Cerita Lama

Sejarah Perkembangan Pariwisata Bali

Bali selalu menjadi pilihan teratas daftar destinasi wisata Indonesia. Kita selalu mendengar orang-orang di luar negeri lebih kenal “negara” Bali daripada negara Indonesia. Kondisi Bali dengan Jawa cukup berbeda. Industri yang berkembang di Bali sampai saat ini adalah pariwisata yang mana tradisi dan budaya menjadi modal utamanya. Berbeda dengan Jawa yang ramai dengan industri pabrik dan perkebunan dalam skala masif.

Hal ini menimbulkan pertanyan. Bagaimana Bali bisa menjaga otentisitasnya? dan bagaimana Bali bisa menjadi ramai oleh wisatawan hingga sekarang?

Wajah Seram Bali

Ketika orang-orang Eropa mulai datang ke Nusantara, Bali menjadi salah satu tempat perdagangan. Budak dan opium menjadi dua hal yang ramai diperdagangkan. Sekitar 150.000 budak dijual pada periode abad ke-18 dan 19. Sementara penyelundupan opium mulai marak pada abad ke-19. Opium dari Cina atau Singapura akan dibawa ke Bali untuk kemudian diselundupkan ke wilayah Jawa.

Orang-orang Bali dikenal sebagai orang yang “sangar” dan barbar di mata orang Eropa. Banyak laporan mengenai budak-budak Bali yang mengamuk dan memberontak ketika dibawa ke luar Bali. Tradisi sati (membakar diri saat menjanda) yang masih dipraktekkan membuat kesan barbar semakin menjadi.

Budak Bali, Cornelis de Bruyn, sekitar 1711. BARTELE GALLERY

Persaingan antara Belanda dan Inggris pada masa itu semakin meruncing. Belanda kemudian mulai melirik untuk menguasai Bali secara penuh. Serangan militer mulai dilakukan karena kesepakatan perjanjian diplomasi tidak tercapai. Satu persatu kerajaan di Bali mulai dikuasai oleh Belanda. Pembantaian terjadi di mana-mana. Persenjataan yang lebih lengkap membuat Belanda berhasil menguasai Bali secara penuh pada tahun 1908.

Monumen Puputan (sumber: wikimedia)

Berita ngeri ini membuat Belanda di protes banyak pihak. Hal ini kemudian mendorong diterapkannya politik etis. Michael Picard dalam bukunya Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture (1996) menjelaskan bahwa Belanda berniat untuk mempertahankan otentisitas kebudayaan Bali dengan cara menyadarkan kepada masyarakat Bali mengenai kekayaan budaya, bahasa, tradisi dan seni mereka.

Kebijakan pelestarian ini memungkinkan Belanda menampilkan Bali sebagai karya pemerintahan kolonial yang tercerahkan, dengan dalih melindungi budaya Bali.

Di sisi lain hal itu juga memberi mereka kesempatan untuk mereformasi organisasi politik Bali, karena untuk merevitalisasi budaya ini mereka harus menghilangkan hambatan politik tertentu. Salah satunya adalah penguasa Bali, karena mereka ditafsirkan bahwa kekuasaan mereka telah mencekik budaya Bali yang sebenarnya.

Kebijakan ini membuat Belanda harus melawan arus modernisme yang mencoba mengubah Bali. Modernisme dikhawatirkan akan memunculkan gerakan nasionalis yang nantinya akan menjadi bumerang bagi Belanda.

Layaknya pemikiran orang Eropa pada saat itu, yang menganggap bahwa mereka lebih beradab daripada orang non-Eropa, Belanda memandang Bali sebagai living museum. Menurut mereka kebudayaan dan tradisi Hindu Bali tetap harus dijaga agar tidak terdegradasi layaknya Hindu Budha yang ada di Jawa.

Kebijakan ini disebut sebagai Baliserring atau Bali-isation. Orang Belanda saat itu memilih dan menyaring tradisi mana yang harus ditampilkan oleh orang Bali menurut kacamata mereka.

Pringle dalam A short history of Bali: Indonesia’s Hindu realm juga menyebutkan bahwa Belanda juga mengatur cara berpakaian, bahasa, arsitektur bangunan, dan sebagainya. Barang siapa yang melawan maka dapat dihukum

Awal Mula Turisme

Citra eksotisme yang dibuat Belanda ini terus dipertahankan. Awalnya pariwisata di Hindia Belanda hanya berkutat di wilayah Jawa. Namun, pada 1914 pariwisata mulai merambah wilayah Bali. ‘Gem of the Lesser Sunda Isles’ begitulah iklan pariwisata Bali saat itu. Para turis akan diajak mengelilingi pura, melihat keindahan gunung dari desa Penelokan, dan mengunjungi lokasi-lokasi menarik lainnya.

Iklan Pariwisata Bali (sumber: yakmag.com)

Setidaknya ada dua orang Eropa yang membuat pariwisata Bali mulai menggeliat yaitu W.O.J. Nieuwenkamp dan George Krause.

Nieuwenkamp pada 1906 bersama dengan pasukan militer Belanda mengunjungi Bali. Ia kemudian berkolaborasi dengan seniman-seniman lokal. Hasil karyanya kemudian dipublikasikan dalam sebuah buku. Sosoknya yang sedang memakai sepeda juga dipahatkan di relief Pura Meduwe Karang. Pada 1930 sekitar 100 turis per bulan mengunjung pulai Bali. Satu dekade kemudian jumlahnya mencapai 250 orang per tahun.

Tokoh kedua ialah George Krause. Vickers dalam bukunya Bali: A paradise created menyebutkan bahwa Krause mempublikasikan sebuah buku tentang Bali pada 1920. Buku ini terkenal di kalangan menengah atas Eropa. Melalui tulisannya Ia menggambarkan Bali dengan ciamik sekali. Krause mendeskripsikan bagaimana kehidupan masyarakat Bali kental akan tradisi Hindu, dan kehidupan yang selaras dengan alam. Foto dari buku Krause bagaikan magnet yang menarik orang untuk berkunjung ke Bali.

Cerita keindahan Bali menarik datangnya para seniman-seniman terkenal Eropa seperti Walter Spies (pelukis asal Jerman), Miguel Covarrubias (seniman asal Mexico), novelist Vicki Baum (Novelis Austria), dan Colin McPhee (Komposer Kanada). Hingga sekarang karya-karya mereka masih dicari oleh orang-orang.

Bali Setelah Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan bagi Presiden Soekarno, Bali memegang peranan penting dalam pembangunan karakter nasional. Ia membuat Bali sebagai percontohan kebudayan Indonesia. Pada periode ini, masyarakat Bali mulai merasakannya adanya kontrol dari pusat. Rencana ini masih dilanjutkan pada era Presiden Soeharto, Bali direncanakan sebagai destinasi pariwisata paling utama.

Tahun 1980-an, Bali menjadi semakin mendunia. Lahan-lahan yang awalnya sawah mulai tergantikan oleh hotel-hotel mewah. Kebijakan pariwisata dari pemerintah pusat membuat Bali semakin terkenal. Ekonomi Bali yang sebelumnya digerakan oleh pertanian dan kesenian lama kelamaan mulai tergantikan dengan pariwisata.

Hingga kini pariwisata Bali masih ramai. Belanda secara langsung membentuk citra eksotis Bali agar terus bertahan. Arus modernisme yang masuk ke Bali disaring terlebih dahulu oleh Belanda. Kebijakan semacam ini bukan tanpa konsekuensi. Polesan para penguasa yang ikut campur dalam mengatur Bali secara tidak langsung menciptakan kesenjangan bagi warganya sendiri. 

Referensi

  1. Howe, L. (2006). The changing world of Bali: religion, society and tourism. Routledge.
  2. Picard, M. (1996). Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture. Archipelago Press.
  3. Pringle, R. (2004). A short history of Bali: Indonesia’s Hindu realm. Allen & Unwin Australia.
  4. Vickers, A. (2013). Bali: A paradise created. Tuttle Publishing.
Azmi Gagat

Senang membaca dan menulis mengenai sejarah, budaya, dan, arkeologi.

Gimana nih komentarnya?

Artikel Terbaru

Kota Taman: Sejarah Kota Ramah Lingkungan di Indonesia

Permasalahan perkotaan belakangan ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Kota-kota besar, hingga kota kecil sekalipun sama-sama menghadapi persoalan rumit akibat… Baca Selengkapnya

2 hari Lalu

Taman Mini Indonesia Indah sebagai Taman dan Museum Budaya Indonesia

Halo teman cerita! kalian tau ga sih Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa di singkat TMII merupakan sebuah taman… Baca Selengkapnya

4 hari Lalu