Sejarah Ondel-Ondel: Pengusir Setan hingga Barang Dagang

Halo teman cerita! Kali ini skala cerita akan membahas sejarah ondel-ondel si Ikon Budaya Betawi, nih!
Siapa sih yang tidak tahu dengan ondel-ondel? Boneka raksasa yang merupakan kesenian khas Betawi yang sering kita lihat di jalan ibukota Jakarta

Ondel-ondel Masa Kolonial (Sumber : Koleksi Tropenmuseum)

Ondel-ondel sangat melekat dengan budaya Betawi, bahkan terdaftar sebagai salah satu dari delapan ikon budaya Betawi yang diatur dalam Peraturan Gubernur No. 11 tahun 2017 tentang ikon Betawi. Berdasarkan Pergub, ondel-ondel bermakna sebagai perlambang kekuatan yang memiliki kemampuan memelihara keamanan dan ketertiban, tegar, berani, tegas, jujur dan anti manipulasi, loh!

Sejarah ondel-ondel: Selayang Pandang Kesenian Betawi

Jenis pertunjukan Ondel-ondel sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Pada awalnya masyarakat Betawi menyebutnya dengan barongan yang berasal dari kata barengan atau bareng-bareng. Sebutan itu datang dari ajakan dalam logat Betawi “nyok kita ngarak bareng-bareng”.

Namun, setelah seniman Betawi Benyamin Sueb (alm) melantunkan tembang ondel-ondel, barongan pun lebih sering disebut Ondel-ondel. Bagaimanapun Benyamin tidak bermaksud untuk mengubah sebutan boneka Betawi tersebut. Namun setelah lagu yang dilantunkannya laris di pasaran, sejalan dengan itu, Barongan pun tergeser oleh Ondel-ondel.

Bagi masyarakat Betawi ondel-ondel bermakna sebagai budaya yang sakral dan digunakan untuk ritual persembahan kepada roh-roh leluhur. Pada tahun 40-an, ondel-ondel juga berfungsi sebagai pengusir setan dan penolak bala bagi masyarakat Betawi. Kesenian ondel-ondel juga memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya.

Namun fungsi tersebut semakin memudar seiring dengan kemajuan masyarakat Betawi dalam menanggapi pemikiran tersebut. Makna mistis tersebut bertahan hingga tahun 50-an. Sebelumnya ondel-ondel tampil dengan perawakan rambut gondrong, betaring dan menakutkan.

Ondel-ondel Nasibmu Kini

Pada saat ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta-pesta rakyat dan penyambutan tamu yang terhormat. Contohnya dalam peresmian bangunan atau pajangan di depan bangunan tersebut.

Pengamen dengan Ondel-ondel (Sumber: Republika.co.id)

Saat ini, ondel-ondel sudah mengalami pergeseran perannya, tak lagi sakral dan dinanti-nanti. Ondel-ondel kini sudah menjadi komoditi yang dijajakan oleh segelintir orang untuk mencari nafkah. Alih-alih melestarikan dan mengenalkan kebudayaan daerah, yang terjadi malah menghilangkan arti seni dan nilai budaya yang terkandung dan cara untuk melestarikan dan mengenakannya.

Baca juga: Sejarah Roti Buaya Sebagai Lambang Cinta dan Kesetiaan Bagi Masyarakat Betawi

Insan yang terlibat dalam kesenian ondel-ondel

Kebanyakan orang hanya tahu tentang orang yang menjadi ondel-ondelnya saja, padahal di balik itu ada dua insan lain yang terlibat yaitu pengrajin dan pengiringnya, ya.

1. Pengrajin
Pengrajin ondel-ondel biasanya memerlukan waktu yang berbeda untuk membuat ondel-ondel tergantung dari ukurannya. Para pengrajin ini lah yang berjasa melestarikan ondel-ondel. Alasannya agar kesenian ini tetap ada di ibukota Jakarta.

Pengrajin Ondel-ondel (Sumber: Inilahfoto.com)

Membuat Ondel-ondel besar yang berukuran setinggi 2,5 m dengan diameter sekitar 80 cm membutuhkan waktu tersendiri, tergantung permintaan. Bahan bakunya adalahbambu yang dibentuk menjadi rangka boneka. Secara teknis, pembuatan Ondel-ondel terbagi menjadi dua komponen, yaitu rangka dan topeng.

2. Pengiring
Setiap arak-arakan ondel-ondel dilengkapi dengan musik iringan yang dimainkan oleh pengiringnya. Dalam perkembangannya, mengarak ondel-ondel kini dibarengi musik Gambang Kromong dan musik Tanjidor. Tanjidor sendiri merupakan kesenian Betawi yang berbentuk orkes terdiri dari; Cabasa, Simbal, Maracs, Quarto, Drum Bass, Snare Drum, Tuba, Terompet, dll.

Pengiring Ondel-ondel (Sumber: encyclopedia.jakarta-tourism.go.id)

Nah, sudah tahukan sejarah ondel-ondel si kesenian asli Jakarta ini, teman cerita. Sebagai kota metropolitan seharusnya Jakarta bangga karena masih memiliki kebudayaan asli yang bertahan hingga kini. Kalian bisa melestarikannya dengan hadir disetiap pertunjukan ondel-ondel dan mengabadikannya lewat ponsel pintarmu, ya! Jangan lupa untuk menyebarkan info kesenian budaya Ondel-ondel agar tidak hanya kamu saja yang tahu!!!

Baca juga: Parade Tatung dari Singkawang, Festival Tahunan saat Cap Go Meh 

Sumber :
Khoiri, Agniya. (2016). ‘Ngamen’ Ondel-Ondel Jadi Daya Tarik Wisata.
“Sejarah Ondel-ondel dan Riwayatnya Kini”, diakses pada tanggal 28 Februari 2021 dari http://balaibudayajakarta.org/sejarah-ondel-ondel-dan-riwayatnya-kini/

Deddy Setiawan

Deddy Setiawan

Bercita-cita menjadi kaya dengan menulis.

Artikel Lainnya