Usmar Ismail Sang Pejuang Sinema

Usmar Ismail, seorang legenda perfilman Indonesia yang namanya akan terus disebut dalam dunia perfilman Indonesia. Usmar adalah seorang salah satu pahlawan Indonesia yang berjuang di bidang kesenian. 

Jika berbicara tentang pahlawan tentunya yang akan terbayang seorang yang gagah, menggunakan senjata atau seseorang yang berani untuk menumpas musuh – musuhnya. Nyatanya tidak semua pahlawan seperti itu, banyak diantaranya yang berasal dari orang yang biasa saja dan tidak mencolok sama sekali. Usmar sebagai pahlawan tentunya tidak mencolok tetapi namanya akan selalu terkenang.

Sepak Terjang

Usmar Ismail (Sumber: Wikipedia)
Usmar Ismail (Sumber: Wikipedia)

Pria kelahiran Bukittinggi ini terbilang cemerlang. Semasa remaja, Usmar Ismail aktif mengikuti kegiatan teater selama masa SMP dan SMA. Di sinilah minatnya dalam bidang kesenian terutama seni peran dan teater muncul. 

Perjalanan pendidikannya cukup mulus. Mula-mula ia bersekolah di HIS Batusangkar, lalu melanjutkan ke MULO di Simpang Haru, Padang, kemudian ke AMS di Yogyakarta. Lalu melanjutkan pendidikan sinematografi ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat. 

Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi wakil kepala bagian Drama di Pusat Kebudayaan. Di sinilah ia bersama kakaknya, Dr. Abu Hanifah, dan para seniman serta intelektual seperti Cornel Simanjuntak, mendirikan perkumpulan sandiwara “Maya”. Sesudah masa proklamasi ia pun menjadi wartawan di kantor Antara dan sempat ditangkap oleh Belanda karena dianggap melakukan kegiatan subversif.

Selama masa penangkapannya, Belanda menugaskan Usmar untuk untuk membuat film propaganda. Di sinilah minatnya pada film mulai muncul. Setelah keluar dari perusahaan film Belanda ia pun membangun perusahaan film sendiri bernama Perfini pada tahun 1950 dimana ia mulai membuat film – film produksi Indonesia.

Usmar Ismail dan Karyanya

Poster Lewat Djam Malam (Sumber: Wikipedia)
Poster Lewat Djam Malam (Sumber: Wikipedia)

Film pertamanya yang dibuat Usmar saat di Perfini berjudul Darah dan Doa (1950). FIlm ini mendapatkan kritik yang baik dari kritikus film international. Film ini juga menjadi penanda film Indonesia modern pertama dimana hari kemunculannya menjadi hari film nasional pada tanggal 30 maret. 

Setelah itu, ia membuat banyak karya lainnya seperti Enam Djam di Yogya (1951) Kafedo (1953), Krisis (1953), Lewat Djam Malam (1954), Tamu Agung (1955), Tiga Dara (1956), serta Asmara Dara (1958). Beberapa film ini mendapatkan beberapa penghargaan seperti Lewat Djam Malam mendapatkan Piala Citra kategori Film Terbaik (1955).

Baca juga: Lewat Djam Malam, Film Lawas Terbaik Persembahan dari Usmar Ismail

Usmar Ismail dan Warisannya

Usmar Ismail Hall, (Sumber: https://www.usmarismailhall.com/)
Usmar Ismail Hall, (Sumber: https://www.usmarismailhall.com/)

Berbagai karya dan penghargaan telah Usmar hadiahkan untuk Indonesia. Banyak filmnya yang masih menjadi referensi bagi para sutradara untuk membuat film. Nama Usmar Ismail diabadikan sebagai pusat perfilman Jakarta, yakni Pusat Perfilman H. Usmar Ismail dan juga sebagai sebuah ruang konser di Jakarta, yakni Usmar Ismail Hall, merupakan tempat pertunjukan opera, musik, dan teater, yang dinamai sesuai namanya.

Selain itu, beberapa filmnya telah direstorasi dan dimasukan ke dalam berbagai penayangan seperti film Lewat Djam Malam yang sudah di restorasi ke HD dan juga film Tiga Dara telah di remake sebanyak dua kali dengan judul Tiga Dara Mencari Cinta (1980) oleh Djun Saptohadi dan yang kedua disutradarai Nia Dinata dengan judul Ini Kisah Tiga Dara (2016).

Usmar sebagai pahlawan perfilman namanya akan selalu harum hingga nanti. Selain Usmar, karya-karya film Benyamin Sueb pun mengantarkan Benyamin Sueb dicap sebagai pahlawan perfilman juga, khususnya bagi masyarakat Betawi

Sampai jumpa lagi, teman cerita!

Sumber:

  • https://studioantelope.com/mengenal-usmar-ismail-bapak-perfilman-indonesia-dan-karyanya/
  • http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/usmar-ismail
  • http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Usmar_Ismail
  • https://tirto.id/usmar-ismail-dimusuhi-rekan-dikhianati-bangsa-sendiri-ep6A 
Ikhsan Kamil

Ikhsan Kamil

Mahasiswa komunikasi Unpad yang hobinya desain dan baca penelitian sejarah. Menulis karena mengikuti nasihat sang guru.

Artikel Lainnya