Dolan

Sejarah Lawang Sewu: Secuil Cerita Panjang Perkeretaapian

Teman cerita, apakah kalian pernah ke Semarang? Jika kalian sudah pernah kesana, tentunya pernah berkunjung ke Lawang Sewu, bukan? Lawang Sewu merupakan destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika kalian pergi menjelajah kota Semarang.

Sumber : Heritage.kai.id

“Lawang Sewu” berarti Pintu Seribu. Namun, bukan berarti bangunan ini memiliki seribu Pintu ya… Faktanya Lawang Sewu hanya memiliki 429 pintu Loh!!

Penamaan Lawang Sewu juga disebabkan karena bangunan ini memiliki banyak jendela-jendela besar yang jika dilihat dari kejauhan akan terlihat seperti pintu. Dari situlah alasan penamaan yang disematkan pada bangunan ini sebagai “Lawang Sewu”.

Penamaan Lawang Sewu juga disebabkan karena bangunan ini memiliki banyak jendela-jendela besar yang jika dilihat dari kejauhan akan terlihat seperti pintu. Dari situlah alasan penamaan yang disematkan pada bangunan ini sebagai “Lawang Sewu”.

Lawang sewu merupakan bangunan bersejarah sekaligus situs arkeologi yang berada di ibu kota Provinsi Jawa tengah tersebut yaitu semarang.

Saat ini Lawang Sewu dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia (persero). Pembangunannya dilakukan secara bertahap di tanah seluas 18.232 m2 oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang saat ini berada di ujung Jalan pemuda Semarang (dahulu Bodjongweg)

Pembangunan ini dilatari oleh semakin berkembangnya perusahaan NISM dan bertambahnya jumlah pegawai perusahaan yang berujung di bangunnya kantor administrasi di Semarang.

Megah Bangunan di Ujung Jalan

Bangunan Lawang Sewu merupakan salah satu bukti awal sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia.

Perencanaan pembangunan kantor administrasi bagi perusahaan kereta api swasta ini dipercayakan kepada Prof. Jacob F. Klinkkhamer dan B.J. Ouendag di Amsterdam. Pembangunan Lawang Sewu di mulai dari 27 Februari 1904 hingga 1 Juli 1907. Pembangunan gedung tambahan dilakukan sekitar tahun 1916 dan selesai pada 1918.

Kompleks Lawang Sewu memiliki enam bangunan (Gedung A, B, C, D, E dan Rumah Pompa) yang tentunya memiliki desain bangunan sangat unik. Konsep atau ciri dominannya berupa elemen lengkung dan sederhana dengan jendela dan pintu berjumlah banyak yang bertujuan sebagai sistem sirkulasi udara.

Lawang sewu memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten. Ornamen ini menggambarkan cerita tentang kemakmuran serta keindahan di Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api.

Lawang Sewu juga memiliki ragam hias berupa ornamen tembikar pada bidang lengkung yang berada di atas balkon, kubah kecil di puncak menara air yang dilapisi oleh tembaga, dan puncak menara dengan hiasan perunggu.

Kaca patri Lawang Sewu

Silih berganti pemangkuan

Lawang sewu menjadi saksi berbagai peristiwa di Kota Semarang, yaitu peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang yang berlangsung pada 14-19 Oktober 1945. Bangunan tersebut diperebutkan oleh Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan tentara Jepang sebelum tentara sekutu datang.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, Lawang Sewu diambil oleh Jepang dan digunakan sebagai kantor Riyoku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Di tahun yang sama pula Lawang Sewu menjadi kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

Pada 1946 ketika Belanda memasuki Indonesia, Lawang Sewu kembali digunakan sebagai markas tentara Belanda dan perkantoran. DKARI harus pindah ke de Zustermaatschappjen (sekarang Kantor PT KAI Daop IV).

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 1949, Lawang Sewu digunakan sebagai markas kodam IV Diponegoro. Pada 1994, Lawang Sewu diserahkan kembali kepada kereta api melalui Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA) yang kemudian berubah menjadi Kereta Api Indonesia (Persero).

Lawang Sewu Kini, Tempat Wajib Dikunjungi

Tentu ketika mengunjungi atau singgah di Kota Semarang, Lawang Sewu harus menjadi tempat yang WAJIB dikunjungi. Saat ini bangunan Lawang Sewu dijadikan sebagai museum yang menampilkan ilmu pengetahuan dan ragam koleksi dari masa ke masa tentang perkembangan perkeretaapian di Indonesia.

ketika teman cerita mengunjungi Lawang Sewu, kalian akan menemukan informasi tentang proses pemugaran bangunan di kompleks Lawang Sewu. Informasi yang disajikan dalam berbagai media seperti foto, video ataupun material restorasi. Ada juga perpustakaan yang berisi buku-buku tentang kereta api, LOH!

Hayooo sampai disini siapa yang ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang Lawang Sewu? Kalian dapat mengunjungi Lawang Sewu yang berada di Jl. Pemuda, Sekayu, Kota Semarang Jawa Tengah. Tiket masuknya hanya Rp10.000,- untuk orang dewasa dan untuk anak-anak atau Pelajar sebesar Rp5.000,-. Murah, Bukan?

Selain mendapatkan Ilmu tentang perkeretaapian di Indonesia, kalian juga dapat menikmati estetika dari bentuk dan gaya bangunan yang dimiliki Lawang Sewu. Lawang Sewu juga bisa dinikmati pada malam hari juga LOH! Jam operasionalnya mulai dari Senin-Minggu pukul 7 pagi sampai pukul 9 malam!!

Kesan horor Lawang Sewu sebagai bangunan lama pun akan hilang dengan wajah bangunan yang indah dan penggunaan lampu yang sempurna kala saat di malam hari.

Lawang Sewu di Malam Hari

Abis baca sejarah Lawang Sewu, pastinya sudah tidak sabar untuk berkunjung kan? ada pantun nih buat kalian teman cerita untuk menyambut sebelum kunjungan!!!
jalan-jalan bawa uang seribu
bawa bekal berupa asinan
mampir sebentar ke Lawang Sewu
pasti dapat ilmu pengetahuan

Asik, bukan? mari sempatkan datang ya teman cerita!

Deddy Setiawan

Bercita-cita menjadi kaya dengan menulis.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kue Kudapan Khas Betawi

Halo teman cerita! Jakarta mempunyai suku asli yaitu suku Betawi. Tentu setiap suku memiliki keunikannya sendiri, tidak terlepas keunikan kulinernya… Baca Selengkapnya

7 jam Lalu

Bagaimana Sikap Menghargai Kebudayaan Daerah

Sebagai negara yang memiliki ragam daerah luas tentu saja kebudayaan daerah Indonesia sangat beragam, lantas bagaimana sikap menghargai kebudayaan daerah… Baca Selengkapnya

1 hari Lalu