Telok Abang Palembang: Tradisi Warga Palembang Merayakan Kemerdekaan Indonesia

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-76! Tak terasa, ya, Teman Cerita, negara kita telah berumur 76 tahun. Semua daerah, dari Sabang sampai Merauke, merayakan tujuhbelasan dengan cara dan tradisinya masing-masing untuk menunjukkan kegembiraan terbebasnya negara kita dari belenggu penjajahan. Kali ini, Skala Cerita akan membawa Teman Cerita untuk berkenalan dengan salah satu perayaan tujuhbelasan unik yang hanya dapat ditemui di Kota Palembang, Sumatera Selatan, selama bulan kemerdekaan. Mari berkenalan dengan Telok Abang Palembang!

Apa Itu Telok Abang Palembang?

Telok Abang merupakan tradisi turun temurun yang sudah melekat dalam diri masyarakat dan hanya ditemukan di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Telok Abang berasal dari dua suku kata, telok berarti telur dan abang berarti merah. Telok abang sendiri bermakna telur putih yang cangkangnya diberi pewarna merah. Telur yang digunakan awalnya haruslah telur itik. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam pun bisa digunakan untuk menggantikan telur itik.

Telok Abang Palembang bermakna telur merah yang diletakkan di atas wadah yang unik. Macam-macam wadah sangatlah bervariasi. Tetapi, yang sangat umum kita temui adalah telok abang yang berbentuk kapal-kapalan, pesawat-pesawatan, dan mobil-mobilan yang di atasnya ada bendera merah putih lengkap dengan tiang benderanya, lho. Wadah umumnya terbuat dari bahan kayu gabus, sehingga apabila telok abang dimainkan di atas kolam air ia akan bisa mengambang dengan baik, bahkan mobil-mobilan telok abang pun bisa “berjalan” di atas air. Telok abang ini lebih berfungsi sebagai mainan yang ada telur di atasnya. Hihihi lucu bukan mainan yang satu ini, Teman Cerita?

telok abang palembang
Anak-anak dan Telok Abang Mereka

Jika dahulu banyak orang yang akan membuat sendiri wadahnya, sekarang wadah tersebut banyak dijual oleh penjual di pinggiran jalan-jalan di Kota Palembang selama bulan Agustus tiap tahunnya. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, melalui Dinas Pariwisata, bahkan memulai untuk mengagendakan telok abang ini menjadi acara besar tahunan di ibu kota provinsi. Pada tahun 2019, pemda berhasil menyelenggarakan kegiatan ini untuk pertama kali dengan tajuk Festival Kuliner dan Telok Abang. Hanya saja, pada tahun 2020 dan 2021, pemda tidak bisa kembali menyelenggarakan festival dikarenakan masih merebaknya COVID-19.

Asal Muasal dan Cara Bermain Telok Abang

Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya tradisi telok abang hadir dan menjadi kebudayaan di Palembang. Sumber paling kuat menyatakan bahwa tradisi ini ada sejak zaman penjajahan kololnial Hindia Belanda yang dipimpin oleh Ratu Wilhelmina. Ratu Wilhelmina adalah Ratu Belanda yang berkuasa mulai dari tahun 1890-1948. Pada saat itu, tradisi menaruh telur berwarna merah di atas mainan mulai dikenal. Hal ini merupakan bagian dari rangkaian acara untuk merayakan ulang tahun sang ratu yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.

Untuk memeriahkan ulang tahun ratu, berbagai permainan tradisional digelar di seluruh wilayah kekuasaan Hindia Belanda, tak terkecuali di Palembang. Orang-orang dewasa akan mengikuti lomba seperti panjat pinang dan perahu bidar yang bertempat di sepanjang Sungai Musi, sedangkan anak-anak akan menonton perlombaan tersebut dari kejauhan sembari bermain dengan telok abang yang mereka miliki. Tidak hanya bermain, tetapi juga mereka bisa menyantap telur merah tersebut, lho!

Makna Perayaan dari Tradisi Telok Abang Palembang

Tradisi Telok Abang Palembang memiliki makna yang mendalam bagi warga Palembang. Zain dan Mardiah dalam The Dynamic of Malay-Muslim Chinese Relation in Contemporary Palembang menyebutkan bahwa Telok Abang sendiri merupakan sebuah adaptasi dari budaya Tionghoa yang diserap oleh komunitas melayu-muslim Palembang.

Dalam tradisi Tionghoa, telur merupakan lambang dari penghidupan baru yang lahir dan warna merah melambangkan unsur tubuh manusia berupa darah. Biasanya, komunitas Tionghoa akan membuat telur berwarna merah ini untuk mengabari bahwa mereka baru saja dikaruniai bayi yang baru saja dilahirkan. Keluarga membagikan telur ke tetangga sekitar sebagai lambang berkah.

Warga lokal kemudian mengadopsi praktik ini dan memberikan makna baru kepada telur. Warna putih pada telur melambangkan kesucian dan warna merah melambangkan keberanian. Seiring berjalannya waktu, penginterpretasian telok abang sebagai lambang representasi dari bendera merah putih dari negara kita. Agar lebih menarik, telur diletakkan di atas wadah menarik yang bisa membuat anak-anak mau memakan telur rebus tersebut.

Bermain telok abang tentu membawa kenangan tersendiri bagi warga Palembang yang saat ini sudah beranjak dewasa. Bagi mereka, momen tujuhbelasan tak akan lengkap tanpa meminta orang tua mereka untuk membelikan telok abang dan memakan telur tersebut sembari menonton keseruan perayaan lomba tujuhbelasan. Calon Warisan Budaya Tak Benda yang akan diajukan oleh pemda ini merupakan bagian dari masa kecil tiap orang dewasa yang hidup di Palembang, tak peduli bagaimana latar belakang sosial mereka. Hingga sekarang eksistensinya tetap kokoh seperti tidak mau kalah oleh waktu, meski sudah berumur ratusan tahun lamanya.

Perayaan Tujuhbelasan Lainnya di Kota Palembang

Tidak hanya Telok Abang, Palembang punya banyak sekali acara dan festival untuk memeriahkan momen tujuhbelasan di tiap tahunnya. Perayaan lainnya adalah Tradisi Membuat Telok Ukan dan Festival Perahu Bidar. Jika Telok Abang adalah telur yang berwarna merah, maka Telok Ukan adalah telur yang berwarna putih. Lho, spesialnya apa?

Perbedaanya banyak, tetapi singkatnya Telok Ukan adalah jenis hidangan seperti kue sponge yang berada di dalam cangkang telur. Ini yang menjadikannya sangat berbeda dengan Telok Abang yang hanya telur dan diberi warna merah saja,

Kemudian, ada Festival Perahu Bidar. Jika Telok Abang merupakan telur yang diletakkan di atas mainan seperti kapal, kalau yang satu ini adalah festival yang menggunakan kapal air sungguhan. Ya, festival balap kapal ini biasanya bertempat di sungai-sungai yang ada di Kota Palembang. Sama seperti Telok Abang, baik Telok Ukan dan Festival Perahu Bidar merupakan kebudayaan lama Palembang yang juga sudah ada sejak zaman kolonialisasi Belanda, lho, dan hanya dapat ditemui di bulan Agustus saja. Sudah cukup berumur ya tradisi ini, teman?

Jadi, seperti itulah sedikit cerita dari tradisi membuat Telok Abang Palembang dan dua festival lainnya. Menarik bukan perayaan-perayaan tersebut? Meskipun semua acara dan festival belum dapat hadir kembali akibat COVID-19, semoga saja setelah pandemi ini berakhir Pemerintah Kota Palembang akan menyelenggarakannya kembali sehingga Teman Cerita bisa punya kesempatan untuk melihat langsung perayaan unik ini, ya!

Referensi

Novranto, Theodorus. 2017. Developing Telok Ukan (Modified Egg) To Enrich the Traditional Snack From Palembang. Final Report. Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya.

Zain, Zaki FS dan Anisatul Mardiah. 2019. The Dynamic of Malay-Muslim Chinese Relation in Contemporary Palembang. Dalam Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies, 5(1), 28-41

Agustin, Feni M. Terkenang Kisah Telok Abang, Herman Deru: Teloknyo Diambek Kakak Aku! IDN Times Sumsel Edisi 14 Agustus 2019
(link: https://sumsel.idntimes.com/news/sumsel/feny-agustin/terkenang-kisah-telok-abang-herman-deru-teloknyo-diambek-kakak-aku/4)

Rosadi, Dodi. Telok Abang, Mainan Khas Palembang Hanya Ada Saat 17 Agustus. Kumparan Edisi 3 Agustus 2021
(link: https://kumparan.com/dodirosadi007/telok-abang-mainan-khas-palembang-hanya-ada-saat-17-agustus-1wG9GIsEeb8/3)

Alexander Arifa

Alexander Arifa

Hanya seorang penulis suka-suka yang juga suka cerita. Ketertarikan dan minat dalam ranah arkeologi dan sejarah masa kolonial.

Artikel Lainnya