatan (sektor I: area tenggara) dapat dianggap sebagai simbol dari tahap kehidupan (Buddhajati). Area antara tangga selatan dan tangga barat (sektor II: area barat daya) dianggap simbol kehidupan Siddharta ketika berupaya mencapai pencerahan (Sambhodi). Antara tangga sisi barat dan tangga utara (sektor III: area barat laut), dapat dianggap simbol pengajaran (khotbah) Siddharta yang pertama kali (Dharmacakrapravarttana). Terakhir, antara tangga utara dan tangga timur (sektor IV: area timur laut) adalah simbol Nirvana (Parinirvana).

Berdasarkan kajian diketahui keletakan inskripsi di sektor I dan sektor II hanya terdapat 1 panil. Sementara itu, di sektor III tidak terdapat pahatan inskripsi, sedangkan sisanya banyak ditemukan di sektor IV. Sektor 1 merupakan tahapan Buddhajati yang menyimbolkan tahapan Siddharta baru dilahirkan (simbol kelahiran) dengan inskripsi Virupa yang artinya “berparas buruk”. Dalam kisah hidup Siddharta Gautama sebelum menjadi Buddha ia melihat berbagai macam keburukan saat sedang keluar istana di malam hari secara diam-diam.

Sementara itu, pada sektor II terdapat 1 pahatan inskripsi berupa maheçākhya yang berarti “orang suci”. Sektor II merupakan tahapan Sambodhi yang menyimbolkan tahapan Siddharta saat berupaya mencari pencerahan. Tahapan ini merupakan waktu saat Siddharta berusaha mencari pencerahan dengan duduk di bawah Pohon Bodhi.

Dalam Sektor III merupakan perlambangan dari tahapan Dharmacakrapravarttan yang panilnya tidak berinskripsi. Tahapan ini menunjukkan penggambaran Siddharta setelah mendapatkan pencerahannya, ia melakukan pengembaraan untuk menyebarkan ajarannya. Di situlah Siddharta mengajarkan murid-muridnya untuk melepaskan segala nafsu dan kehausan kepada perkara-perkara duniawi. Tahapan saat Siddharta menyebarkan ajarannya itu disebut dharmacakraparvattan. Tahapan kehidupan Buddha mulai mengembara dan menyebarkan ajarannya.

Sektor III itu terletak di antara tangga sisi barat dan tangga utara atau area barat laut. Tidak adanya inskripsi pada sektor itu menerangkan bahwa saat itu Buddha mengajarkan dan menyampaikan khotbahnya. Tentu saja ajaran Buddha tersebut tidak serta diterima dan dirasakan manfaatnya secara langsung. Sesuatu yang sedang berlangsung tentu belum menghasilkan apa-apa atau tidak ada yang instan. Paling terkenal dicatat oleh beberapa raja, dan dikagumi, bahkan oleh guru-guru lawan adalah keheningan absolut yang terjadi ketika Buddha sedang mengajar.

Para guru atau Brahmana yang sezaman, biasanya menyebut Buddha, pada masanya, ”Guru Gotama”. Untuk beberapa alasan elliptis (sedikit bicara), Buddha dikenal sebagai muni, Guru Pendiam. ”Diamnya” Buddha adalah suatu subjek mendalam untuk interpretasi. Diam mungkin adalah keahlian mengajar beliau yang paling baik (Heendeniya, 2009 : 15,19).

Pada sektor IV atau tahapan parinirvana terdapat 31 buah panil yang berinskripsi. Kata-katanya pun bermacam-macam, dari perbuatan baik, tokoh suci, surga maupun sikap menghormati. Susunan panil berinskripsi pada sektor IV dimulai dari panil 121.

Pada dua panil pertama, yaitu panil 121 dan 122, berisikan kata-kata yang mempunyai arti keburukan manusia. Kata-kata tersebut adalah abhidya, vyasada, dan mitthyadrsti. Ketiga kata tersebut memiliki arti masing-masing adalah tidak menyenangkan, halangan atau rintangan, dan pandangan palsu. Setelah ketiga inskripsi tersebut kemudian terdapat inskripsi dengan pengertian persembahan dan surga serta diakhiri dengan kata anjali.

Inskripsi Sebagai Petunjuk

Fungsi adanya inskripsi pada Relief Karmawibhangga menurut Krom merupakan kata yang dipahatkan oleh para citralekha sebagai acuan bagi para silpin yang akan memahat relief. Akan tetapi, berdasarkan kajian ini dapat diketahui fungsi inskripsi berdasarkan tata bahasa dan keletakannya yang dikaitkan dengan teori empat tahapan kehidupan Siddharta.

Fungsi dari inskripsi yang ada di relief Karmawibangga adalah para pembangun Candi Borobudur ingin memberikan pengetahuan mengenai kehidupan Siddharta Gautama. Mulai dari  lahir, mendapatkan pencerahan, mengajarkan ajarannya hingga ke masa akhir hidupnya. Pengetahuan tesebut ditujukan kepada para umat Buddha pada masa Jawa Kuno sebelum pada akhirnya melanjutkan ritual keagamaan ke teras berikutnya di Candi Borobudur.

Jadi bagaimana Teman Cerita penjelasan mengenai relief Karmawibangga? Menarik bukan relief yang ada di kaki Candi Borobudur ini. Jangan lupa untuk memperhatikan relief ini jikalau kamu sedang berkunjung kesana, ya!

Baca juga: Melihat Berbagai Jenis Kapal di Relief Candi Borobudur

Daftar Referensi

  1. Anom, I Gusti Ngurah. (2000). Candi Borobudur: Sekilas Pintas makalah dalam Simposium Sehari, Rahasia Di Balik Keagungan Borobudur. Jakarta: Dhammasana Trisakti (pp. 31-47).
  2. Ayatrohaedi, dkk. (1978). Kamus Istilah Arkeologi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  3. Coomaraswamy,K. Ananda. (1985). History of Indian and Indonesian Art. New York: Dover Publication Inc.
  4. Heendeniya, Kingsley. (2009). Buddha dan Ajarannya. Jakarta: Buana Ilmu Populer.
  5. Krom, N.J. (1927). Barabudur Archaeological Description Vol.I. The Hague: Martinus Nijhoff.
  6. Munandar, Agus Aris. (2008). Adegan-adegan Relief pada Candi Borobudur:Tinjauan Terhadap Penataan Tataran Adegan dan Makna Simboliknya. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Depok. (Belum Diterbitkan).
  7. Santiko, Hariani. (1992). Karmawibangga, Rahasia dari Jawa Kuno dalam Rahasia di Kaki Borobudur. Jakarta: Katalis (pp. 13-38).
  8. Suleiman, Satyawati. (1981). Monumen-Monumen Indonesia Purba. Jakarta: Puslit Arkenas. PT Bunda Karya.

Artikel Lainnya