Mengenal Tokoh Spiritual dalam Ajaran Buddha: Tathagatha

Teman cerita, apa kalian pernah mendengar istilah Tathagatha? Tathagatha sering dikaitkan dengan Buddha Gautama yang telah mencapai pencerahan. Namun, istilah Tathagatha ternyata memiliki makna yang lebih mendalam dari sekedar tokoh spiritual yang hadir dalam mengajarkan jalan pencerahan dharma.

Hadiwijono dalam Agama Hindu dan Buddha menyebutkan bahwa Siddharta Gautama membawa ajaran Buddha di dataran India. Ajaran ini kemudian menyebar luas ke luar India setelah ia wafat pada tahun 483 sebelum Masehi. Ajaran Buddha merupakan bagian filosofi hidup Siddharta Gautama yang telah berhasil memperoleh pencerahan. Bentuknya berupa dharmma yang mengandung inti pelepasan diri dari kesengsaraan (dukkha) karena terlahir kembali (samsara) untuk mencapai kebebasan dari siklus reinkarnasi dalam mencapai nirvāna.

Tathagatha dan Pemaknaan

Tathagatha dalam berbagai literatur merujuk pada Buddha dan perenungannya, sebagai tokoh yang telah mencapai jalan pencerahan dan terbebas dari lingkaran penderitaan (dukkha). Literatur lain menyebutkan bahwa Tathagatha merupakan pancaran/emanasi dari Adibuddha sebagai tokoh dengan kedudukan tertinggi, hadir sebagai awal tanpa asal yang ada karena dirinya sendiri dan timbul dari sunyata/kekosongan.

Dalam kuil-kuil agama Buddha, Tathagatha dapat ditemui dalam bentuk arca yang letaknya berada di dalam relung-relung atau ruang utama kuil serta dalam bentuk lukisan pada dinding. Umumnya terdapat lima Tathagatha yang disebut dengan Panca-Tathagatha. Masing-masing melambangkan lima skanda yakni tubuh (rȗpa), perasaan (wedanâ), pengamatan (samjnâ), kehendak (samskarâ), dan vijnâna.

tathagatha
Tathagatha dalam kuil Buddha (Dokumentasi pribadi)

Pemujaan Tathagatha di Indonesia

Di Indonesia, Tathagatha dikenal karena ajaran Buddha pernah berkembang pesat di Jawa dan Sumatera. Jejak pemujaannya masih dapat diamati dari tinggalan arca, baik arca lepas maupun arca yang masih ada dalam relung-relung percandian Buddha seperti pada stupa Borobudur, candi Bubrah, candi Ngawen, dan biaro di Padang Lawas.

Pemujaan Tathagatha pada candi Borobudur disampaikan oleh Prof. Noerhadi Magetsari dalam disertasinya “Pemujaan Tathagata di Jawa Tengah pada Abad Sembilan”. Beliau melihat sumber artefak seperti arca-arca pada relung candi Borobudur dan juga sumber tertulis bercorak Buddhis yakni Kitab Sang Hyang Kamahayanikan dalam bahasa Jawa Kuno serta Kitab Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana dalam bahasa Jawa Kuno serta Sanskerta.

Penempatan Tathagatha juga terlihat dari tinggalan arca di Candi Ngawen. Dari tata letak arcanya, diperkirakan masing-masing bangunan candi ditujukkan untuk para Tathagatha. Sementara, pada candi Bubrah tinggalan arca Tathagatha diletakkan pada relung masing-masing sisi bangunan candi di keempat arah mata angin.

tathagatha
Amitabha pada stambha di salah satu biaro di Padang Lawas (Sumber: Sukawati Susetyo)

Bentuk dan Rupa Penggambaran Tathagatha

Penggambaran Tathagatha lebih banyak sebagai sosok laki-laki yang tenang dan sedang duduk dalam sikap semadi atau bermeditasi. Sikap tersebut ditunjukkan dengan duduk dalam sikap vajrasana. Posisi kakinya bersila dengan telapak kaki terbuka ke atas, dan mata setengah terpejam menghadap ke arah hidung.

Tokohnya berambut ikal dan digelung melingkar yang disebut pradaksinavartakesa. Ia juga memiliki tonjolan pada kepalanya yang disebut usnisha dan memiliki daun telinga yang panjang. Pada dahinya terdapat tonjolan yang disebut urna. Ia digambarkan mengenakan jubah kependetaan yang menutupi tubuh dari leher sampai mata kaki. Namun, pada bagian pundak dan tangan kanan dibiarkan terbuka.

Pemaknaan masing-masing Tathagatha diperlihatkan dari sikap tangan (mudra) yang berbeda-beda. Pada beberapa percandian Buddha di Indonesia, Tathagatha dapat dengan mudah diamati berdasarkan penempatan arcanya sesuai arah mata angin. Masing-masing Tathagata tersebut antara lain:

tathagatha-aksobhya
Aksobhya (Sumber: Tropenmuseum)

Aksobhya. Ia ditempatkan di timur atau menghadap ke timur. Telapak tangan kiri terbuka di atas pangkuan paha (dhyana) sedangkan telapak tangan kanan berada di atas lutut kanan dengan posisi jari tangan menghadap ke bawah. Posisi tersebut disebut bhúmisparśamudrâ yang berarti memanggil bumi sebagai saksi.

tathagatha-Ratnasambhava
Ratnasambhava (Sumber: Tropenmuseum)

Ratnasambhava.  Ditempatkan di selatan atau menghadap ke selatan. Telapak tangan kiri terbuka di atas pangkuan paha, sedangkan telapak tangan kanan berada di atas lutut kanan dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas. Posisi yang demikian biasa disebut varamudrâ atau dalam kitab SHK disebut varadamudrâ yang bermakna mengajar/memberikan pengajaran, serta memberi anugerah.

tathagatha-Amitabha
Amitabha (Sumber: Tropenmuseum)

Amitabha ditempatkan di barat atau menghadap ke barat dengan sikap tangan dhyanamudrâ yakni telapak tangan kiri dan kanan berada di pangkuan paha dengan keadaan terbuka. Sikap tangan demikian sikap tangan pada saat bermeditasi.

tathagatha-Amoghasiddhi
Amoghasiddhi (Sumber: Tropenmuseum)

Amoghasiddhi ditempatkan di utara atau menghadap ke Utara dengan sikap tangan telapak tangan kiri terbuka di atas pangkuan paha. Telapak tangan kanannya menghadap ke depan dengan jari-jari ke arah atas. Posisi itu disebut abhayamudrâ yang memiliki makna menolak mara bahaya.

tathagatha-vairocana
Vairocana (Sumber: Tropenmuseum)

Vairocana ditempatkan di pusat dengan sikap tangan dharmacakramudrâ yang memiliki arti pemutaran roda dharma. Sikap tangan dalam posisi tangan kanan dan tangan kiri berada di depan dada, tangan kiri berada di bawah tangan kanan.

tathagatha-vitarkamudra
Vitarkamudra (Sumber: Tropenmuseum)

Pada stupa Borobudur ditemukan Tathagatha lain yang ditempatkan pada relung-relung di teras paling atas menghadap ke semua arah mata angin. Posisi tangannya yakni tangan telapak tangan kiri terbuka di atas pangkuan paha (dhyana) sedangkan tangan kanan dihadapkan ke depan dengan ujung ibu jari dan jari telunjuk bertemu sehingga membentuk lingkaran. Posisi yang demikian biasa disebut vitarkamudrâ.

Teman Cerita, itulah penjelasan mengenai Tathagatha, sosok Ghautama yang ditempatkan pada candi-candi bernapaskan ajaran Buddha. Kalau kalian ingin melihat sosok Tathagatha secara langsung, kalian bisa berkunjung langsung ke candi, misalnya ke Candi Borobudur atau Candi Bubrah. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, ya!

Baca juga: Inilah Ragam Jenis Kapal di Relief Candi Borobudur!

Referensi

  1. BP3 Jawa Tengah. Dewa-Dewi Masa Klasik. Jawa Tengah
  2. Hadiwijono, H. 2001. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
  3. Magetsari, N. 1997. Borobudur: Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya (Edisi Revisi dari Disertasi Yang Dipertahankan Tahun 1982 Yang Berjudul “Pemujaan Tathagata di Jawa Pada Abad Kesembilan. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  4. Kitab Sastra Suci Mahayana Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana dan Sang Hyang Kamahayanikan versi Indonesia diterjemahkan oleh Uphasaka Pandita Sumatijnana. 2003. Yayasan Bhumisambhara
  5. Snoddgrass, Adrian. 2007. The Symbolism of the Stupa. New Delhi: Motilal Banarsidass
Yohan Marshel

Yohan Marshel

Seorang lulusan arkeologi yang hidup untuk belajar mencintai masa lalu

Artikel Lainnya