Cerita Lama

Ketahui Sejarah Perkebunan Kopi Pertama di Indonesia

Teman Cerita, zaman sekarang siapa sih yang gak suka nongkrong di kafe? Entah itu kerja, pacaran, atau bertemu dengan teman. Tapi coba kamu tebak, kira-kira perkebunan kopi pertama kali ada dimana? Kali ini, Skalacerita akan bercerita sedikit mengenai sejarah perkebunan kopi di Indonesia. Simak, ya!

Pada akhir abad ke-17, permintaan kopi di Eropa sedang meningkat pesat. Para pedagang Eropa biasanya membeli kopi asal Yaman di pelabuhan yang bernama Mocha. Kopi-kopi yang dijual di pelabuhan ini nantinya akan disebut dengan “Kopi Mocha”.

Awalnya, VOC membeli kopi dari Mocha dan dijual kembali di Amsterdam dengan harga yang lebih tinggi. Namun, karena persaingan dengan perusahaan dagang lain keuntungan kopi semakin tipis. Kemudian Dewan Tujuh Belas memerintahkan VOC untuk memproduksi kopi sendiri di daerah koloni.

Percobaan Penanaman Kopi di Batavia

Lahan percobaan kopi awalnya dibuat di Batavia sebelum akhirnya berhasil dikembangkan dan disebarluaskan ke daerah lain. Pada 1707, bibit dari kebun percobaan di Batavia dibagikan kepada para bupati di daerah Priyangan untuk ditanam. Setelah daerah Priyangan, penanaman kopi dilakukan di beberapa daerah seperti Ambon, Pekalongan, dan lainnya.

Hutan-hutan pun dibuka untuk membuat perkebunan kopi. Pekerjaan ini dilakukan oleh para pekerja wajib yang dikoordinir oleh seorang bupati. Pekerja wajib adalah para penduduk lokal yang diwajibkan bekerja dalam kurun waktu tertentu. Mereka membuka lahan, menggarap lahan, melakukan penanaman bibit, pemeliharaan, pemanenan, serta mendistribusikannya ke tempat penimbunan.

Para pemetik kopi
sumber: KITLV

Kopi yang telah dipanen akan diproses di bawah pengawasan orang-orang Belanda dan hasilnya diserahkan kepada VOC sebagai produksi penyerahan wajib. Kopi-kopi tersebut dijual dengan harga yang telah ditentukan oleh VOC. Hasil penjualan tersebut diserahkan kepada bupati yang kemudian diteruskan kepada para pekerja.

Sistem ini biasa disebut juga dengan sistem priangan (Preangerstelsel). Dari sistem ini Bupati memegang kuasa penuh untuk mengatur perkebunan kopi, termasuk dalam hal keuangan. Di tahun-tahun berikutnya ada beberapa laporan yang menyebutkan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh bupati.

Priangan Menjadi Produsen Kopi

Pada 1711, Cianjur menjadi daerah pertama yang menyerahkan hasil panen kopi kepada VOC. sebanyak 50 kg kopi diserahkan kepada VOC. Perkembangan perkebunan kopi di Hindia Belanda berjalan secara perlahan. Pada 1720, daerah ini mampu menghasilkan kopi sebanyak 45 ton dan setelah 12 tahun produksi meningkat menjadi 5.500 ton.

Sementara itu, daerah Cirebon pada 1713 menghasilkan 150 kg kopi, dan pada 1730 meningkat menjadi 375.000 kg. Kemudian pada 1823 kapasitas produksi kopi di Cirebon mencapai 650.000 kg

Lahan-lahan baru dibuka baik di dataran tinggi Priangan maupun di dataran rendah. Kopi yang ditanam di dataran rendah hasilnya tidak begitu baik, akhirnya banyak perkebunan dibuka di dataran tinggi. Bentang alam dan kondisi geografis Priangan mendukung tanaman kopi untuk tumbuh dengan baik. Kopi biasanya akan tumbuh dengan baik saat ditanam pada lahan-lahan yang baru dibuka.

Pada 1723, kopi dimonopoli oleh VOC. Barang siapa yang menjual kopi kepada pihak lain akan diberikan hukuman. Di tahun yang sama VOC juga menetapkan harga 12,5 gulden per pikul kopi.

Selain itu, pembukaan kebun-kebun kopi ini juga berlangsung secara masif. Hal ini mendorong terjadinya migrasi tenaga kerja yang kebanyakan adalah pria ke daerah-daerah perkebunan. Fenomena ini dapat dilihat dari data demografi Cirebon pada tahun 1720 yang melaporkan adanya penambahan penduduk yang cukup signifikan.

Perkebunan kopi di Priangan tahun 1880an
Sumber: KITLV

Perubahan lainnya adalah sarana transportasi. Perkebunan kopi biasanya berada di wilayah pedalaman memerlukan angkutan untuk mendistribusikan hasil panen ke pelabuhan untuk diekspor. Alat angkut yang digunakan adalah gerobak yang ditarik kerbau. Kerbau-kerbau ini sampai didatangkan dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan perkebunan kopi. Tidak lupa pula dibangun jalan-jalan di daerah Priangan untuk mendukung kelancaran distribusi kopi.

Kopi dari Hindia Belanda Menguasai Dunia

Pada 1723, Priangan Barat menjadi daerah yang penting karena memiliki lebih dari 1 juta batang pohon kopi. Tahun 1725, produksi kopi Hindia Belanda mencapai target. Daerah Cianjur dan Kampung baru menjadi produsen terbesar saat itu.

Kopi dari daerah Priangan membawa keuntungan besar untuk VOC. Kopi-kopi ini juga laku di pasaran Eropa bahkan bisa bersaing dengan kopi asal Yaman yang sudah jadi kopi langganan masyarakat Eropa. Pada tahun 1725, kopi dari Hindia Belanda berhasil mengungguli kopi dari Mocha.

Proses pengeringan kopi di sebuah perkebunan kopi di Jawa
sumber: KITLV

Pada 1726, VOC telah menguasai perdagangan kopi di dunia. Sekitar 75% kopi yang dijual VOC berasal dari Priangan. Pada pertengahan abad ke-19 kopi juga menjadi komoditas paling menguntungkan VOC. Antara 1840-1849 keuntungan dari penjualan kopi sebesar 65 juta gulden.

Sistem ini terus berjalan sampai akhirnya VOC bangkrut dan dibubarkan. Keberhasilan VOC dalam menjalankan industri perkebunan kopi menggunakan sistem Preangerstelsel menginspirasi Gubernur Jenderal van Den Bosch menerapkan sistem serupa yang kita kenal dengan sistem tanam paksa atau cuulturstelsel.

Nah, teman cerita, begitu sejarah perkebunan kopi pada masa Hindia-Belanda. Meskipun, kopi dari priangan sudah tidak terkenal lagi, tapi Indonesia masih memiliki kopi yang terkenal, yaitu kopi luwak. Selamat minum kopi!

Referensi

  1. Kartodirdjo, Sartono. (1991). Sejarah Perkebunan di Indonesisa Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media
  2. Muhsin, Mumu Z/ (2017). Produksi Kopi di Priangan pada Abad ke-19. Paramita Historical Studies Journal Vol. 21 (2): 182-194.
  3. A. Syatori. (2020). Preanger Stelsel: Kisah Tentang Bisnis Kopi Belanda di Cirebon-Priangan. Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaah Islam Vol. 2 (2): 338-257
Danang Aryo

Suka fotografi dan jalan-jalan. Danang juga tertarik dalam dunia digital, seni, sejarah, dan budaya. Ia pernah beberapa kali terlibat dalam pengembangan museum di Indonesia.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

4 hari Lalu