Tokoh Peneliti Prasasti: Perintis Penelitian Epigrafi Indonesia

Teman Cerita, sebelumnya kita sudah pernah membahas dari prasasti adalahprasasti jayapattra, hingga prasasti tertua yang ditemukan di Indonesia. Kali ini kita akan membahas mengenai tokoh peneliti prasasti paling awal di Indonesia.

Riwayat penelitian prasasti terbagi menjadi dua periode yaitu sebelum berdirinya Dinas Purbakala dan setelah berdirinya Dinas Purbakala. Tokoh-tokoh kali ini berasal sebelum terbentuknya Dinas Purbakala. Yuk, simak cerita selengkapnya!

Tokoh Peneliti Prasasti: Dari Raffles Sampai Cohen Stuart

Teman cerita, pada masa lalu perhatian terhadap benda purbakala masih sangat minim, meskipun sudah ada lembaga kebudayaannya yang bernama Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Sayangnya, lembaga ini masih sangat terikat jiwa dagang sehingga tidak bisa berjalan efektif. Baru saat Inggris mengambil alih Indonesia, timbul perhatian terhadap benda purbakala yang diawali oleh Raffles dan disusul oleh peneliti-peneliti lainnya.

Nah, berikut enam tokoh peneliti prasasti yang menjadi perintis epigrafi di Indonesia.

1.Thomas Stamford Raffles

tokoh-peneliti-prasasti-raffles
T. S. Raffles © The Trustees of the British Museum

Pertama ada Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (1781-1826). Dia adalah Letnan Gubernur Belanda yang memerintah selama lima tahun dari tahun 1811-1816.

Rasa penasarannya yang sangat besar terhadap kebudayaan Jawa berbuah dua jilid buku berjudul History of Java yang terbit pada 1817. Dalam bukunya, ia membahas perbandingan huruf, faksimile, perbandingan bahasa, dan usaha penerjemahan prasasti.

Selama menerjemahkan prasasti, ia dibantu Panembahan Sumenep. Menariknya, Panembahan Sumenep ternyata mendatangkan orang-orang Bali ke Madura untuk menerjemahkan prasasti berbahasa Kawi. 

Ia mengelompokkan prasasti menjadi empat kategori berdasarkan ciri-ciri huruf yang dipakai, yaitu: prasasti yang memakai aksara Dewanagari, prasasti yang aksaranya berhubungan dengan aksara Jawa yang dipakai di Jawa Barat, prasasti yang memakai aksara bukan Dewanagari dan Jawa, serta aksara Kawi atau Jawa Kuno.

Beberapa prasasti yang diulasnya antara lain Prasasti Berbek, Prasasti Hantang, Prasasti Batu Tulis, dan Prasasti Kawali.

2. C.J. van der Vlis

Kedua ada Christianus J. van der Vlis (1813-1842) yang merupakan ahli Jawa, linguistik, arkeolog, dan misionaris dari Belanda. Dia juga merupakan anggota dari Koninklijk Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

C. J. van der Vlis melakukan penelitian prasasti di percandian Sukuh dan Ceto pada 1842. Hasilnya diterbitkan dengan judul Proeve Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto. Dalam penyelidikannya, Ia menunjukkan kesalahan–kesalahan Raffles mengenai prasasti-prasasti yang telah ditelitinya karena terlalu mempercayai Panembahan Sumenep yang pengetahuan bahasa Kawinya jauh dari mencukupi. Namun, ia pun masih bergantung pada R. Ng. Ronggowarsito, sehingga tidak bisa meneliti kembali terjemahan yang diperolehnya.

3. R.H. Th. Friederich

Ketiga ada Rudolf Hermann Theodor Friederich (1817-1875). Ia adalah ahli bahasa Sanskerta dan bahasa Semit kelahiran Jerman. Ia datang ke Hindia Belanda pada 1844 sebagai seorang prajurit setelah belajar bahasa oriental di Berlin dan Bonn.

Tugas utamanya dalam Lembaga Kebudayaan adalah tentang soal-soal kesusastraan dan kepurbakalaan. Dalam bidang epigrafi, Ia telah menerbitkan delapan artikel yang tersebar dalam VBG dan TBG antara tahun 1850-1858. Salah satu prasasti yang dibahasnya adalah Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Kolengkak dalam tulisan berjudul “over de Inscriptie van Djamboe”.

Ia memperkenalkan sistematika penulisan prasasti yang kelak akan dipakai oleh H. Kern dan Cohen Stuart.

4. H. Kern

tokoh-peneliti-prasasti-h-kern
Hendrik Kern (Sumber: KITLV)

Keempat ada Johan Hendrik Caspar Kern (1833-1917). Ia adalah arkeolog dan filolog berkebangsaan Belanda yang memiliki pengetahuan dasar mengenai linguistik Indo-Eropa, filologi Sanskerta, dan Buddhologi. Fokus penelitian H. Kern adalah isu kolonisasi India pada Indonesia karena banyaknya pengaruh India pada Indonesia.

Hasil penyelidikan Kern tentang prasasti sejak tahun 1873-1913  terbit dalam Verspreide Geschriften jilid VI dan VII pada 1917. Ia membaca prasasti Pucangan dari masa Airlangga, prasasti Kota Kapur Sriwijaya, Prasasti Gajah Mada, Prasasti Bungur B dan lainnya.

Ada dua hal penting yang dikerjakan Kern yang nantinya berperan penting dalam penyelidikan epigrafi Indonesia yaitu mengenai kutukan dalam suatu prasasti (sapatha) serta usaha untuk mencari letak tempat-tempat yang disebutkan dalam prasasti. Dia juga yang melakukan usaha untuk menentukan usia candi Borobudur dari bentuk huruf-huruf yang ada pada candi tersebut.

5. K. F. Holle

tokoh-peneliti-prasasti-K-F-Holle
K.F. Holle (sumber:KITLV)

Karel Frederik Holle (1829-1896) adalah pria berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Kolonial. Setelah sepuluh tahun bekerja, ia pensiun dini dan membuka perkebunan teh di di Garut. Selain berkutat dengan usahanya, ia juga mendalami kebudayaan Sunda. Pada 1871, ia menjadi Penasihat Kehormatan untuk Urusan Pribumi (Adviseur Honorair voor Inlands Zaken).

Hasil penyelidikan prasastinya terbit dalam kurun waktu 1867-1882. Pada 1882, ia menerbitkan daftar abjad yang berjudul Tabel van Oud-en Nieuw-Indische Alphabetten. Daftar abjad ini digolongkan berdasarkan bentuknya, dan sampai saat ini masih berguna bagi pengetahuan epigrafi Indonesia.

Beberapa prasasti yang dibaca oleh Holle antara lain prasasti Geger Hanjuang, Prasasti Pasir Panjang, Prasasti Batu Tulis, dan lainnya.

6. A. B. Cohen Stuart

cohen-stuart
A.B. Cohen Stuart (sumber:KITLV)

Terakhir, ada Abraham Benjamin Cohen Stuart (1825-1876). Ia diperbantukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda di Surakarta sejak tahun 1847 untuk menerjemahkan peraturan Pemerintah ke dalam bahasa Jawa. Setelah itu, ia melakukan penelitian dan mendalami bahasa Kawi dari tahun 1851-1971.

Bersama J. J. Van Limburg Brouwer, ia mulai meneliti empat prasasti yang ada di Museum Nasional, yaitu Prasasti Wukiran (Pereng), Kandangan, Wayuku (Dieng) dan Kinewu. Hasil penelitiannya terbit tahun 1875 dengan judul Kawi Oorkonden in Facsimile yang berisi 30 buah prasasti dan sampai saat ini masih dipakai dalam penelitian epigrafi.

Dengan modal ketajamannya, Cohen mulai memeriksa dan meneliti kembali semua penerbitan tentang prasasti-prasasti. Ia lalu memulai usaha untuk memajukan pengetahuan Epigrafi Indonesia, diantaranya :

  1. Pembetulan terhadap penerbitan prasasti yang telah ada.
  2. Pendaftaran kembali prasasti-prasasti yang pernah ditemukan beserta daftar acuannya.
  3. Saran-saran untuk lebih teliti dalam mengungkapkan suatu fakta yang disebutkan dalam prasasti
  4. Usul untuk menerbitkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan secara menyeluruh

Tahun 1871, ia kembali ke Belanda untuk mengumpulkan prasasti. Tahun 1875, ia menerbitkan kitab kumpulan prasasti yang diterbitkan dalam dua macam, yaitu bentuk faksimile dan bentuk transkripsi dengan disertai kata pengantar seperlunya.

Teman Cerita, mereka adalah enam tokoh peneliti prasasti sebagai pembuka penelitian epigrafi di Indonesia. Berawal dari Raffles, dan diikuti oleh yang lainnya. Sungguh menarik, kan? Sampai jumpa di pembahasan mengenai prasasti selanjutnya. 

Baca Juga: Ali Akbar Arkeolog dari Indonesia 

Referensi

  1. Wibowo, A. S. (1977). Riwayat Penyelidikan Prasasti di Indonesia. History of Epigraphical Research in Indonesia. Satyawati Suleiman, et al.(eds.), 50, 1913-1963.
  2. Suhadi, M. (1993). Tanah Sima dalam Masyarakat Majapahit. Universitas Indonesia, Fakultas Pascasarjana
Asri Hayati Nufus

Asri Hayati Nufus

lazy like a sloth

Artikel Lainnya