Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia “Tahun ‘05”: Typo atau Sengaja?

Kembali ke dini hari 17 Agustus 76 tahun yang lalu, peristiwa penting bagi bangsa Indonesia telah terjadi di kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda. Dua tokoh besar bangsa, Soekarno-Hatta menyusun sebuah naskah sakral yang akan membebaskan Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Naskah tersebut yang kita kenal sebagai teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia disusun oleh Soekarno-Hatta dalam dua versi bentuk: versi tulisan tangan yang ditulis langsung oleh Soekarno, dan versi ketikan yang ditik oleh Sayuti Melik. Gambar dari kedua versi tersebut sudah seringkali kita jumpai dimanapun, khususnya dalam buku-buku sejarah, buku pelajaran sekolah, serta unggahan-unggahan media daring.

teks proklamasi kemerdekaan Indonesia
(sumber: kompasiana.com)

Baik versi tulisan tangan maupun ketikan, tidak ada perbedaan yang signifikan dari kalimat yang dituliskan. Hanya saja, dalam versi ketikan tidak ada lagi coretan revisi kata seperti yang terdapat pada versi tulisan tangan.

Namun demikian, tetap ada kejanggalan dalam penulisan tanggal. Tertulis tanggal pada teks proklamasi yaitu “17 – 8 – ‘05” meskipun tahun yang sebenarnya adalah tahun 1945. Apabila versi ketikan adalah versi yang telah disempurnakan, mengapa penulisan tanggal pernyataan proklamasi tidak direvisi menjadi “17 – 8 – ‘45”? Bukankah kita merdeka di tahun 1945 dan bukan tahun ‘05?

Baca juga: Meninjau Kembali Tujuan Jepang Memberikan Janji Kemerdekaan Kepada Indonesia Adalah Untuk?

Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Tahun 05: Siapa yang Typo?

Ternyata, tidak ada yang salah dalam penulisan tanggal di proklamasi. Tahun ‘05 yang dimaksud pada teks proklamasi merujuk pada tahun kalender Jimmu. Adapun tahun ‘05 sendiri bukanlah bentuk singkat dari bilangan tahun 1905, melainkan bentuk singkat dari bilangan tahun 2605.

Penggunaan kalender Jimmu di Indonesia memang lumrah pada masa itu. Hal ini karena Indonesia pada saat itu tunduk secara politik di bawah kekuasaan pemerintahan militer Jepang, yang menggunakan kalender Jimmu sebagai acuan tanggal resminya.

Kalender Jimmu, Kalender Kaisar Jepang

Kalender Jimmu mulai digunakan secara resmi di Jepang pada tanggal 1 Januari 1873, pada masa pemerintahan kaisar Meiji. Komponen kalender Jimmu tidak jauh berbeda dengan kalender Gregorian. Tanggal dan bulan yang digunakan sama dengan kalender Gregorian, yang membedakan hanyalah angka tahun yang digunakan.

Kaisar Jimmu (sumber: Japan.stripes.com)

Kalender Jimmu juga dikenal sebagai kalender Kaisar. Penggunaan istilah “Jimmu” mengacu pada nama kaisar Jepang, kaisar Jimmu yang naik tahta pada tahun 660 sebelum masehi. Maka dari itu, epoch dari kalender Jimmu dimulai 660 tahun lebih awal dari kalender Gregorian yang diakui secara universal.

Hal inilah yang menyebabkan adanya perbedaan tahun yang digunakan oleh bangsa Jepang (dan yang berada di bawah kekuasaannya), dengan bangsa-bangsa yang menggunakan kalender Gregorian. Termasuk salah satunya tanggal yang digunakan dalam teks proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Jika diketahui bahwa kalender Jimmu memiliki perbedaan sebesar 660 tahun dengan kalender Gregorian, maka tahun 2605 kalender Jimmu setara dengan tahun 1945 pada kalender Gregorian. Artinya, tidak ada yang salah dalam penulisan tanggal teks proklamasi, selama tanggal yang dimaksud dalam teks tersebut mengacu pada kalender kaisar Jepang.

Jadi, jangan tanya lagi deh “siapa yang typo?” dalam penulisan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semua sudah dipikirkan dan dituangkan dengan pertimbangan. Tinggal kita aja, nih, sebagai generasi penerus bangsa yang harus menjaga dan memaknai kesakralannya.

Baca juga: Melihat Kembali Apa Makna Peristiwa Rengasdengklok bagi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ide Nada

Ide Nada

Ide Nada adalah seorang lulusan arkeologi yang memiliki ketertarikan dengan langit dan kebudayaan

Artikel Lainnya