Sejarah Banjir Jakarta: Melawan Banjir dan Pencemaran Air di Era Kolonial Belanda

Teman cerita, musim penghujan biasanya mendatangkan banyak manfaat. Tapi tidak bagi sebagian besar warga Jakarta yang sering kali harus menanggung sulitnya menghadapi banjir yang datang hampir setiap tahun. Sejarah banjir Jakarta telah berlangsung sejak ratusan tahun lamanya. Banjir ini sering diiringi dengan masalah pencemaran air yang merugikan secara ekonomi dan juga kesehatan.

Padahal jika dilihat, Jakarta dibangun di daerah aliran sungai Ciliwung yang memiliki keuntungan untuk dibangun sebuah kota. Keuntungannya berupa kemudahan untuk mendapat sumber air bersih. Akan tetapi letak dan kondisi dataran Jakarta yang rendah, menjadi awal munculnya permasalahan yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Catatan mengenai sejarah banjir Jakarta telah lama dituliskan. Salah satu yang tertua dapat ditemukan di Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Prasasti ini bercerita mengenai penggalian sungai Candrabhāga dan Gomati untuk menanggulangi banjir dan kekeringan pada masa pemerintahan raja Purnawarman.

Permasalahan banjir terus berlanjut ketika pemerintah kolonial Belanda menguasai Jakarta, atau yang kala itu dikenal dengan nama Batavia. Berbagai cara dilakukan untuk dapat mengatasi permasalahan yang tiada akhir tersebut.

Apa Penyebab Banjir Batavia?

Banjir adalah air yang melimpas dari badan air seperti selokan, saluran drainase, sungai, situ, atau danau dan menggenangi kawasan di sekitarnya. Ada dua unsur yang berperan dalam banjir, yaitu besarnya volume air yang masuk ke badan air dan besarnya tampungan badan air.

Menurut jenisnya, banjir dapat dibagi menjadi banjir lokal, banjir kiriman, dan banjir rob. Ketiga jenis banjir tersebut terkadang datang secara bersamaan di Batavia. Banjir di Batavia disebabkan oleh kondisi sungai yang yang tidak bisa mengalirkan air dengan baik. Hal tersebut dikarenakan kondisi geografis Batavia dan adanya sampah serta proses sedimentasi yang terjadi.

Secara geografis, Batavia merupakan wilayah yang terbentuk dari kipas aluvial. Kipas aluvial terbentuk dari deposisi sedimen hasil erosi yang terjadi berulang-ulang, serta terletak di kaki gunung. Banjir yang terjadi pada kipas aluvial walaupun memiliki kedalaman yang dangkal, tetapi tetap mengancam karena memiliki arus yang kuat dan dapat membawa sedimen dalam jumlah banyak.

Sejarah Banjir Jakarta dari Waktu ke Waktu

Banjir pertama setelah VOC berkuasa terjadi pada 1621 atau tiga tahun setelah J.P. Coen membangun kembali Batavia yang hancur akibat pertempuran memperebutkan kota ini dengan kesultanan Banten. Kondisi Batavia pada 1621 sebagian besar masih berupa rawa-rawa dan hutan liar yang mudah tergenang air yang diakibatkan dari hujan deras dan luapan sungai Ciliwung.

Selama masa pemerintahan Belanda, banjir terus terjadi setiap tahunnya. Tahun 1893, Batavia mengalami banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Hujan yang turun sangat lebat selama lebih dari delapan jam menjadi penyebab utama terjadinya banjir. Beberapa daerah di Weltevreden (pemukiman masyarakat Eropa) dan pinggiran Batavia mengalami banjir.

Setahun kemudian tepatnya tahun 1893, banjir kembali terjadi. Kali ini banjir tidak hanya merusak jalan-jalan di Weltevreden tetapi juga merusak perekonomian. Air menggenangi beberapa kawasan di Batavia, selain itu akibat banjir nelayan tidak dapat pergi melaut karena adanya ombak besar yang menghantam Teluk Jakarta.

Banjir tahun 1893 menjadi salah satu bencana alam yang paling merugikan, apalagi ditambah dengan menyebarnya wabah penyakit kolera yang menimbulkan banyak korban jiwa. Batavia terus dilanda banjir, diantaranya pada tahun 1895, 1899, dan 1904.

banjir koningsplein
Banjir di Batavia Wilayah Koningsplein , Terbitan 1898
Sumber: KITLV

Menurut laporan De Locomotief, tanggal 19 Februari 1909 terjadi banjir akibat hujan deras sehingga saluran-saluran air tidak dapat menampung lagi. Daerah yang terendam adalah sekitar Weltevreden yang digambarkan hampir seperti danau. Akibat hujan deras yang terjadi selama bulan Januari sampai Februari 1918, terjadi banjir yang melumpuhkan kota Batavia.

banjir batavia
Banjir di Batavia Wilayah Kerklaan, Terbitan 1920
Sumber: KITLV

Pencemaran Air Memperburuk Kondisi Batavia

Pada awal masa pemerintahan Belanda, sungai Ciliwung dan saluran-saluran air yang menyediakan sumber air bersih untuk masyarakat Batavia sangat jernih. Sumber air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batavia, baik bagi penduduk asli maupun pendatang.

Masyarakat mengambil air dari sumbernya kemudian disimpan di dalam tempayan untuk mengendapkan sisa-sisa lumpur yang mungkin terbawa dari sungai. Mereka langsung meminum air tersebut tanpa memasaknya terlebih dahulu. Sumber air tersebut mulai tercemar oleh sampah dan kotoran manusia.

Pada masa itu, masyarakat Batavia belum mengenal sistem kakus atau kamar mandi, sehingga banyak dari mereka yang membuang kotoran ke sungai dan saliran-saluran air. Pencemaran semakin diperparah karena terjadi letusan Gunung Salak pada tahun 1699. Letusan tersebut menyebabkan sungai dan saluran-saluran air yang mengaliri Batavia dipenuhi oleh lumpur.

Masyarakat semakin kesulitan untuk menemukan sumber air bersih. Kondisi Batavia yang berada di muara sungai Ciliwung menambah buruk kualitas air, hal tersebut dikarenakan pada bagian muara air yang tersedia adalah air payau. Jika musim kemarau tiba, masyarakat sangat kesulitan untuk mencari sumber air bersih yang tidak payau dan bebas dari lumpur.

Akibat buruknya kualitas sumber air di Batavia, mulai muncul wabah-wabah penyakit yang mematikan. Batavia dijuluki sebagai ”Rumah Mayat”, “udaranya dilukiskan sebagai penyebab kebinasaan, salurannya sangat buruk dan berbau busuk”. Penyakit yang timbul diantaranya kolera, malaria, diare, TBC, tifus dan cacar.

Kolera merupakan salah satu penyakit yang paling menakutkan, khususnya bagi bangsa Eropa yang ada di Batavia. Tercatat pada tahun 1864 saat kolera menjadi pagebluk di Batavia, 240 orang Eropa meninggal dunia. Penyebarannya terjadi melalui air minum, makanan, dan kontak langsung terhadap penderita.

Malaria juga menjadi salah satu penyakit mematikan bagi penduduk Batavia. Wabah malaria memuncak pada tahun 1733-1738, 1745-1755, dan 1763-1767. Masyarakat pribumi menjadi korban terbanyak akibat penyakit malaria. Hal tersebut dikarenakan kemiskinan yang mereka derita, sehingga kualitas lingkungan hidup mereka menjadi sangat rendah.

Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Batavia juga menjadi korban, akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak masyarakat pribumi. Masyarakat Tionghoa memiliki kebiasaan untuk memasak air terlebih dahulu saat meminum teh, sehingga mereka lebih terlindung dari penyakit yang disebabkan pencemaran air di Batavia.

Berdasarkan penelitian terhadap makam muslim di Batavia pada tahun 1910-1911, menunjukkan bahwa seperempat orang yang dimakamkan adalah anak-anak yang berusia di bawah satu tahun. Anak-anak menjadi korban paling banyak akibat buruknya kualitas air di Batavia. Air yang tercemar menyebabkan munculnya penyakit diare yang mayoritas menyerang anak-anak.

Penyakit yang juga banyak menyerang anak-anak adalah TBC. Dari tahun 1935 sampai 1936, tercatat kurang lebih 120 kasus penyakit TBC yang terjadi pada anak-anak balita dan bayi. Tifus juga pernah melanda Batavia dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Munculnya penyakit ini berkaitan dengan lingkungan pemukiman yang tidak sehat.

Langkah Penanggulangan oleh Pemerintah Kolonial Belanda

Permasalahan yang muncul di Batavia membuat pemerintah Belanda perlu melakukan beberapa langkah penanggulangan. Untuk mengatasi banjir dilakukan pembangunan kanal-kanal, sedangkan untuk mengatasi pencemaran air dan permasalahan ketersediaan air bersih dilakukan sistem Waterleiding dan pemberlakuan aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah Belanda bagi masyarakat Batavia.

Pembuatan Kanal-Kanal

Kanal berfungsi untuk menjaga kestabilan air pada sungai-sungai di musim hujan dan musim kemarau. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mengenal kanal sejak masa kerajaan Tarumanegara yang berlanjut hingga masa Jayakarta.

Pada masa kekuasaan Belanda, pembangunan kota Batavia dimulai saat pemerintahan Gubernur Jenderal J. P. Coen. Ia mulai melakukan perluasan benteng menjadi kastil. Pada tahun 1627, dibuat saluran-saluran air yang mengelilingi kastil.

Saluran ini disebut sebagai kasteelgracht. J. P. Coen merencanakan pendirian kota pemukiman yang terletak di bagian luar sebelah selatan benteng atau kastil. Di dalam kota tersebut dibuat kanal-kanal lurus yang digali dari Sungai Ciliwung ke arah timur. Dibuat tiga kanal yang nantinya akan dihubungkan dengan kanal utama yang dibuat melintang dari utara ke selatan.

Pembangunan kanal-kanal di bagian wilayah Batavia terus dilakukan. Kanal-kanal tidak hanya dibuat di dalam kota saja, tetapi juga di luar kota. Di luar kota, jalur-jalur kanal lebih banyak mementingkan segi drainase, sehingga kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Pembangunan kota selesai pada tahun 1650.

Banyak pendatang yang merasa kagum atas kerja VOC dalam pembangunan kota Batavia yang mirip dengan bentuk perkotaan di negara asalnya. Pemerintah Belanda membangun kanal karena mereka menganggap kondisi Batavia sama dengan negaranya, yaitu dataran rendah yang rawan mengalami banjir.

kanal
Kanal Molenvliet dan Hotel Ernst, Terbitan 1880
Sumber: KITLV

Tetapi pada perkembangannya, pembangunan kanal ini tidak secara efektif dapat menyelesaikan permasalahan banjir di Batavia. Peristiwa meletusnya Gunung Salak pada tahun 1699 menyebabkan kanal-kanal di Batavia dipenuhi lumpur.

Pemerintah Belanda melakukan upaya pembersihan kanal dengan mendatangkan orang-orang dari Cirebon pada tahun 1730-an. Selain karena peristiwa letusan Gunung Salak, tidak berjalannya fungsi kanal dengan baik karena masyarakat Batavia banyak yang membuang sampah ke kanal.

Baca juga: Yuk, Menjelajahi Pusat Makanan Kaki Lima di Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur. 

Penerapan Sistem Waterleiding

Permasalahan ketersediaan sumber air bersih di Batavia sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakatnya. Oleh sebab itu untuk mengatasi permasalahan sumber air bersih, pemerintah Belanda memberlakukan sistem Waterleiding, atau orang pribumi menyebutnya ledeng.

Sistem Waterleiding diartikan sebagai sistem saluran air tekanan tinggi yang menyalurkan air bersih bagi penduduk Batavia menggunakan tenaga gravitasi. Sumber air yang digunakan pada sistem Waterleiding ini berasal dari sumber mata air Ciburial yang ada di daerah Ciomas, Gunung Salak.

Pendistribusian air dilakukan dengan menggunakan pipa. Pipa yang digunakan untuk menyalurkan air berjumlah dua pipa dengan ukuran masing-masing 800 mm. Sistem Waterleiding dianggap sebagai sistem yang paling mampu mengatasi permasalahan ketersediaan air di Batavia.

Akan tetapi air bersih yang di dapat dari sistem Waterleiding hanya diperuntukkan untuk tempat-tempat tertentu saja. Tempat tersebut dapat menerima air bersih jika merupakan pusat pemerintahan, kawasan hunian yang dibangun bersamaan atau setelah sistem berjalan, kawasan di sekitar Weltevreden, dan kampung-kampung besar yang dilewati oleh jaringan Waterleiding.

Untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan distribusi Waterleiding, pemerintah Belanda menunjuk petugas yang diberi jabatan sebagai Mandoers. Secara umum tugas Mandoers menjaga kualitas air dari hasil produksi Waterleiding agar tetap memenuhi persyaratan sebagai air bersih.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Belanda

Pemerintah Belanda memberlakukan peraturan air bagi rumah tangga, pengairan, tenaga industri, aliran air, sungai, kolam,danau, kanal, dan saluran air milik negara. Peraturan tersebut diterapkan kepada masyarakat umum dan pihak swasta.

Pada tahun 1630-an, pemerintah Belanda di Batavia mengeluarkan aturan mengenai larangan pembuangan sampah dan kotoran rumah tangga ke sungai. Bagi yang melanggar aturan tersebut akan dikenakan denda sebesar 6 riksdalders (1 riksdalders sama dengan 10 sen). Karena tidak dipatuhi, akhirnya pada tahun 1730-an denda dinaikkan menjadi 25 riksdalders.

Pada tahun 1685 kawasan yang berada di luar tembok kota, yaitu di kanal Molenvliet tidak diperbolehkan untuk mencuci, hal itu dikarenakan kanal tersebut akan digunakan sebagai sumber air bersih. Selain itu untuk menjaga kebersihan kanal, pemerintah Belanda mewajibkan warga yang tinggal di dekat kali atau kanal untuk membersihkan daerah aliran kanal yang diawasi oleh lurah (wijksmeester) setempat.

mencuci di kanal
Mencuci di Kanal Molenvliet, Terbitan 1930
Sumber: KITLV

Peraturan lain yang diberlakukan oleh pemerintah Batavia adalah larangan buang air besar sembarang waktu di Sungai Ciliwung. Masyarakat baru diperbolehkan buang air besar mulai pukul sepuluh malam hingga menjelang pagi.

Jika di luar waktu tersebut, masyarakat dipersilahkan menyimpan kotorannya di tempat-tempat tertentu dan baru pada pukul sepuluh malam kotoran tersebut dibuang oleh para budak ke kanal agar kemudian mengalir ke laut.

Permasalahan banjir dan pencemaran air di Jakarta memang tidak ada habisnya. Sejarah banjir Jakarta yang telah berlangsung sejak lama tampak tidak menemukan solusi yang berdampak. Sejak dulu hingga sekarang, pemerintah dan masyarakat Jakarta masih harus terus berjuang melawan kondisi tersebut. Jika belajar dari sejarahnya, mungkinkah Jakarta bisa benar-benar terbebas dari bencana rutinan ini?

Shafrina Fauzia

Shafrina Fauzia

Nulis agar rajin baca

Artikel Lainnya