Subak: Warisan Bali dan Dunia

Halo teman cerita! kali ini kita akan membahas salah satu Lanskap Budaya di Provinsi Bali yaitu Subak. Sudah tahu belum subak itu apa teman? kalau belum tahu, yuk simak ulasan berikut ini!!

Subak
Subak Bali
(Sumber : Indonesia-heritage.net)

Kata Subak pertama kali diketahui dari prasasti Pandak Badung yang berangka tahun 1072 M. Kata subak mengacu pada sebuah lembaga sosial dan keagamaan unik yang memiliki pengaturan sendiri dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Subak merupakan organisasi bagi masyarakat irigasi di Bali yang telah melembaga sejak berabad-abad yang lalu. Jika melihat dari pertanggalan Prasasti Pandak umur subak sudah hampir seribu tahun.

Dengan demikian kelestarian dan keandalan Subak dalam mengelola jaringan dan air telah teruji dan terbukti cukup efektif di wilayah Bali. Hal ini hanya dapat terjadi apabila di antara pengurus dan anggota subak telah terbentuk adanya ketertiban sosial berdasarkan suatu “nilai” yang dianut dan dipatuhi oleh pengurus dan anggota organisasi yang bersangkutan

Tri Hita Karana

Dalam pengelolaan subak terdapat nilai atau falsafah yang dianut oleh semua pengurus dan anggota subak yang disebut sebagai Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana ini secara singkat dapat dikatakan sebagai tiga hal yang menyebabkan manusia mencapai kesejahteraan, kebahagiaan, dan kedamaian. Tri Hita Karana mengajarkan pola hubungan yang seimbang antara ketiga sumber kesejahteraan dan kedamaian. Hal itu menjadi pesan untuk manusia agar selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan antara ketiga unsur yang terdiri dari:

1. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan (Parhayangan)
2. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia (Pawongan)
3. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam (Palemahan)

Subak sebagai lembaga yang dibentuk oleh manusia, juga mengikuti falsafah Tri Hita Karana tersebut.

Subak sebagai warisan Bali dan Dunia

Subak ditetapkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2012. Lanskap tersebut terdiri dari pedesaan dan sawah bertingkat di Bali dengan sistem subak, pura, dan candi.

Lanskap ini terbentuk dari organisasi pengolahan sawah yang disebut subak.  Sebuah manifestasi dari pelaksanaan filsafat Bali, Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam sekitar.

Upacara Adat Bali
(Sumber : Kebudayaan.mendikbud.go.id)

Lanskap kultur Bali dijadikan sebagai warisan dunia karena sudah ada sejak abad ke-12 yang memiliki konsep filosofi Tri Hita Karana. Hubungan antar air di candi yang mendukung manajemen air lanskap subak. Mengangkat keharmonisan hubungan antara alam dan spiritual, melalui sebuah ritual, dengan persembahan penampilan yang artistik.

Lingkup Subak menurut UNESCO

UNESCO menetapkan Subak sebagai warisan dunia yang mencakup  lima kawasan di Bali, yaitu Kawasan Pura Ulun Danu Batur (Bangli), Kawasan Danau Batur (Bangli), Kawasan subak daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan (Gianyar), Kawasan Subak Catur Angga Batukaru (Tabanan), Kawasan Pura Taman Ayun (Mengwi). Total luas keseluruhan tempat tersebut mencapai 20.974,70 hektar.

Subak sebagai salah satu warisan dunia menjadikan situs-situs yang berada di dalamnya menarik wisatawan untuk berkunjung dan menikmati keindahan sistem subak atau mendatangi pura-pura, candi ataupun tempat-tempat suci yang berada di dalamnya.

Di sana juga ada Museum Subak yang terletak di Tabanan, Bali. Museum ini menyajikan koleksi pertanian dan irigasi tradisional Bali. Uniknya museum ini dibuat sebelum subak dijadikan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2012 lalu.

Museum Subak (Sumber : www.id.baliglory.com)

Jika teman cerita mengunjungi daerah-daerah tersebut, kalian bisa memperhatikan lanskap budaya Bali yang sudah ditetapkan oleh UNESCO dan menikmati hasil karya manusia di masa lalu yang masih terjaga hingga saat ini.

Deddy Setiawan

Deddy Setiawan

Bercita-cita menjadi kaya dengan menulis.

Artikel Lainnya